Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Friday, October 16, 2009

weekend@tidung

 

Sabtu pagi tanggal 3 Oktober 2009 lalu irma dan Wahyudi berangkat dari rumah di Cibubur menuju pelabuhan Muara Angke.  Kami mau ikutan trip ke Pulau Tidung yang diadakan Mas Teguh cs dari Penulis Pengelana.  Meski Mas Teguh kasih informasi angkutan umum menuju Muara Angke namun demi kepraktisan kami memilih naik taksi.  Yaelah, ternyata supir taksinya nggak tau jalan !  Dia malah membelokkan mobil ke arah Sunda Kelapa.  ”Bapak sebenarnya tau nggak sih Muara Angke itu di mana ?” kesal Wahyudi menegurnya.  Weitttsss, sabar Om Bewok, sabar.  Pagi-pagi gini dah bete, bisa rusak mood seharian nanti.

 

Akhirnya sampai juga kami di Muara Angke.  Terlihat banyak yang mau nyeberang menuju Kepulauan Seribu.  irma celingak-celinguk mencari tanda-tanda sekumpulan traveler writer.  Kalau Adep bikin acara kan dia selalu membentangkan spanduk Batmus ya, jadi mudah dikenali.  Tapi untuk komunitas Penulis Pengelana ini irma belum tau bagaimana identitas mereka.

 

”Irma,” seseorang berkaus kuning ngejreng menyapa.  Hai, Opang !  Tumben kali ini dia menyapa irma dengan nama yang benar.  Biasanya kan dia panggil irma ”Eskrim”, hihihi.  Setelah bersalaman Opang lalu menunjukkan kapal yang akan mengantar kami ke Pulau Tidung.  irma dan Wahyudi bergegas masuk ke dalamnya.

 

”Rombongannya Opang ya ?” tanya seorang ibu berkerudung saat kami udah di dalam kapal.  Iya.  Kami pun berkenalan.  Ibu tersebut akrab disapa Mama Reny.  Mama Reny lalu mengajak kami duduk di sebelahnya.  ”Pegang nih satu,” ia menepuk life jacket warna jingga menyala di hadapannya.  Yak betul, kalau naik kapal seperti ini memang kita harus memastikan piranti keselamatan tersedia.  Dan tentunya berfungsi.

 

Jam tujuh pagi kapal bertolak meninggalkan pelabuhan Muara Angke.  Baru juga jalan sebentar kapal berhenti.  Wah, ada apa nih ?  irma melongok keluar jendela.  Seorang awak kapal mengenakan google terjun ke dalam air.  Setelah beberapa saat ia muncul kembali.  Tangannya memegang lembaran besar plastik.  Oh rupanya baling-baling kapal tersangkut sampah plastik.  Makanya, jangan buang sampah ke laut !  Eh ternyata setelah dilepas dari baling-baling, lembaran plastik itu ia lempar lagi ke laut.  Gimana sihh, kan nanti bisa nyangkut lagi di kapal yang lain.  Mungkin juga malah di kapal dia sendiri.

 

”Tidur aja.  Perjalanannya lama.  Tiga jam,” Mama Reny rebahan di lantai kapal yang dialasi tikar plastik.  irma dan Wahyudi turut tiduran.  Seorang awak kapal menurunkan terpal penutup jendela di samping kami.  Matahari di luar mulai pancarkan cahaya panas.  Nggak berapa lama irma dan Wahyudi pun tertidur.  Meski tidur di kapal begitu ternyata kebiasaan Wahyudi kalau tidur di rumah tetap terbawa : ia menggandeng tangan irma.  Hihihi, takut hilang ya ??

 

Nggak tau udah tidur berapa lama tiba-tiba aja irma terbangun karena seorang bapak yang duduk di atas berseru, ”Nyampeeeeee ... !”  Beberapa penumpang lain pun terbangun.  Irma melongok keluar jendela.  Nyampe di mana ?  Nggak kelihatan satu pulau pun di sekitar kapal.  ”Nyampe di tengah laut,” kata bapak yang berseru tadi.  Ealahhhh ... iseng banget sih ngebangunin orang lagi tidur ?

 

Ternyata kapal kami berhenti karena berpapasan dengan kapal lain dari arah berlawanan.  Rupanya kapal tersebut mengalami gangguan.  Ia dari Pulau Tidung hendak menuju Muara Angke.  Nggak berapa lama kemudian datang satu kapal lagi dari Pulau Tidung.  Para penumpang kapal yang rusak lalu pindah ke kapal yang baru datang itu.  Wahyudi tertawa melihat proses pemindahan sepeda motor.  Setelah para penumpang dan bawaan mereka dipindahkan, kapal yang rusak itu lalu diikat ke kapal kami.  Ia akan kembali ke Pulau Tidung.

 

Sekitar jam setengah sebelas kami berlabuh di dermaga Pulau Tidung Besar.  Seorang pemuda berseragam SMK menghampiri Wahyudi.  Ia mengulurkan selembar kertas bertuliskan paket wisata seputar Pulau Tidung.  Wahyudi bilang kami datang bersama rombongan dan sudah ada panitia pengaturnya.  Pemuda itu mengucapkan terima kasih lalu menghampiri penumpang lain.  irma pikir bagus juga di Pulau Tidung ini ada yang bikin paket wisata begitu.  Seperti di Pulau Untung Jawa.

 

”Irmaaaaaa ... !” berdiri di hadapan irma Eca membentangkan tangan lebar-lebar.  Hai, kangen ya sama irma ?  Hihihi.  ”Ugh, kamu tadi di dalem ya ?  Eca di atas.  Panasss,” Eca menunjuk atap kapal.  Banyak memang yang memilih duduk di sana.  Seandainya perjalanan tadi singkat saja, irma pun ingin duduk di atas seperti itu.  Pengen ngerasain angin laut menerpa wajah.  Beda dengan anak perempuan lain yang umumnya takut kulit hitam atau rusak, irma malah senang sekali beraktifitas di alam terbuka.

