Showing posts with label simpus. Show all posts
Showing posts with label simpus. Show all posts

Wednesday, November 17, 2010

she's gone too

 

... irma belum pernah mendampingi orang sakratul maut tapi irma nggak pernah nyangka irma bakalan mendampingi seekor anak kucing melepas ajal ...

***


"irma !  Kiri kayaknya mati deh !"

irma terlompat dari tempat tidur mendengar teriakan Wahyudi pagi itu.  Hwaduuuhh ... pergi lagi deh satu anak kucing peninggalan Obie, kata irma dalam hati.  irma bergegas menghampiri Wahyudi di teras belakang.  Ia sedang berlutut di samping keranjang tempat Kiri dan Bianca tidur.

"Eh, kayaknya nggak deh.  Tuh masih napas," Wahyudi memegang Kiri.

Kiri tergolek lemah di dalam keranjangnya.  Beda banget sama Bianca yang melompat-lompat di samping Wahyudi, ribut mengeong-ngeong minta makan.    irma bergegas menyiapkan susu dan makanan kucing buat Kiri dan Bianca.

"Tapi buka mulut aja dia nggak mau," kata Wahyudi waktu irma kembali dari dapur dengan susu dan makanan kucing yang dilembutkan.

irma menatap Kiri dengan sedih.  Tadi malam ia masih mau makan.  Malah lahap sekali sampai jari irma yang menyendokinya tergigit olehnya.  Memang waktu kami pulang ia terlihat lemah.  Semula irma kira ia tidak bisa keluar dari keranjangnya.  Karena ia hanya diam bertumpu pada dinding keranjang, menatap irma dengan wajah memelas.  Tapi sewaktu irma bawakan susu dan makanan kucing yang dilembutkan, ia memanjat dinding keranjang dan menghampiri kami meminta makan.

"Duh, aku nyesel banget tadi pagi waktu Bianca bangunin aku cuek aja," sesal Wahyudi.  Subuh tadi kami memang mendengar Bianca ribut mengeong-ngeong.  Nggak terpikir oleh irma maupun Wahyudi kalau mungkin saja saat itu sebenarnya Bianca memberitahu kami tentang kondisi Kiri.  Bukan meminta makan seperti biasa.

"Aku lebih nyesel lagi," kata irma sambil menyuapi Bianca.  Wahyudi berusaha menyuapi Kiri.  "Kalau seandainya tadi malam aku nggak maksain ke rumah sakit, kan Kiri nggak bakalan telat dikasih makan dan minum.  Kayaknya seharian kemarin dia dehidrasi makanya sampai lemes begini."

"Kan kamu memang harus ke rumah sakit," ujar Wahyudi.
"Ya tapi kan bisa aja aku ke rumah sakit sendiri, nanti Yudi nyusul setelah ke rumah dulu kasih makan Kiri dan Bianca.  Biasanya juga begitu," irma bilang.

Wahyudi mengelus bahu irma.  "Udahlah, nggak usah menyesal begitu."

Kiri masih tidak mau membuka mulut.  Wahyudi memaksanya agar susu bisa masuk ke dalam mulutnya.  Hanya beberapa sendok saja.  Setelah itu mulutnya terkatup rapat.  Bahkan ketika kami menyodorinya makanan kucing yang dilembutkan, ia membuang muka.  Padahal biasanya ia suka sekali dengan makanan kucing itu.

"Ya udahlah, nggak usah dipaksa," kata irma.  "Mungkin perutnya sakit jadi dia males makan.  Kita kasih air gula aja biar ada tenaga."

irma kembali ke dapur untuk mengencerkan madu.  Air madu itu kemudian Wahyudi cekoki ke dalam mulut Kiri.  Setelah itu Kiri dibaringkan dalam keranjangnya.  Sementara Bianca tidur-tiduran di sampingnya.  Sesekali Bianca mengendus-endus kepala Kiri, seolah mengajaknya bermain.  Tapi Kiri terlalu lemah untuk meladeni candaannya.

Jadi ingat tadi malam waktu kami masukkan Kiri dan Bianca ke dalam keranjangnya setelah mereka makan dan minum susu, irma lihat Bianca duduk menempel di samping Kiri.  Satu kaki depannya melingkari leher Kiri seolah sedang memeluknya.  Tumben-tumbenan kali itu Bianca begitu tenang.  Biasanya dia gragas banget nggak bisa diam.  Ia hanya diam balas menatap irma waktu irma melongok ke dalam keranjangnya.  Satu kaki depannya tetap memeluk Kiri.  irma ingat Kiri pun berlaku begitu kepada Soklat waktu Soklat sakit.

Wahyudi mandi.  Hari ini ia memutuskan berangkat siang karena semalam kami baru sampai rumah jam satu malam.  Sedangkan irma memang hari ini direkomendasikan dokter untuk istirahat setelah tadi malam diobservasi di IGD selama hampir dua jam.

"Meeeeng ..."

Terdengar suara mengeong lemah dari dalam keranjang. 
irma bergegas ke sana.  Badan Kiri mengejang.  Matanya terbelalak.  Mulutnya membuka.  Napasnya tersengal-sengal.

"Huaaaaa ... kayaknya Kiri mau pergi !" seru irma kepada Wahyudi yang sedang di dalam kamar mandi.

Wahyudi entah menjawab apa.  Suaranya tenggelam di antara suara percikan air.

irma berlutut di samping keranjang Kiri.  "Kiri, kalau memang lebih baik kamu pergi, pergilah.  Kami ikhlas," irma membelai-belai kepala, badan hingga ekornya.  Mata irma berkejap menahan air mata tapi toh akhirnya pertahanan irma bobol juga. 
Air mata irma bercucuran.

"Meeeeeennggg ..." Kiri kembali mengeong lemah.  irma tetap membelai-belainya.  Kiri masih mengeong lemah beberapa kali hingga akhirnya irma lihat dadanya tidak lagi bergerak naik turun tanda ia bernapas.  Kiri telah pergi.  Kini ia bersama Fighter dan Soklat yang sudah lebih dulu pergi.