 

Opang memandu kami menuju penginapan.  Barang-barang dinaikkan ke atas dua becak.  Berbondong-bondong kami jalan kaki melewati Puskesmas dan kantor kelurahan.  ”Kelurahannya bagus ya, nggak kayak kelurahan Pisangan Lama Timur,” irma ingat rasa kesal waktu mengurus surat keterangan pindah Wahyudi sebelum lebaran lalu.  Kelihatannya bangunan kantor lurah Tidung ini sih bagus.  Tapi nggak tau pelayanannya gimana.

 

Kemudian kami melewati satu rumah dengan banyak sepeda di pekarangannya.  Rupanya itu adalah bengkel sepeda.  Tercengang irma waktu melihat ternyata teknisinya ... seorang ibu-ibu !  Ia sedang mengganti ban becak.  irma jadi ingat teman-teman para lady biker yang nggak kalah dengan pesepeda laki-laki.

 

Kami pun tiba di Losmen Lima Saudara.  Wuiiiii ... halamannya asri sekali.  Banyak pohon.  Losmen itu memiliki lima paviliun atau rumah kecil.  Tiap rumah mempunyai nama, bukan nomor.  Opang membacakan pembagian kamar.  Seperti yang sudah irma duga, irma dan Wahyudi ditempatkan pada rumah terpisah.  Wahyudi bersama para peserta cowok di rumah Irfan.  Sedangkan irma dan keenam peserta perempuan lainnya di rumah Rizky BR.  Ternyata rumah itu paling asik di antara kelima rumah Losmen Lima Saudara.  Bagian belakang rumah Rizky ada taman kecil menghadap laut.  Beberapa peserta langsung duduk-duduk di sana, memandang laut sambil rasakan hembusan angin sepoi-sepoi.  Adeeeemm bangett.

 

Makanan sudah tersedia.  Hmmm ... sayur asemnya enak.  Segar.  Setelah makan siang kami bersiap-siap melancong seputar Pulau Tidung.  ”Irma udah pilih sepeda ?” tanya Wahyudi.  Weittss, udah disuruh milih sepeda tho ??  irma nggak dengar ada pengumuman itu.  ”Nih aku udah pilihin yang warna merah,” Wahyudi menunjuk sepeda merah di samping sepeda hitam yang sudah dipasangi stiker namanya.  Asiiiiikkkk ... dipilihin yang merah, warna kesukaan irma.  MTB lagi.  irma perhatikan peserta lain lebih memilih city bike yang ada keranjangnya.  Mungkin biar nggak perlu nggemblok barang bawaan di punggung.

 

Wahyudi bilang irma harus minta stiker nama kepada Eca.  Waktu irma minta ke Eca, Eca bilang, ”Tulis ’Eskrim’ aja ya ?”  Eca usul begitu karena ada peserta lain bernama Irma.  irma mengangguk mengiyakan.  Karena stiker nama tersebut berikutnya para peserta lain memanggil irma, ”Eskrim”.  Bahkan Wahyudi pun kemudian panggil irma demikian.

 

Sambil menunggu peserta lainnya bersiap-siap irma mencoba sepeda merah tersebut.  Wakss, remnya ngeloss !  Baik rem depan maupun rem belakang.  Harus dibenerin nih.  irma celingak-celinguk.  Seingat irma tadi ada yang bawa sepeda sendiri dari Jakarta.  Biasanya kalau pemakai sepeda begitu – MTB lagi – ia selalu bawa perlengkapan untuk perbaikan sepeda.

 

Akhirnya irma dapat pinjaman tools.  Tapi nggak ada ukuran kunci L yang cocok dengan baut rem yang mo dibetulin.  ”Coba pake ini,” seorang peserta laki-laki menyodorkan pisau swiss warna biru.  Belakangan irma tau namanya Wisnu.  Bersama-sama Wahyudi, Wisnu bantu betulkan rem sepeda irma.  Nggak benar-benar betul sih, rem depannya masih tetap ngeloss.  Tapi rem belakangnya lumayan kenceng.  Cukup lah untuk medan yang nggak ekstrim.  Makasih ya Wisnu.  Sedihnya, Wisnu malah belum dapat sepeda.  Mas Teguh bilang sedang dicarikan pinjaman sepeda lagi.

 

Opang pun tidak dapat sepeda.  Tapi mungkin memang panitia nggak perlu pake sepeda karena sebelumnya udah pernah bersepeda di Pulau Tidung.  Opang naik motor.  ”Itu motor tinggal pake aja.  Emang kayak gitu nggak ada kuncinya,” ujar Mas Teguh.  Beberapa kali distater, mesin motor nggak mau nyala juga.  Opang pun kebingungan.  Sementara Eca bergumam, ”Opang sebenarnya bisa naik motor nggak ya ??”

 

Akhirnya motor berhasil dihidupkan.  Waktu dicoba Opang berseru, ”Weleh, ini motor nggak ada remnya ya ??!”  Hahahaha, nggak heran Wahyudi pun berkomentar, ”Di Pulau Tidung ini kayaknya rem merupakan barang langka ya ?  Nggak sepeda, nggak motor, pada nggak pake rem semua !”  Karena bukan cuma sepeda irma aja yang ngeloss remnya.  Beberapa sepeda lain pun demikian.  Apakah karena medannya yang landai aja makanya di Pulau Tidung nggak perlu pake rem ??  Tapi kan itu berbahaya.

 

Hari makin siang.  Mas Teguh menyuruh kami bergegas pergi.  Tiga orang lagi yang belum dapat sepeda akan menyusul kemudian.  Kami pun bersepeda beriring-iringan.  Awal perjalanan kami masih menyusuri jalan kecil berkonblok.  Kemudian memasuki jalan tanah.  Di sini banyak peserta yang turun dari sepeda lalu berjalan di sampingnya.  Karena banyak pasir pantai gitu jadi sepeda pun sulit digowes.  Seingat irma Aki Supri pernah bilang kalau untuk medan berpasir seperti ini ada ban sepeda khusus.  Cekikikan Eca melihat ban sepeda irma kembali ambles dalam pasir.  ”Ma, sepeda digowes atau didorong ?” tanyanya.  Jawab irma, ”Dituntun.”

 

Pertama-tama kami bersepeda ke ujung barat Pulau Tidung Besar.  Sayang sekali sepanjang jalan kami banyak dihadang asap.  Heran deh, kenapa di pulau ini banyak sekali lahan yang dibakar.  Kirain kebakaran hutan cuma di Sumatera dan Kalimantan aja.  Ternyata di sini pun demikian.  Nggak asik banget lagi enak-enak gowes gitu tiba-tiba napas sesak dan terbatuk-batuk.  Seorang peserta menggerutu, ”Ini sih bukan biking in paradise.  Tapi biking with smoke !”  Whadughhh ...

 

Dari ujung barat kami lanjut bersepeda ke pantai pasir putih.  Di sini kami berhenti lumayan lama karena banyak peserta rehat bermain-main air.  Sambil photo-photo tentunya.  Siang itu langit cerah.  Bagus buat bikin photo.  Tapi nggak enaknya, udara panas jadi bawaannya haus mulu.  Bekal air minum irma habis dalam sekejap.

 

Lanjut nyepedah lagi.  Seperti biasa kalau nyepedah irma suka bernyanyi-nyanyi.  Kali itu lagu ”Naik Becak” karya Ibu Sud irma parodikan jadi begini,

 

Saya hendak tamasya

Berk’liling Pulau Tidung

Hendak melihat lihat Tidung Besar dan Kecil

Saya naik sepeda, warna merah menyala

Awas !  Awaaaassss !  S’peda nggak pake rem !

 

Wahyudi terkekeh dengar nyanyian irma. 

 

Selama bersepeda keliling Pulau Tidung Besar itu kadang-kadang rombongan kami berhenti karena photo-photo.  Satu saat ketika rombongan akan lanjut gowes lagi seorang peserta berseru, ”Tas siapa nihh ??!”  Ia menunjuk satu travel bag warna biru tua.  Seingat irma tas itu tadi digemblok sama peserta yang bawa sepeda sendiri dari Jakarta.  Karena nggak tau namanya irma pun bilang, ”Itu tasnya ... Mas Polygon !”  Polygon adalah merk sepedanya.  Sang pemilik tas tertawa mendengar seruan irma.  Belakangan irma tau namanya Happy.  Abis ketawa ia bilang, ”Kayaknya lebih gagah dipanggil ’Mas Polygon’ ya.”  Deeeuuuu ......

 

Eca bilang sekarang kita ke jembatan.  Setelah menyusuri pantai kita memasuki jalan dalam pemukiman.  Asiiiikkk ... nggak ambles lagi karena jalan ini dilapisi konblok.  Kita sempat mampir di salah satu toko yang jual minuman dingin.  Kulkasnya langsung diserbu para peserta yang kepanasan.  Bahkan teh kotak yang membeku dalam freezer pun habis diborong.

 

Sampai di jembatan.  Yah, ternyata jembatannya sedang diperbaiki.  Jadi kita nggak bisa nyepedah nyeberang ke Pulau Tidung Kecil.  Tapi panitia sudah menyiapkan perahu kecil yang akan mengantar kita ke tengah-tengah jembatan.  Hanya bagian jembatan yang di Pulau Tidung Besar saja yang rusak.  Bagian jembatan lainnya nggak apa-apa.

 

Tukang perahu yang menyeberangkan kita ramah bercerita.  ”Ini tempat pembiakan ikan kerapu dan ikan napoleon,” ia menunjuk tambak-tambak di sekitar jembatan.  Sebenarnya disebut tempat pembiakan kurang tepat sih.  Ikan kerapu dan ikan napoleon tersebut ditangkap dari laut lalu disimpan di tambak-tambak itu hingga cukup besar untuk dijual.  Karena harganya yang mahal maka tambak harus selalu dijaga.  Tukang perahu bilang pernah terjadi pencurian ikan di sana.  Nggak kebayang sama irma bagaimana caranya orang mencuri ikan dari tambak.

 

Tiba di bagian jembatan yang nggak rusak.  Kita berjalan kaki ke rumah persinggahan di tengah-tengah jembatan.  Di sana kita menunggu peserta lain yang sedang diseberangkan.  Karena kapasitas perahu terbatas jadi sedikit-sedikit yang bisa diangkutnya.  Sampai di rumah persinggahan irma langsung nggeletak tiduran. Enak banget ngelurusin badan gitu sambil ngadem kena angin laut sepoi-sepoi.  Wahyudi ikutan nggeletak.  Nggak berapa lama terdengar dengkurannya.  Hihihi, dia sih emang begitu.  Mudah sekali tertidur di mana pun.

 

Mas Teguh bilang di Pulau Tidung Kecil udah disediakan kelapa muda.  Para peserta lanjut berjalan menyusuri jembatan menuju Pulau Tidung Kecil.  Kecuali irma dan Wahyudi.  Karena kami berdua bukan penggemar kelapa muda.  Wahyudi bilang kalau minum air kelapa muda kakinya jadi pegal.  Padahal saat itu badan dia udah capek dan nyeri nggak karuan karena bersepeda sepanjang Pulau Tidung Besar.  Gimana kalau ditambah minum air kelapa muda ?

 

Beruntung juga kami tetap di rumah persinggahan karena berikutnya Opang datang bawa perbekalan makanan.  Horeeee ... !!  Ada kacang rebus, pisang, dan singkong goreng.  Juga ceret berisi teh manis dan termos air panas untuk bikin kopi.  Duh, asiknya.  irma langsung menyerbu singkong goreng.  Juga menuang teh ke dalam gelas.  Lalu irma bangunkan Wahyudi, tawarkan apakah dia mau minum teh atau kopi.  ”Kopi,” jawabnya masih dengan mata terpejam.  Ealah ... Opang baru ngeh ternyata kopinya ketinggalan di penginapan !