Keluar dari kamar mandi Wahyudi langsung menghampiri irma di teras belakang.  "Kiri udah pergi," kata irma tersendat-sendat.  "Tolong kuburin ya, masih sempat kan sebelum Yudi berangkat ke pabrik ?"

Wahyudi mengangguk.  irma masuk ke dalam rumah.  Mencuci tangan, ganti baju, lalu duduk diam di kamar.  irma nggak sanggup melihat Kiri dimakamkan.

Terdengar Bianca mengeong.  ”Apa Bi ?” tanya Wahyudi.  ”Kiri udah nggak ada.”  Sepertinya Bianca mengiringi Wahyudi makamkan Kiri di bawah pohon kedondong di halaman belakang.  irma dengar Wahyudi bercakap-cakap dengannya.

Huhuhu, sedihnya.  Teringat minggu lalu Kiri masih lincah melompat-lompat bersama Bianca.  Mereka berdua selalu berlomba adu cepat manjat kawat pintu belakang.  Hari Sabtu kemarin ia mulai makan makanan kucing yang dilembutkan.  Lahap sekali ia makan bahkan minta tambah.  Tapi irma nggak berani kasih banyak-banyak karena khawatir perutnya belum cukup kuat untuk mencerna makanan padat.  Makanya makanan kucing itu biarpun sudah berupa pasta masih irma tambah air lagi biar lebih lembut.  Dari dua jenis rasa yang diberikan irma perhatikan Kiri lebih suka yang rasa ikan kembung daripada ayam.

Ingat juga bulu Kiri selalu putih bersih.  Kalau makan atau minum Kiri memang lebih tenang daripada Bianca yang selalu gragas.  Makanya irma bilang Kiri itu necis.  Perlente.  Bahkan Wahyudi pun pernah berkomentar, “Kiri cantik ya.”

Dooh, sekarang si cantik yang necis dan perlente itu sudah tiada. 

 

 

… it’s been one month and half since you’re gone Kiri, but still I miss you …


 

 

 





 

Wednesday, September 29, 2010

she's gone

 

... akhirnya, Soklat tidak bertahan hidup ...

Tadi pagi kami temui badannya telah kaku.  Soklat, Soklat, akhirnya kamu menyusul Fighter juga.  Mungkin memang itu yang terbaik untukmu.  Maafkan kami tidak bisa mengasuhmu sebaik indukmu.  Semahal-mahalnya susu formula memang tidak ada yang bisa mengalahkan air susu ibu.

Padahal tadi malam kelihatannya Soklat makin membaik.  Ia sudah bisa mengangkat kepala sendiri.  Kaki depannya pun mencakar-cakar tiap kali Wahyudi menyendokinya susu, seolah-olah ingin turut memegang sendok.  Tapi siapa sangka sih, paginya kami temui ia telah pergi.

Kiri, sodaranya, seolah turut merasa sedih.  Pagi tadi dia muram saja.  Nggak seperti biasanya ribut mengeong-ngeong.  Dia duduk diam di sudut ambang pintu menatap irma dengan pandangan mata memelas.

"Kiri, Kiri, kamu sedih ya Soklat pergi ?" irma mengelus-elus kepalanya.  Kiri menyurukkan kepalanya makin dalam ke telapak tangan irma.

Kemarin-kemarin irma lihat Kiri selalu bersama Soklat.  Saat Soklat tergolek lemas, Kiri duduk menempel di sampingnya.  Satu kaki depannya mengitari leher Soklat, seolah-olah ia sedang memeluknya.  Tidur pun begitu.  Hingga tadi malam irma lihat Kiri tidur berdampingan dengan Soklat.  Kepalanya menempel pada kepala Soklat.  Satu kaki depannya memeluk leher Soklat.  Mungkin ia ingin memberi kekuatan pada Soklat.  Atau kehangatan.

"Memang kucing bisa merasa sedih juga ?" tanya Wahyudi.

Nggak tau.  Tapi irma merasa kucing tak ubahnya manusia juga.  Punya hati dan emosi.  Berarti punya perasaan juga kan ?

"Hmm ... iya mungkin juga sih," kata Wahyudi.  "Tapi yang jelas, kucing-kucing ini tau siapa yang sayang sama mereka.  Tiap kali kamu datang, mereka selalu menghampiri kamu ir.  Biarpun aku yang kasih mereka minum tapi mereka lebih suka main-main sama kamu daripada sama aku."

irma mengelus-elus Kiri dan Leader berganti-gantian.  Wahyudi bersiap-siap mengubur jenazah Soklat.  Kiri, Leader, semoga kalian tetap survive ya.  Soklat, may you rest in peace.

 

 

Tuesday, September 28, 2010

hari ini, Wahyudi bawa anak kucing ke tempat kerja ...

 

... karena Soklat - anak kucing di rumah - lagi sakit.

Kemarin sore waktu kami pulang dia tergolek lemah di teras belakang.  Lemeeeeesss banget.  Ngangkat kepala aja dia nggak bisa.  Wah, dehidrasi nih.  Soklat memang seharusnya masih menyusu sama induknya.  Tapi dua minggu yang lalu induknya menghilang, bareng dengan kucing-kucing lain di sekitar rumah.  Kayaknya ada yang sweeping kucing liar dan induknya Soklat terkena razia, hiks.

Sejak itu kami berdua mengasuh Soklat.  Dan kedua sodaranya Leader dan Kiri.  Sebenarnya ada satu lagi, si Fighter.  Tapi dia nggak bertahan lama.  Dua hari setelah induknya pergi dia wafat.  Sebaik-baiknya susu formula yang kami berikan kepadanya memang tidak ada yang bisa menandingi air susu ibu.

Leader dan Kiri tidak terlalu bermasalah dengan susu formula.  Mereka lahap sekali tiap kali kami menyendoki mulut-mulut kecil mereka dengan susu.  Malah seringkali minta tambah.  Yah, habisnya kami cuma berkesempatan memberi mereka minum di pagi dan malam saat kami di rumah.  Hanya waktu weekend kami bisa memberi mereka minum lebih sering.