 

Beberapa peserta yang tadi ke Pulau Tidung Kecil kembali ke rumah persinggahan di tengah jembatan.  ”Di sana ada apa ?” tanya irma.  ”Sama aja sih dengan di Tidung Besar,” jawab salah seorang peserta.  ”Tapi di ujungnya ada balai pembibitan mangrove.”  irma lalu bangunkan Wahyudi, mengajaknya ke Pulau Tidung Kecil. 

 

Karena Wahyudi kebelet pengen pipis jadi di Pulau Tidung Kecil irma dan Wahyudi tidak berjalan sampai ke balai pembibitan.  Wahyudi pergi ke semak-semak di pinggir pantai.  Tadi Mas Teguh bilang di sekitar jembatan penghubung Tidung Besar dan Tidung Kecil ini nggak ada toilet.  Walhasil kalau ada ”panggilan alam” seperti itu ya ke balik semak-semak ajalah.  Selesai urusan buang air kecilnya Wahyudi lalu bergabung dengan irma yang sedang melihat-lihat mangrove kecil.

 

Di sekitar perairan Pulau Tidung Kecil banyak ditanam bibit mangrove.  Mangrove itu benar-benar masih kecil.  Lebih kecil daripada yang dulu irma lihat di Pulau Untung Jawa.  Wahyudi khawatir apakah batangnya yang kecil itu bisa menahan ombak.  Tapi Tuhan kan menciptakan alam ini penuh keseimbangan.  Mungkin batang mangrove yang kecil itu justru membuatnya fleksibel saat diterpa ombak.  Seperti pohon kelapa yang fleksibel terayun-ayun angin.

 

Hari menjelang sore.  irma dan Wahyudi kembali ke rumah persinggahan di tengah jembatan bergabung dengan para peserta lain.  Beberapa peserta sedang snorkling.  Tapi lebih banyak lagi yang duduk-duduk di jembatan, menunggu sunset sambil berphoto.  Beberapa kali dilakukan sessi photo loncat.  Dalam hati irma berdoa semoga jembatannya nggak ambruk akibat loncatan beberapa orang dalam waktu bersamaan.  Berulang-ulang lagi photonya.

 

Matahari terbenam di balik Pulau Tidung Besar.  Sayangnya sunset kali itu kurang sukses diphoto karena matahari tertutup awan.  Namun kemudian muncul purnama di atas Pulau Tidung Kecil.  Kecil memang bulan itu.  Tapi cantik cahayanya.  Dan terang.

 

Terang purnama itu mengiringi langkah kami pulang.  Tukang perahu menjemput di tengah jembatan.  Setelah mengambil sepeda yang tadi diparkir di tepian jembatan Pulau Tidung Besar yang sedang diperbaiki, beramai-ramai kami pun gowes ke losmen.  Bersyukur sekali irma pake headlamp jadi irma bisa tetap bersepeda dalam gelap sepanjang tepi pantai.  Memasuki pemukiman baru dijumpai penerangan jalan. 

 

Sampai di rumah Rizky BR Losmen Lima Saudara.  Karena banyak peserta yang istirahat melepas lelah jadi irma bisa pakai kamar mandi duluan.  Enak sekali abis mandi gitu.  Meski airnya payau sehingga sabun nggak banyak berbusa.  Tapi lumayan lah daripada badan lengket keringat plus debu hasil nyepedah sepanjang hari.

 

Makan malam sudah tersedia di depan kantor losmen saat irma selesai mandi.  Wuiiii ... ada ikan bakar dan cumi kecap !  Juga tumis kangkung.  Enak sekali.  Ikannya besar-besar sebesar lengan bawah irma.  Karena nggak yakin apakah irma bisa menghabiskan satu ekor ikan sendirian jadi irma ambil tumis kangkung dan cumi aja.  Waktu itu Wahyudi masih di kamar mandi jadi irma nggak bisa berbagi ikan.  Biasanya kalau makan ikan, kepalanya irma kasih ke Wahyudi.  irma bukan penggemar kepala.

 

Selesai makan irma kembali ke rumah Rizky BR.  Baru terasa badan capek banget.  Mata juga berat karena mengantuk.  irma dan Mama Reny dapat kehormatan tidur di tempat tidur dalam kamar, sedangkan penghuni rumah Rizky BR lainnya memilih tidur rame-rame di ruangan tengah beralaskan kasur lipat dan tikar.  Saat irma berbaring dan memejamkan mata terdengar mereka ramai mengobrol di luar.  Katanya abis makan malam akan ada acara ngumpul-ngumpul.  Tapi sungguh saat itu badan irma udah nggak sanggup lagi untuk diajak beraktifitas.

 

***

 

Keesokan harinya – Minggu, 4 Oktober 2009 – waktu Subuh pintu rumah Rizky BR diketok-ketok dari luar.  Tadi malam Mas Teguh bilang pagi ini kita akan ke jembatan lagi untuk melihat sunrise.  irma bergegas mandi.  Sebagian penghuni rumah Rizky BR memilih untuk lanjut tidur dan nggak ikutan lihat sunrise.  Sebelum keluar rumah irma membereskan ransel dan barang-barang bawaan.  Mas Teguh bilang jam 10 nanti rumah Rizky BR mau dipakai tamu lain.  Jadi barang bawaan agar dirapikan dan dititip di rumah lain. 

 

”Yang udah siap jalan duluan aja.  irma sepeda kamu udah di luar,” seru Mas Teguh waktu irma keluar dari rumah Rizky BR.  irma lalu menitip ransel di rumah Irfan, tempat Wahyudi menginap.  Kemudian bersama beberapa orang peserta irma dan Wahyudi gowes menuju jembatan.  ”Tinggal luruuuuuusssss aja,” Mas Teguh memberi pengarahan.  ”Nanti jam tujuh kapal datang untuk nyeberangin kita.”