Tapi Soklat, dia agak susah.  Baru dua sendok kecil susu masuk ke dalam perutnya, mulut sudah ia tutup.  Sepertinya pencernaan ia bermasalah.  Tipikal kucing liar, pasti aja mengidap cacingan.  Sekali waktu irma kasih obat cacing, langsung seharian itu berkali-kali cacing mati keluar dari anusnya.  Setelah itu dia mulai agak lahap meminum susu.  Tapi tetap aja nggak bisa banyak-banyak.  Nggak seperti kedua sodaranya. 

"Waduh, gimana nih ?  Kalau dibiarkan nanti Soklat menyusul Fighter," kata Wahyudi tadi pagi saat menyendoki Soklat.  Soklat memang tidak selemah tadi malam tapi tetap aja badannya lemes.

"Kubawa ke pabrik aja deh, nanti jam istirahat aku kasih susu lagi," ujar Wahyudi kemudian.

irma terbengong-bengong.  Nggak salah nih, bawa anak kucing ke tempat kerja ??  Kalau ibu pergi kerja bawa anaknya, itu sih biasa.  Beberapa teman kerja irma pernah bawa bayi mereka ke kantor karena di rumah nggak ada yang njagain.  Tapi bawa anak kucing ?? 

"Yah habis gimana, daripada nanti Soklat nggak selamat ?"

Hmm, iya juga sih.  irma lalu bantu Wahyudi menyiapkan keperluan Soklat.  Keranjang tempat ia tidur, alas tidur, susu, juga tissue untuk membersihkan dirinya setelah minum.  "Susunya harus disimpan dalam botol termos nggak, biar tetap hangat ?" tanya irma. 

"Nggak," jawab Wahyudi.  "Emangnya anak orang ??"

Huehehehe, kali-kali aja Wahyudi memperlakukan Soklat seperti anak orang.

Soklat ditidurkan dalam keranjang.  Kiri dan Leader memperhatikan saat kami membawa keranjang itu ke mobil.  Kedua anak kucing itu sempat berusaha melompat masuk ke dalam keranjang.  "Nggak boleh, kalian berdua kan nggak apa-apa.  Kali ini Soklat aja.  Kan Soklat lagi sakit," lembut Wahyudi mendorong mereka kembali ke teras belakang.

Sepanjang perjalanan Soklat mengeong-ngeong dari kursi belakang.  Mungkin ia merasa asing.  Atau mungkin juga ia turut menikmati lagu-lagunya Bon Jovi yang kami pasang.  "Bye Soklat," irma menjenguknya sebelum turun di jalan raya Cibubur - Cileungsi untuk menunggu bis.  "Cepat sembuh ya."

Lalu Wahyudi lanjut perjalanan ke pabrik di Pondok Ungu, Bekasi.

Satu jam kemudian irma dapat sms darinya.  "Udah di pabrik.  Soklat baik-baik aja.  Tadi dia minum susu lima sendok.  Sekarang dia di kolong mobil dalam keranjangnya.  Nanti waktu istirahat aku tengokin dan kasih susu lagi."

Pffff ... syukurlah.  Semoga Soklat makin membaik.

 

 

Thursday, September 2, 2010

melepaskanmu


irma, Mama, dan almarhum Papa adalah penyayang hewan.  Seringkali kami tak tega melihat kucing dan anjing yang terlantar.  Mama dan Papa sering merawat anak kucing dan anak anjing yang dibuang ke rumah kami.  Kalau irma, sering sekali bawa pulang anak kucing dan anak anjing yang ditemukan merana dalam perjalanan.  Anak kucing yang belekan matanya, anak anjing yang diikat batu di lehernya lalu dicemplungkan ke aliran air, anak kucing yang tercekik kantong plastik dan karet gelang, dan anak-anak kucing atau anjing yang disakiti lainnya. 

Pernah irma bertemu sekumpulan anak laki yang tertawa-tawa melihat anak anjing mendengking-dengking berusaha menyelamatkan diri dari tenggelam di kali kecil dekat rumah.  Di lehernya terpasang tali diberati batu.  Tiap kali anak anjing itu berusaha menepi, anak-anak lelaki itu malah mendorongnya ke tengah.  Waktu irma berteriak memarahi mereka, mereka malah balas berkata, "Teh, anjing itu haram !"  Trus, karena jilatan hidungnya dan bulunya yang basah itu merupakan najis maka jadi alasan untuk menyakitinya, begitu ???  Nggak baca Al Qur'an dengan benar ya ??  Anjing pernah menyelamatkan nabi kita.  Anjing pun bisa masuk surga.  Malah mungkin manusia yang suka menyakitinya justru akan masuk neraka.

Di rumah, anak kucing dan anak anjing yang disakiti itu kami rawat.  Dibersihkan badannya, diberi makan, susu, diobati lukanya, bahkan jika perlu dibawa ke dokter hewan.  Kami punya dokter hewan langganan dekat rumah.  Dari dia irma tau ciri-ciri hewan yang cacingan dan cara mengobatinya.  Umumnya anjing dan kucing yang berkeliaran liar di jalan mengidap cacingan.

Kadang luka yang diderita anak kucing atau anak anjing yang kami bawa pulang begitu parah hingga tak tertolong meski telah diobati dokter hewan.  Sedih rasanya.  Tapi lebih sedih lagi ketika anak kucing atau anak anjing itu telah sehat, gemuk, dan lucu, eeeehhhh diambil orang tanpa seizin kami.  Enak saja.  Dia tidak mau mengurusnya saat dekil dan sakit.  Mau enaknya saja saat sudah bersih dan cantik.

Ketika irma sedih kehilangan anak kucing atau anak anjing yang sudah lama kami pelihara, Papa biasanya menghibur dengan bilang, "Tugas kita merawat dia ketika sakit dan menyembuhkannya.  Sekarang dia udah sembuh.  Tugas kita udah selesai.  Sudah waktunya dia pergi.  Anggap aja kita perawat seperti Florence Nightingale."  Papa tau irma sangat terkesan dengan Florence Nightingale, the lady with the lamp.

Dan sekarang setelah bertahun-tahun tidak merasakan kehilangan seperti itu, irma mengalami lagi.

irma kehilangan Ucil. 

Dari tiga bersaudara - Ucil, Bellek, dan SongPut - tinggal dia yang bertahan.  Bellek mati kelindes.  SongPut hilang.  Tinggal Ucil sendirian.  Tebakan Wahyudi, SongPut diambil orang.  Karena dia putih, cantik, dan lucu.  Sedangkan Ucil loreng, dekil, dan matanya belekan.  Malah pernah matanya luka berdarah-darah seperti kena tusuk benda tajam.  Kayaknya dia abis diserang oleh kucing yang lebih besar.  Setiap hari irma dan Wahyudi membersihkan dan mengobati lukanya hingga matanya benar-benar sembuh.  Di hari Minggu yang cerah kami mandikan dia.  Setelah itu diberi tambahan susu.  Kalau sehari-hari ia cuma makan makanan kucing dan minum air keran.  Kami tidak pernah memberinya makanan sisa karena memang kami tidak pernah masak atau beli makanan berlebihan.

Lama kelamaan Ucil jadi makin sehat, gemuk, dan lucu menggemaskan.  Kaki-kakinya pendek berkaus kaki.  Bukan berarti dia pakai kaus kaki beneran sih.  Tapi karena keempat ujung kakinya berbulu putih jadi ia seperti pakai kaus kaki.  irma paling suka melihatnya jalan mengendap-endap di halaman depan.  Lalu tiba-tiba ia menerkam rumpun tanaman.  Kasihan, nggak ada SongPut lagi jadi dia main sendirian.  Kadang-kadang irma ajak dia main, becanda dengan tali yang diputar-putar di atas kepalanya.  Memanggil-manggilnya dengan panggilan berima, "Ucil kecil mungil dekil tengil."

Lalu Wahyudi akan menyambung, "Bangil, ekornya kayak buntil."
Hahaha, ekornya Ucil memang lucu.  Pendek bulat seperti ekor kelinci.

Udah beberapa hari ini Ucil nggak kelihatan.  Padahal tiap kali waktunya makan ia selalu berdiri di depan pintu di barisan paling depan.  Kadang-kadang ia meringkuk, merapat ke lantai untuk menghindari serangan kucing-kucing yang lebih besar.  Tapi udah beberapa hari ini tiap kali kasih makan kucing-kucing baik pagi maupun malam, Ucil nggak pernah ada.  Siang pun ia tak terlihat.  Padahal biasanya kalau hari panas begitu ia berteduh di teras atau carport.

Hingga tadi pagi saat melepas Wahyudi berangkat kerja, irma lihat Ucil berjalan di belakang seorang tetangga yang sedang berjalan-jalan pagi.  Ibu itu tinggal selang beberapa rumah dari rumah kami.

"Ucil, Ucil," panggil irma.

Ucil bergeming.  Ia tetap mengikuti ibu tetangga itu.  Lupakah ia pada irma ??

Ibu tetangga itu membungkuk.  Membelai Ucil, menggendongnya, lalu berjalan pulang ke rumahnya.  irma terperangah.  Setahu irma ibu itu bukan penggemar kucing.  Malah ia seringkali melarang anaknya main-main dengan kucing di rumah kami.  Tapi kok, sekarang malah kebalikannya ???

Air mata mengambang di pelupuk mata irma.  Ada rasa tidak rela dalam hati.  Teringat bagaimana kami merawatnya saat matanya sakit.  Memandikannya, memberinya makan.  Dulu sewaktu ia kotor dan dekil, nggak ada satupun tetangga yang mempedulikannya.  Sekarang setelah ia bersih dan sehat begitu, mereka mengambilnya dari kami.

Dan kata-kata Papa pun terngiang di telinga, "Tugas kita merawat dia ketika sakit dan menyembuhkannya.  Sekarang dia udah sembuh.  Tugas kita udah selesai.  Sudah waktunya dia pergi."

Kami ibarat orang tua dan kucing-kucing yang kami rawat tak ubahnya anak-anak.  Suatu saat anak-anak itu akan menjadi dewasa dan menentukan jalan hidupnya sendiri.  Tapi tetap saja irma merindukan saat membelai bulu-bulu halus sepanjang kepala dan punggungnya.

Ucil, aku kehilangan kamu.  Kuharap kamu baik-baik saja, sehat dan senang selalu di rumah yang baru.










Monday, July 12, 2010

Song Put - asli Depok, bukan dari Thailand

"Iiih, irma !  Itu ada mpus di jalan !"

Demikian seru Wahyudi tadi pagi waktu kita berangkat kerja lewat komplek sebelah.  Di tengah jalan dua ekor anak kucing sedang menyeberang.  Dooohhh ... irma takut mereka ketabrak !  Makanya irma lega banget waktu lihat mereka berhasil sampai ke seberang jalan dengan selamat.  Pffff ...

Dalam hati irma bertanya-tanya, ke mana induknya ya ?  Jangan-jangan mereka berdua dibuang orang.  Kasihan.  Masih kecil begitu.  Perkiraan irma usia mereka baru dua bulanan dan masih menyusu.

Kedua anak kucing itu berjalan beriring-iringan.  Yang putih di depan, yang loreng lari-lari kecil di belakangnya.

Jadi ingat ucil di rumah.

Di rumah tinggal 2 ucil.  Ucil Putih dan Ucil Loreng.  Karena udah besar sekarang mereka berdua suka jalan-jalan menjelajahi komplek.  Nggak berdiam di kolong mobil lagi.  Mereka juga punya tempat persembunyian baru.  Di pipa pralon pengalir air dari jalan ke saluran air.  Tempat itu memang tersembunyi banget.  Nggak terlihat oleh anak-anak yang suka menjahili mereka.  Tapi kalau hujan mereka harus pindah dari sana.