 

Di perjalanan menuju jembatan Mey yang bersepeda jauh di depan irma sempat jatuh.  irma mengajak Wahyudi untuk bergegas menyusulnya.  ”Mey, nggak pa-pa ?” tanya irma setelah berhasil menjejerinya.  ”Nggak apa-apa,” kata Mey, ”anggap aja rezeki sarapan pagi.”  Tebakan irma Mey jatuh akibat polisi tidur yang nggak terlihat karena gelap.  Di sepanjang jalan dalam pemukiman itu banyak sekali polisi tidur.  Kayaknya tiap lima meter ada polisi tidur melintang di tengah jalan.

 

Tiba di tepi jembatan.  Kita memarkir sepeda di sebelah rumah panggung pada ujung jembatan.  Lalu berjalan ke dermaga di samping bagian jembatan yang sedang diperbaiki.  Di sana kita duduk-duduk menunggu matahari terbit.  Jika kemarin sore matahari terbenam di balik Pulau Tidung Besar, maka pagi ini matahari akan terbit dari balik Pulau Tidung Kecil. 

 

”Nggg ... tebakanku, kita nggak bakalan dapat lihat sunrise deh,” irma menengadah, lihat langit masih tertutup awan.  ”Nanti tau-tau aja hari udah terang.”

 

Dan ternyata tebakan irma benar.  Beberapa peserta mengeluh nggak dapat sunset dan sunrise.  ”Ya gimana ya, abis mataharinya nggak bisa dibooking,” kata Opang.  Huehehehehehehe ... Opang bisa aja.

 

Ya udah jadi kita bermain-main aja di sekitar jembatan sambil menunggu perahu yang akan menyeberangkan.  Mas Teguh dan beberapa peserta berjalan hingga ke ujung pemecah ombak.  irma yang pagi itu ingin leyeh-leyeh bermalas-malasan memilih untuk tidur-tiduran di dermaga.  Ransel merah kecil yang dibawa-bawa sejak nyepedah kemarin irma jadikan bantal alas kepala. Enak rasanya tidur telentang menatap langit begitu. 

 

Terdengar Eca memanggil.  Rupanya sarapan sudah disiapkan di rumah panggung sebelah parkiran sepeda.  Pagi itu kita sarapan nasi pakai ayam goreng, tahu dan tempe goreng, beserta kerupuk udang.  Juga teh manis yang rasanya lebih dominan gulanya daripada aroma tehnya.  Tapi lumayan lah.  Usai makan kita bermain-main lagi sambil menunggu perahu datang.

 

Satu kapal motor datang ke dermaga.  Kirain itu kapal yang akan menyeberangkan kita ke tengah jembatan.  Karena Mas Teguh bilang pagi itu sepeda-sepeda akan dibawa nyeberang juga, jadi kita kira kapal yang dipake adalah kapal besar.  Ternyata kapal itu mengangkut semen dan bahan bangunan lainnya.  Mungkin material buat memperbaiki jembatan ya ?  Nggak berapa lama kapal itu pergi.

 

Perahu yang kemarin menyeberangkan kita tiba dan merapat ke dermaga.  Tukang perahu bilang yang akan diangkut duluan adalah sepeda-sepeda.  Kita mengambil sepeda masing-masing lalu mengantri di samping perahu.  Satu per satu sepeda dinaikkan ke atas perahu oleh tukang perahu dan asistennya.  Opang dan peserta yang cowok turut membantu.

 

irma agak cemas melihat sepeda-sepeda ditumpuk memenuhi perahu.  Ada yang di depan, di tengah, belakang, bahkan atap.  Kalau sepedanya jatuh kecebur masuk laut, bagaimana ?  ”Kalau kecebur, ya udah jadi rumpon aja,” kelakar bapak yang tadi mengantarkan sarapan ke jembatan.  Kalau nggak salah namanya Pak Wardi.

 

Wahyudi memutuskan turut menyeberang bersama sepeda.  Biar di sana ia bisa membantu tukang perahu dan asistennya menurunkan sepeda.  ”Daaagghhh,” ia melambaikan tangan seiring perahu melaju meninggalkan dermaga.  ”Ini perahu jurusan Pasar Rumput,” candanya.  Pasar Rumput di Jakarta terkenal sebagai tempat jual dan beli sepeda bekas.

 

Beres urusan penyeberangan sepeda, perahu pun kembali lagi.  Kali ini hanya membawa para peserta.  ”Huuu ... curang !  Sapa tuh udah naik sepeda duluan ?!” seru Mey melihat Wahyudi bersepeda sepanjang jembatan.  He eh, kayaknya asik bener nyepedah begitu.

 

Tapi ternyata nyepedah di jembatan nggak seasik yang terlihat.  Karena kayu penyusun jembatan nggak rata jadi jalan sepeda ajrut-ajrutan.  Mana ada kayu yang bolong lagi.  Tiap kali ketemu kayu jembatan yang lepas irma turun dari sepeda lalu menuntunnya hingga tiba di bagian yang kayunya lengkap.  Wahyudi bilang sih selama nyepedahnya lurus aja nggak bakalan sepeda terperosok nyebur ke laut.  Tapi tetep aja irma takut.

 

Kita bersepeda menyusuri jembatan sampai ke Pulau Tidung Kecil.  Di sana gowes nyusurin jalan konblok sampai ke balai pembibitan mangrove.  Kemudian memasuki jalan tanah.  ”Bisa kok pake sepeda asal ngebut,” kata Mas Teguh.  Sebenarnya nggak perlu ngebut sih, tapi melaju dengan kecepatan gowes yang konstan.  Konsisten. 

 

Makin lama jalan tanah makin sempit.  Di kanan kiri jalan banyak rumpun dan ilalang.  ”Yak, gowes Cikepuh versi dua !” seru Wahyudi saat menyibak ilalang yang menghalangi jalan.  Hahaha, iya kayak waktu kita gowes dari Ujung Genteng ke Cikepuh dulu.  Bedanya, gowes kali ini nggak pake ketemu area uka-uka.  Dan nggak ada yang terkapar di tengah jalan karena sakit mendadak.  Juga kita selalu bersama-sama, nggak terpisah.