Ucil Putih tubuhnya lebih besar daripada Ucil Loreng.  Ia juga bertindak seperti pemimpin.  irma perhatikan kalau kedua ucil itu jalan-jalan, selalu Ucil Putih memimpin di depan.  Dia juga lebih galak daripada Ucil Loreng.  Kalau Ucil Loreng kelakuannya manja.  Dia suka meluk-meluk induk atau saudaranya.

Wahyudi bilang, Ucil Putih paling lama kalau lagi menyusu.  "Pantas, badannya gede gitu."  Tapi Wahyudi bilang juga dia paling cantik.  Bulunya selalu bersih.  Beda banget sama induknya yang dekil.  "Mungkin dia belajar dari neneknya," komentar Wahyudi.  Neneknya ucil adalah si Mpus.  Mpus tuh cantiiiiikkk sekali.  Wahyudi bilang lebih cantik Mpus daripada Shasha, kucing anggora himalaya peliharaannya Bu Lek Amin.  Shasha tampangnya jutek abizzz.  Cemberut mulu.

Akhir-akhir ini irma sering memanggil Ucil Putih dengan Ciput.  Kependekan dari Ucil Putih.  Wahyudi protes, "Badan gede gitu kok dibilang kecil ?"  Ternyata Wahyudi kira Ciput itu kependekan dari Kecil Putih.

"Dinamain Song Put aja," Wahyudi memberi usul.  "Song Put = Bongsor Putih."

Hahahahaha, Song Put.  Kesannya kayak nama orang Thailand.

 

 

 

 

Thursday, March 25, 2010

Yudi's little girls

 

Sejak sebulan yang lalu the Girls – sebutan irma untuk keempat anak si Mpus yang lebih besar yaitu Maggie, Charlie, Obie, dan Kelly – dibiasakan tinggal di halaman depan saat siang.  Wahyudi bilang biar mereka nggak kuper.  Lebih dari empat bulan mereka berdiam di halaman belakang aja.  Nggak ada kucing lain yang mereka kenal selain ibunya.

 

Pertama kali dikeluarkan mereka panik.  Berulang kali mereka berlari ke pintu berusaha masuk.  Obie malah memanjat pintu teralis.  Heeee … percuma.  Di atas pintu samping ini nggak ada lubang ventilasi seperti di pintu belakang.  Jadi dia nggak bisa masuk ke dalam rumah.  Putus asa Obie turun lagi.

 

Lebih panik lagi saat datang kucing lain.  Mereka pada ketakutan.  Waktu Loreng – salah satu kucing jantan yang suka ke rumah – datang dan mengendus-endus, mereka berempat langsung melompat ke atas motor.  Sempit-sempitan berempat duduk di atas jok.

 

Celakanya, Loreng justru tertarik pada mereka.  Ya namanya juga pejantan.  Nggak bisa lihat betina dianggurin.  Apalagi yang ini masih pada polos belum kenal laki-laki.  Berulang kali Loreng berusaha mendekati mereka. 

 

“Shuh !  Shuh !” Yudi mengibaskan tangan mengusir Loreng.

 

Loreng pergi.  Tapi cuma sebentar.  Nggak berapa lama dia balik lagi.  Mengendap-endap mendekati teras.  Wahyudi mengusirnya lagi.  Loreng pergi lagi.  Terus kembali lagi.  Wahyudi usir lagi.  Terus seperti itu berulang-ulang.

 

Sekali waktu Loreng berhasil menangkap Obie.  Tengkuk Obie digigitnya.  Ia bersiap menaiki Obie.

 

“Whoiii … !  Sana !” Wahyudi yang sedang memotong rumput halaman depan berlari-lari ke carport.  Karena Loreng tidak juga mau melepas Obie Wahyudi lalu melemparinya dengan sandal.  Baru Loreng pergi terbirit-birit.

 

“Dasar, pemangsa ABG !” Wahyudi meneriaki Loreng.  Loreng balas menatapnya dengan wajah cemberut.

 

Eh, ternyata justru kemudian Obie yang mendekati Loreng.  irma dan Wahyudi sempat kehilangan dia.  Waktu kita cari-cari ternyata dia sedang duduk berdua dengan Loreng di kolong mobil tetangga rumah sebelah. 

 

“Obie, sini !  Nanti kamu dikawinin Loreng lho,” Wahyudi memanggil.

 

Yang terjadi adalah Loreng pergi (kayaknya dia takut dilemparin sandal lagi oleh Wahyudi) diikuti Obie.  Hwaduh, gawat nih.  Obie malah terpikat padanya.  Wahyudi lalu mengejar Obie.  Setelah dapat ia gendong Obie ke rumah.

 

“Kok kamu maunya sama Loreng sihh ?  Babe-babe begitu.  Nihh, kamu sama Bonto aja.  Umurnya nggak jauh beda sama kamu,” Wahyudi membelai-belai Obie.  Bonto adalah kucing rumah tetangga yang paling ujung.  Warnanya putih belang kuning.  Ekornya pendek bulat seperti kelinci.  Anaknya si Mpus juga sih.  Jadi abangnya the Girls gitu. 

 

Irma geli melihat kelakukan Wahyudi.  “Kamu serasa punya anak perempuan aja.  Milih-milih calon suaminya.”

 

Jawab Wahyudi, “He eh, ini kali ya rasanya jadi orang tua dari anak perempuan.”

 

Karena hari mulai gelap the girls kami masukkan lagi ke halaman belakang.  Di sana sudah kami siapkan makanannya.  Tapi Obie tidak selera makan.  Dia bolak-balik ke depan pintu dengan gelisah.  Tiap kali terdengar pintu ke halaman depan terbuka ia berusaha mencari celah keluar.  Beberapa kali Wahyudi mengejar-ngejarnya. 

 

Setelah berulang-ulang mengejar, tangkap dan menyelamatkan Obie dari Loreng, Wahyudi pun kesal.  “Irmaaaa … kucing-kucing itu disterilisasi aja deh.  Kayaknya mereka mulai tertarik cowok.  Gawat kalau nanti mereka kawin dan punya anak.  Makin banyak aja kucing di rumah kita.”