 

Kita tiba di tanah agak lapang.  Di sana ada satu gubuk sederhana.  Seorang bapak duduk-duduk di depannya.  Tangannya membelai-belai seekor kucing warna kuning di pangkuan.  Kucing itu besar sekali.  Di seberang gubuk ada dua makam.  Salah satunya bertuliskan ”Panglima Hitam” di nisannya.  irma terheran-heran melihat makamnya begitu panjang, lebih panjang dari makam pada umumnya.  Apakah orangnya tinggi sekali ?  ”Nggak.  Itu bentuk penghormatan.  Seperti makam-makam di Mesjid Demak.  Orangnya sih biasa aja, tapi untuk menghormati dia makamnya dibuat besar dan panjang,” papar Wahyudi. 

 

Mas Teguh menyuruh kita memarkir sepeda di seputar makam Panglima Hitam tersebut.  Lalu kita berjalan kaki melewati kebun hingga tiba di tepi pantai.  Dari sana kita menyusuri pantai sampai ke ujung Pulau Tidung Kecil.

 

Asiiiiikkkk ..... susur pantai lagi.  Tapi beda dengan Susur Pantai Garut, pantai di sini pendek jadi saat berjalan kita harus blusukan dalam air.  Sepanjang jalan irma dan Wahyudi banyak menemukan benda-benda menarik.  Wahyudi dapat beberapa kerang cantik untuk menghiasi meja tamu rumah kami.  Sementara irma temukan potongan kayu yang pas untuk ganjal pintu.  Selain itu kami juga ketemu dompet berisi kartu perpustakaan Akademi Perawat, boneka plastik Doraemon yang sudah kempis, dan sisa jenazah sapi.  Hiiiii .....  pantas sempat tercium aroma amis. 

 

Akhirnya kita tiba di ujung Pulau Tidung Kecil.  Di sana tempat yang enak untuk bermain-main air karena ombak nggak terlalu besar dan perairan nggak terlalu dalam.  Air paling dalam hanya setinggi pinggang irma.  Opang dan beberapa peserta berjalan kaki ke Pulau Gosong di seberang Pulau Tidung Kecil.  irma dan Wahyudi bermain-main air di sekitar mangrove kecil yang banyak terdapat di ujung Pulau Tidung Kecil.  Wahyudi ketemu tengkorak kerbau di antara pasir putih tempat akar mangrove kecil menancap.  Tapi irma nggak berani melihatnya.  Jadi irma memilih main air di sekitar mangrove kecil yang lain.  Mangrove kecil ini memiliki tiga dahan.  Bentuknya mengingatkan irma akan mahkota yang disebut ”Tiara”.

 

Puas main air kami pun kembali ke tempat parkir sepeda melalui jalur yang sama.  Sepeda sudah banyak berkurang waktu irma dan Wahyudi sampai di sana.  Sepertinya beberapa peserta sudah kembali ke jembatan.  Kami lalu gowes di antara ilalang.  Enak sekali kami meluncur menyusuri jalan setapak.  Kali ini nggak ada hambatan sama sekali.  Nggak seperti waktu berangkat tadi, sebentar-sebentar terhenti karena peserta yang di depan banyak berhenti untuk berphoto.  Karena nyepedah pulang kali itu begitu enak, sempat terpikir oleh irma untuk mengulangnya.  Tapi waktu irma ajak Wahyudi kembali ke makam Panglima Hitam dan gowes lagi dari sana, Wahyudi menolak.  Yaaahhh ...

 

Tiba di balai pembibitan mangrove.  Di sana Mas Teguh sedang minum kelapa muda.  Ia memanggil kami untuk bergabung.  Karena bukan penggemar kelapa muda jadi kami tidak ikutan minum.  Tapi Wahyudi tertarik dengan buah jambu air yang meranum di pohon.  ”Minta ya,” katanya kepada mas-mas yang menyiapkan kelapa muda.  Wahyudi bilang enak makan jambu air langsung dari pohon seperti itu.  Akhirnya irma pun turut loncat-loncat memetik jambu air.  Jambunya manis.  Tapi airnya sedikit.  Mungkin karena ditanam di pinggir pantai.  Wahyudi perhatikan hampir di setiap halaman rumah di Pulau Tidung Besar ada pohon jambu air.  Sepertinya jenis pohon itu yang dipilih untuk gerakan penghijauan di sana. 

 

Kemudian datang Rudi, Bekti, Uni, Beb, dan Wisnu.  Mereka langsung menyerbu kelapa muda.  Karena sudah puas makan jambu air maka irma dan Wahyudi beranjak dari halaman balai pembibitan mangrove.  Rudi terheran-heran melihat Wahyudi menaruh bantal angin di atas sadel sebelum diduduki.  ”Biar nggak sakit.  Lumayan lho,” Wahyudi menerangkan.  Rudi mengangguk-angguk sementara beberapa peserta perempuan memandangnya dengan tatapan bertanya.  ”Ah, elo sihh nggak ngerasain jadi cowok,” ujar Rudi pada mereka.  Sementara Rudi, Wahyudi, dan beberapa peserta membahas efek nyepedah seharian kemarin pada organ tubuh cowok, irma mencatat dalam hati kayaknya lain kali kalau mau pake sepeda sewaan mending bawa tools dan sadel sendiri.  Kalau perlu bawa rem cadangan juga, hehehe.

 

irma dan Wahyudi nyepedah ke jembatan.  Ternyata nggak banyak peserta di sana.  Cuma ada Mas Teguh yang lagi jadi photographernya Dewi.  Kami lalu berkumpul di rumah persinggahan di tengah jembatan.  Tukang perahu dan asistennya sudah menunggu di sana.  Selain itu ada seorang bapak yang lagi mancing.  Ia sudah berhasil mendapat dua ekor cumi-cumi dan seekor ikan napoleon.  Baru tau kalau cumi-cumi segar yang baru ditangkap begitu warna kulitnya bisa berubah-ubah.  Wahyudi memain-mainkan gigi ikan napoleon yang tajam.  Kalau masih hidup belum tentu berani pegang karena ikan itu kalau nggigit sakiiiitttt sekali.  ”Di sini ikan itu disebut ’Ikan Gigi Jarang’,” ujar tukang perahu.

 

Para peserta lain berdatangan dari Pulau Tidung Kecil.  Mas Teguh mengajak kembali ke penginapan.  Kali ini tukang perahu menyeberangkan kita beserta sepeda masing-masing.  Sampai di seberang irma langsung gowes sepeda kenceng-kenceng sampai Losmen Lima Saudara.  Bukan apa-apa, tapi kebelet pengen pipis ...

 

Sampai penginapan Wahyudi langsung ke rumah Irfan untuk mandi.  irma yang udah lega keluar dari kamar mandi nggeletak tiduran di rumah sebelah rumah Rizky BR (apa ya nama rumahnya ?  lupa nih).  Sempat ketiduran irma di sana.  Sampai Wahyudi membangunkan mengajak makan siang.  Hmmm ... kali ini menunya udang !  Kesukaan irma.  Dari kemarin di sini makannya enak-enak mulu.  Benar-benar berlibur rasanya.

 

”Yang udah selesai, udah rapi, langsung ke kapal ya,” seru Eca.  Justru saat itu irma baru melihat Opang.  irma bertanya ada apa aja di Pulau Gosong.  ”Ya nggak ada apa-apa, cuma pulau kosong gitu aja,” jawab Opang.  ”Tadi waktu udah hampir sampai di sana Devi nanya, ’Mas di sana ada apa ?  Kalau nggak ada apa-apa, ya udah balik lagi aja.’  Saya bilang, ’Ya nggak bisa gitu dong.  Sama aja dengan naik gunung.  Kalau belum sampai ke puncaknya, ya belum naik gunung namanya.’  Akhirnya tadi sampai juga kita ke Pulau Gosong.”

 

irma mengangguk-angguk dengar cerita Opang.  Kalau seandainya tadi nggak dibatasi waktu, irma juga pengen ikutan jalan kaki ke Pulau Gosong.  Tapi irma ingat pesan seorang teman katanya kalau balik dari Kepulauan Seribu menuju Jakarta, jangan terlalu sore.  Karena makin sore ombak bakalan makin tinggi.  Bisa-bisa perjalanan pulang ke Jakarta serasa naik Kora-Kora.

 

Jam satu siang kami meninggalkan Losmen Lima Saudara.  Beruntung sekali irma dan Wahyudi termasuk yang terakhir meninggalkan penginapan.  Karena Pak Wardi menawarkan kami untuk ke pelabuhan pakai sepeda.  ”Ini sepeda yang punyanya tinggal di depan pelabuhan.  Jadi nanti tinggalin aja sepedanya di sana,” Pak Wardi menyorongkan dua sepeda.  Asiiikkkk ... nggak perlu jalan kaki di panas terik siang bolong.  Selain itu kami pun dikasih bungkusan berisi ikan bakar yang tadi malam tidak habis dimakan.  Banyak sekali ikannya.  Tujuh ekor !  Lumayan buat lauk makan nanti malam.  Kalau nggak habis bisa dibagi sama si Mpus dan teman-temannya.  Mpus adalah kucing yang suka mampir ke rumah kami.

 

Berbeda dengan kedatangan kemarin di pelabuhan besar, kapal yang akan mengantar kita pulang merapat di pelabuhan kecil.  Ternyata bukan irma dan Wahyudi yang terakhir naik ke atas kapal.  Masih ada beberapa peserta yang belum datang.  Mereka tidak menginap di Losmen Lima Saudara tapi di penginapan lain dekat mesjid. 

 

Eca bolak-balik melihat arlojinya dengan resah.  Sama seperti irma, ia pun ingin segera berangkat.  Akhirnya jam setengah dua kapal baru berangkat meninggalkan Pulau Tidung Besar.  Kita mampir dulu ke Pulau Payung.  Pulau ini milik pribadi namun irma nggak tau nama pemiliknya.  Pemilik kapal yang kita tumpangi mengingatkan kita untuk minta izin saat kapal merapat di dermaga Pulau Payung.  Kita meminta izin kepada penunggu pulau.  Setelah diizinkan kita pun berjalan-jalan di sana.

 

Sepertinya Pulau Payung sedang disiapkan untuk menjadi resort.  Ada teluk yang hampir menyerupai danau karena kedua tanjung di ujungnya nyaris menyatu.  Di sana dipasang portal dan menara pengawas.  Pada teluk berair tenang itu ada kapal yang sudah diubah fungsinya menjadi tempat bersantai.  Di luar teluk tersebut air laut mengombak.  Tapi sepertinya perairan di luar teluk tidak dalam karena irma lihat ada beberapa orang berdiri memancing.  Tinggi permukaan air hanya mencapai pinggang mereka.

 

Setelah mengitari teluk kami kembali ke dermaga.  irma duduk-duduk di samping tambak kecil yang menempel pada dermaga tersebut.  Di dalamnya ada aneka ikan laut yang unik.  Ada ikan pari kecil dengan sisik keemasan di punggungnya, ikan berbadan pipih belang-belang hitam putih, dan ikan buntal belimbing.  Baru kali itu irma lihat ikan buntal seperti itu.  Selama ini di benak irma yang namanya ikan buntal tuh yang badannya penuh duri dan jika kaget akan menggembung.  ”Nggak.  Ikan buntal tuh ada banyak macamnya.  Yang seperti itu namanya ikan buntal duren.  Yang di sini ikan buntal belimbing,” kata seorang lelaki di dermaga saat irma utarakan keheranan irma melihat ikan buntal di dalam tambak kecil itu.