 

Hahahahaha, akhirnya ia menyerah juga.  Padahal dulu ia paling anti sterilisasi kucing.

 

 

 

(little) cat rescue

 

Tadi malam hujan dalam perjalanan pulang kerja tiba-tiba turun menderas saat irma tinggal beberapa langkah lagi dari rumah.  Irma segera berlari.  Si Mpus menyambut irma di teras depan.  Ia mengeong-ngeong gelisah.  Baru irma perhatikan anaknya cuma ada dua yang bersamanya.  Ke mana Hachi yang satu lagi ?

 

Baru kemudian irma dengar suara kucing kecil mengeong panik.  Arahnya dari saluran air depan rumah.  Irma pun berjalan ke sana.

 

“Meong !  Meong !”

 

Sepasang kaki depan Hachi bertumpu pada dinding saluran air.  Ia berusaha memanjat keluar tapi dinding itu terlalu tinggi.  Kaki-kaki belakangnya belepotan lumpur.  Badannya mulai basah.  Sepertinya ia baru saja kecebur masuk saluran air tersebut.

 

Irma melompat masuk ke dalam saluran air.  Hachi yang ini tidak melawan ataupun hachi-hachi saat irma memegangnya.  Ia lalu irma bawa masuk ke dalam rumah.  Si Mpus berlari mengekor di belakang irma.  Di dalam rumah si Hachi irma keringkan dengan keset handuk.

 

Kemudian irma berlari keluar rumah lagi untuk mengambil kedua Hachi yang lain.  Hujan deras sekali.  Mereka bisa basah kuyup.  Tapi irma hanya temukan satu Hachi di teras depan.  Ia merapat ke dinding berusaha menghindari percikan air hujan.  Hei, percuma Bung !  Hujan ini deras kali !  irma lalu membawa Hachi ini ke dalam dan bergabung dengan si Mpus dan Hachi yang abis kecebur got.  Seperti biasa ia hachi-hachi saat irma akan memegangnya.  Tapi saat irma menenteng tengkuknya ia pun tak bisa apa-apa.

 

Mana Hachi satu lagi ?

 

Irma mencari-cari ke sudut halaman di bawah jendela kamar depan.  Tadi malam satu Hachi tidur di sana sementara yang dua lagi tidur dengan si Mpus di teras depan.  Sudut di bawah jendela ini memang lebih terlindungi dari hujan dan panas.  Tapi terlalu dekat dengan rumah sebelah makanya dulu kami pernah diprotes tetangga karena si Mpus dan anak-anaknya berdiam disana.

 

Tidak ada Hachi di sudut itu.  Irma cari-cari ke penjuru halaman lain.  Tadi dia ada kok.  Apa dia juga jatuh ke saluran air ?  irma menyibak rumpun tanaman di tepi teras depan.  Kemarin irma lihat ketiga Hachi ini bersembunyi di sana saat ibu mereka tidak ada.

 

Nggak ada.

 

Bingung irma berdiri di tengah halaman.  Curah hujan irma abaikan.  Padahal irma nggak pakai payung, topi atau pelindung air lainnya.  Badan irma pun basah.  Sama seperti Hachi yang kecebur got tadi.

 

Baru kemudian irma lihat si Hachi yang irma cari-cari itu.  Ia mengintip dari rumpun tanaman warna ungu di tepian carport.  Dalam hati irma kagum akan kepintarannya mencari tempat persembunyian.  Rumpun ungu ini memang lebih rapat dan rimbun daripada rumpun hijau bunga-bunga putih di sepanjang teras.  Tapi di tengah hujan deras ini tetap saja tidak bisa melindungi ia dari basah.

 

Ketiga Hachi dan ibunya sudah di dalam rumah.  Irma membuka pintu belakang.  Keempat anak si Mpus yang lebih tua menyerbu masuk.  Badan mereka juga basah kena air hujan.  Begitu sampai di dalam rumah badan mereka menegang dan bulu-bulunya berdiri.

 

Mereka masih belum bisa menerima kehadiran Hachi pangkat tiga.

 

Oh sudahlah, kata irma dalam hati.  Aku sedang tidak mau membujuk-bujuk mereka agar bersikap manis pada adik-adiknya.  Irma lalu menyiapkan makanan untuk si Mpus dan keempat anaknya yang lebih besar.

 

Entah merajuk atau protes akan kehadiran Hachi bertiga, keempat anak si Mpus itu tidak mau menyentuh makanan dan susu yang irma sediakan.  Walhasil jadilah si Mpus puas-puas makan dan minum susu.  Jatah untuk lima ekor kucing dia nikmati sendiri.

 

Irma telpon Wahyudi.  Ia masih di pabrik.  Irma cerita satu Hachi kecebur got.  Sekarang Hachi bertiga di dalam rumah sama Mpus dan kakak-kakaknya.  Tapi keempat kakak mereka tidak mau menerima mereka.  Bahkan disediain makanan pun dicuekin.  “Biarin aja,” Wahyudi bilang.  “Paling juga nanti kalau lapar mereka akan makan.  Si Hachi yang tiga itu taruh aja di dalam keranjang baju kotor.  Ada satu keranjang yang kosong.  Nanti kalau aku udah di rumah aku urus kucing-kucing yang lain.”

 

Selesai menelpon Wahyudi irma lalu menyiapkan keranjang baju kotor yang Yudi maksud.  Tapi cuma ada satu Hachi yang terlihat, berdiri menempel di badan ibunya yang sedang minum susu.  Hachi itu irma masukkan ke dalam keranjang.  Mana yang dua lagi ?

 

Yang jelas mereka nggak bakalan bersama keempat kakaknya.  Irma cari ke penjuru rumah.  Sampai membungkuk-bungkuk memeriksa setiap kolong meja dan lemari.  Nihil.  Irma pun berpikir, kira-kira di mana mereka bersembunyi  ya ?  Pasti di tempat yang nyempil sulit dijangkau.

 

Irma mengintip ke celah antara rak buku dengan dinding.  Haa !  Di situ mereka !  Ngejogrog berdua merapat pada papan setrika.  Mereka pikir mereka tidak terlihat.  Dengan gagang sapu irma mendorong mereka keluar.  “Sorry, I have to do this,” kata irma.  Dih, emang mereka ngerti bahasa Inggris ?  Lha tiap kali disapa jawabannya, “Shaahhh … shaahhh …” mulu.

 

Ketiga Hachi sudah aman dalam keranjang.  Irma berpaling kepada keempat anak Mpus yang lebih besar.  Mereka berkumpul di bawah meja makan.  “Jadi kalian nggak mau makan nih ?” irma bertolak pinggang kepada Maggie, Charlie, Obie, dan Kelly.  Mereka berempat memandang irma dengan wajah cemberut.  “Oke.  Terserah.  Lapar kalian tanggung sendiri ya.”  Lalu irma mandi.

 

Setelah mandi irma menyiapkan makan malam.  Baru irma perhatikan si Mpus jalan bolak-balik gelisah di depan pintu.  “Kenapa Mpus ?” tanya irma.  Mpus tidak menjawab.  Matanya menatap tajam ke pintu.

 

Ada apa sih ?  irma mendekati si Mpus.  Kemudian irma dengar suara kucing kecil, tinggi melengking dan mengeong-ngeong panik.  Ini kucing yang mana lagi nih ??

 

Irma membuka pintu teras samping.  Di luar hujan masih deras turun.  Mpus berlari menerobos hujan.  Ia menuju saluran air depan rumah sebelah.  Irma mengikutinya.

 

Dari rumah kosong di sebelah suara kucing kecil itu makin jelas terdengar.  Tapi irma tidak tau di mana sumbernya.  Irma lalu kembali ke rumah untuk mengambil jaket dan lampu darurat.  Kemudian balik lagi ke rumah sebelah.

 

Si Mpus tengah berdiri di tepi saluran air depan rumah sebelah.  Ia melihat ke arah bawah.  Ekornya berkibas-kibas.  Irma menyorotkan cahaya lampu darurat ke sana.  Tampaklah di sana, di dasar saluran air, seekor anak kucing berdiri mencengkram dinding saluran.  Sama seperti Hachi yang kecebur got tadi kucing kecil ini juga berusaha memanjat keluar tapi dinding itu terlalu tinggi untuknya.  Badannya menggeletar  basah kuyup.  Tampangnya memelas sekali.  Entah sudah berapa lama ia di sana.  Kuku-kukunya menancap dalam ke dinding.  Irma agak kesulitan melepaskan ia dari sana.

 

Diiringi bunyi “Meong !” keras dari mulutnya irma berhasil mengeluarkan ia dari saluran air.  “Ayo Mpus, pulang !” seru irma di antara deras hujan.  Berlari-lari kecil si Mpus mengiringi irma ke rumah.  Di dalam rumah kucing kecil itu irma keringkan pakai keset handuk.  Baru irma perhatikan warnanya putih belang hitam.  Ekornya panjang.  Sepertinya ia seumuran dengan Hachi bertiga.  Ini anaknya Mpus juga bukan ya ?

 

Kucing kecil itu merapatkan badannya ke irma mencari kehangatan.  Irma lalu mendekatkan ia pada si Mpus.  Mpus menjilat-jilat badannya.  Si kucing kecil berusaha menyusu kepadanya.  Tapi sepertinya si Mpus sedang enggan menyusui.  Ia tidak mau duduk.  Akhirnya kucing kecil ini irma masukkan dalam keranjang, bergabung dengan Hachi bertiga.  Harap-harap cemas juga karena khawatir jangan-jangan mereka tidak mau menerima kehadirannya.  Tapi justru mereka bertiga menjilat-jilat kucing kecil ini.

 

irma mencuci tangan.  Lalu lanjut menyiapkan makan malam.  Keempat anak si Mpus yang lebih besar menemani irma di dapur.  Tiga Hachi plus satu anak kucing lagi ada dalam keranjang di ruang tamu.  Si Mpus santai tiduran di tengah rumah.  Dih, kok serasa dia yang jadi nyonya rumah ya ?  sementara aku malah jadi bedindenya.

 

 

 

Hachi pangkat 3

 

“Meong !”

 

Irma lagi asik internetan Senin sore itu waktu terdengar kucing kecil mengeong.  Heh, suara dari mana tuh ?  irma beranjak ke teras samping.  Waaaa … ada dua ekor anak kucing di sana.  Warna putih belang hitam dengan ekor pendek membulat seperti ekor kelinci.

 

Siapa taruh anak kucing di sini nihhh ??

 

Baru kemudian irma lihat si Mpus tiduran di samping Joy, motornya Wahyudi.  Melihat sikapnya santai begitu irma tebak kedua anak kucing itu adalah anaknya.  Karena kalau bukan anaknya tentu dia akan pasang sikap bermusuhan.  Keempat anaknya yang lain – Maggie, Charlie, Kelly, dan Obie – bulu-bulunya pada tegang berdiri dan kuku-kuku kaki mereka dikeluarkan.  Dengan wajah bermusuhan mereka menggeram kepada kedua anak kucing itu.

 

Gimana sihh, itu kan adik-adik kalian ??

 

Ternyata kedua anak kucing tersebut tidak takut atau mundur ditakuti-takuti begitu.  Bulu-bulu mereka juga berdiri dan kuku-kuku kaki keluar siap mencakar.  Lalu tiba-tiba saja salah satu dari kedua anak kucing itu melompat ke arah kucing yang lebih besar sambil mengeluarkan suara, “Shaaahh … shaaahhh !”  Mulutnya menyeringai mengancam.  Tunjukkan gigi-gigi kecilnya yang runcing.  Hebat.  Kecil-kecil gitu berani melawan yang lebih besar.  Justru kucing-kucing yang lebih besar tunggang langgang melompat ke atas jok motor menyelamatkan diri.

 

Waktu Wahyudi pulang dari bengkel sepeda irma cerita tentang kedua anak kucing itu.  “Di mana mereka sekarang ?” tanyanya.  Irma ajak ia ke teras samping dan tunjukkan kedua anak kucing tersebut.  Oh ternyata bukan dua tapi TIGA !  Anak kucing yang ketiga warnanya juga putih belang hitam tapi ekornya lebih panjang.  Ujung ekornya juga membulat seperti ekor kelinci.

 

Wahyudi menggaruk-garuk kepala.  “Ini sih si Mpus yang bawa ke sini nihh,” ia menunjuk si Mpus yang masih tiduran di samping Joy.  Dulu si Mpus memindahkan keempat anaknya ke rumah kami.  Tapi waktu itu anak-anaknya tersebut masih keciiiil sekali.  Matanya belum bisa melihat sempurna.  Sedangkan ketiga anak kucing ini lebih besar.  Perkiraan mereka usia mereka udah lebih dari empat minggu karena jalannya nggak terlalu sempoyongan tanda baru belajar jalan.  Tapi sepertinya mereka belum pernah ketemu manusia karena waktu irma mau menyentuh mereka, mereka pun pasang kuda-kuda siap menyerang.  “Shahhh … shahhh,” begitu mereka keluarkan suara seraya menunjukkan gigi-gigi runcing.

 

“Hei, kamu tuh bersin atau takut sih ?” Wahyudi membungkuk memperhatikan ketiga anak kucing itu.  “Kok hachi hachi begitu.”

 

Karena kebiasaan mereka hachi hachi begitu maka kami memanggil ketiga anak kucing itu Hachi.  Hachiro, Hachimaru, Hachimin.  Tapi terus terang kami tidak tau mana yang Hachiro, Hachimaru, dan Hachimin karena ketiga kucing itu tampangnya sama semua.  Ciri yang membedakan cuma satu dari mereka ekornya lebih panjang.   Tapi untuk melihat ekornya harus berjuang melawan seringai dan cakar-cakar mereka dulu.  Hih, ribet banget deh.

 

Tapi bagusnya kebiasaan hachi hachi itu membuat mereka lebih waspada terhadap manusia.  Mungkin itu naluri mereka, bagian dari survival.  Penting tuh, karena banyak penghuni komplek yang nggak suka sama kucing.  Salah satunya adalah tetangga rumah sebelah kami.

 

The Hachis will survive.  I know they will. 

 

 

 

paniknya Yudi

 

Pernah nonton film “Marley and Me” ?

 

Di film itu ada satu adegan Jenny menelpon John, suaminya, dan dengan sedih berkata, “… aku tidak bisa membuatnya masuk ke dalam rumah …”  Yang Jenny maksud adalah Marley – anjing mereka – seharian itu hanya tiduran saja di bawah pohon di halaman rumah.  Bahkan diumpan dengan kesukaannya pun Marley tetap tidak bergerak.  Jenny khawatir sesuatu yang salah terjadi pada Marley.

 

Tak disangka-sangka irma mengalami kejadian yang mirip adegan tersebut.

 

Waktu itu irma lagi audit di luar kota.  Tiba-tiba Wahyudi telpon.  “Irma, si Mpus di atap rumah nggak mau turun-turun.”  Suaranya terdengar panik dan khawatir.

 

Di atap rumah ?

 

“Iya.  Dari kemarin dia di situuu aja.  Aku panggil-panggil nggak mau turun.  Aku bikinin susu juga dia tetap aja di sana.  Padahal kan dia suka sekali minum susu,” cerita Wahyudi.  “Aku pasangin tangga maksudnya biar dia turun, eh malah Obie (anaknya Mpus) yang naik ikutan dia ke atas.”

 

Irma mengingat-ingat kelakuan si Mpus saat terakhir irma ketemu dengannya.  Rasanya nggak ada yang aneh selain perutnya semakin besar karena dia sedang hamil lagi (heran deh, hamil mulu.  hamil kok ya jadi profesi).  “Sekarang dia masih di atas ?” tanya irma.

 

“Masih,” jawab Wahyudi.  Hari itu Wahyudi libur karena jadwal pabriknya mati listrik.  Jadi seharian dia di rumah aja merumput sambil main-main dengan anak-anaknya si Mpus.

 

“Mungkin si Mpus udah mau melahirkan,” irma bilang.  “Kucing itu kalau bersalin maunya di tempat yang gelap dan tersembunyi.  Dia nggak mau dilihat orang.  Atau kucing lain.”

 

“Oh, gitu ya ?”

“Iya Yudiiii … aku kan udah ngalamin beberapa kali punya kucing hamil tau-tau perutnya dah kempes .  Ternyata anaknya udah lahir di manaaa gitu.  Nanti anaknya dia bawa ke rumah abis gitu baru aku sediain tempat.”

“Oh jadi si Mpus itu nggak apa-apa ?”

“Nggak.  Nanti juga dia bakalan turun sendiri.”

 

Malamnya waktu udah kembali ke hotel irma telpon Wahyudi.  “Si Mpus gimana ?  Dah turun ?”

“Belum.  Masih di atas.  Jadi tadi aku taruh makanan dia di sana.”

“Oh ya udah.  Biarinin aja dia di sana.  Mungkin dia lagi kepengen sendiri.”

“Tapi tangganya aku lepas.  Abisnya si Obie manjat ke situ terus.  Tadi malah Kelly juga mau ikutan.”

“Iya nggak apa-apa.  Si Mpus bisa turun sendiri kok.”

 

Kami bercakap-cakap hal lain kemudian.  Sebelum mengakhiri pembicaraan di telpon Yudi bilang sebelum tidur nanti dia mau ngecek si Mpus lagi di atas.  Mana tau makanannya habis atau mungkin juga anaknya udah lahir.

 

Hiyyyaaaa … ditongkrongin terus-terusan gitu mah nanti si Mpus nya nggak bakalan jadi beranak-beranak atuh !