 

Jam tiga kurang seperempat Opang memanggil semua peserta kembali naik ke atas kapal.  Kali ini para peserta berkumpul tepat waktu sesuai instruksi panitia.  Mungkin karena nggak banyak yang bisa dilakukan di sini jadi nggak ada yang beranjak jauh dari dermaga.  Satu-satunya hal yang menarik bagi irma di Pulau Payung adalah tambak kecil di sebelah dermaga yang irma lihat tadi.  Sepertinya tambak itu tempat memelihara ikan unik hasil tangkapan di laut.  Jadi dibuat semacam akuarium.

 

Kapal bertolak menuju Jakarta.  Hampir semua peserta tidur rebahan di lantai kapal.  Demikian juga dengan irma dan Wahyudi.  Kami tidur bersisian dekat pintu.

 

irma nggak tau udah tidur berapa lama ketika tiba-tiba irma terbangun.  Goyangan kapal makin keras.  Di awal perjalanan tadi rasanya seperti dibuai-buai.  Tapi saat itu seperti diguncang-guncang.  Dari pintu kapal yang terbuka irma melihat langit.  Oh tidaaaakkk !!!  Langit gelap sekali !

 

Apa yang irma khawatirkan pun jadi kenyataan.  Hujan deras.  Angin kencang.  Ombak meninggi.  Kapal bergoyang makin keras ke kiri dan ke kanan.  Peserta yang semula tidur pada terbangun.  Semua merapat duduk berkumpul di tengah kapal dengan wajah tegang.  Beberapa peserta mulai mabuk laut.  Wahyudi dan Vero sempat berlari ke pintu kapal dan memuntahkan isi perut ke laut. 

 

”Nggak ada pelampung ya ?” Mama Reny menjawil lengan irma.  Dooohh ... pertanyaan itu makin bikin irma tegang ketakutan.  Apalagi kemudian irma teringat kapal yang tenggelam di perairan Pulau Edam Kepulauan Seribu beberapa waktu yang lalu.  Huuuu ... takuttt.  Dalam hati irma terus berdoa dan berdzikir.  Biar nggak melihat ombak laut yang tinggi irma putuskan untuk berbaring dan memejamkan mata.  Ternyata kalau tiduran begitu jadi nggak terlalu mabuk laut.

 

Rasanya cukup lama kapal diayun-ayun ombak tinggi begitu.  Hingga akhirnya irma merasa ayunan ombak melemah dan kapal melaju tenang.  irma membuka mata lalu menoleh ke samping.  Tampak air laut warna hitam kecoklatan.  Oh kiranya kapal memasuki perairan Muara Angke.  Alhamdulillah, selamat sampai di Jakarta, irma bersyukur dalam hati.  Kelegaan pun tampak di wajah para peserta lain.  Beberapa di antara mereka malah sudah kembali bercanda tertawa-tawa.

 

Aaahhh ... leganya saat kapal merapat ke dermaga.  Badan yang menggigil karena baju irma basah kena air hujan nggak terlalu irma permasalahkan.  Yang penting selamat kembali pulang.  irma mengucapkan terima kasih kepada nakhoda kapal.  Bapak itu tertawa, ”Tegang tadi ya ?  Tapi udah nggak takut kan ?  Jangan kapok ke Kepulauan Seribu lagi ya.”

 

Nggg ... kapok sih, nggak.  Tapi kayaknya lain kali kalau ikutan trip melaut lagi mending bawa life jacket sendiri deh.

 

 

 

Menara Karya, 16 Oktober 2009

senangnya, akhirnya bisa bikin catatan perjalanan lagi J

 

 

 

Tuesday, September 16, 2008

Cerita jalan-jalan ke Pasir Pawon & Gua Pawon

Ini cerita sebenarnya udah lama mulai ditulis.  Sempat lama tertunda.  Mungkin karena irma nya banyak jalan-jalan jadi bingung mana yang mau ditulis dulu.  Baru sekarang lanjut nulis lagi.  Dan selesai.  Setelah sebelumnya panik karena filenya tiba-tiba rusak.  Meski perjalanannya dah lama, tapi nggak pernah telat kan untuk menikmati catatan perjalanan ?  Apalagi itu tulisannya irma, (hihihi pede sekali ya !)

 

 

photo-photonya ada di : http://eskrim.multiply.com/photos/album/57/Pasir_Pawon_Gua_Pawon

********************************************************************************************************************************************************

Sabtu, 23 Februari 2008

I have been to Pasir Pawon, … and Gua Pawon

irma agustina

 

 

“… main-main ke sini ya, kami senang sekali dikunjungi …”

 

 

Itu yang dibilang Siska sambil menyerahkan kartu nama Mahanagari  kepada irma saat kita berkenalan di ajang Gelar PKBL BUMN di JCC dua minggu yang lalu.  Tertulis di sana alamat website dan multiplynya.  Waktu irma melongok ke sana, hei ternyata Sabtu tanggal 23 Februari 2008 Mahanagari ngadain acara jalan-jalan ke Pasir Pawon dan Gua Pawon di Padalarang.    Langsung irma ajak Wahyudi untuk ikutan.  Sebenarnya kita udah ada acara mau ikut funbike pitapink hari Minggunya.  Tapi kayaknya acara jalan-jalan ini lebih menarik.  Funbike nya, kapan-kapan aja deh.

 

Karena hari-hari menjelang acara ini irma sibuk audit, jadi Wahyudi yang kontak-kontak Ulu dari Mahanagari untuk daftar dan bayar-bayar.  Juga ngurus transportasi Bandung – Jakarta.  irma cuma bagian beli tiket kereta Parahyangan Jakarta – Bandung.  Sabtu jam tiga pagi irma telpon Wahyudi, bangunkan dia yang malam sebelumnya baru balik dari tugas audit vendor di Cirebon.  Satu jam kemudian Wahyudi sampai di tempat kost irma dengan taksi.  Wadugh, supir taksinya ngantuk !  Berapa kali kita pergoki dia nyupir dengan mata terpejam.  Begitu sampai di Stasiun Gambir irma menghembuskan napas lega.  Kita mampir ke Dunkin untuk minum teh dan coklat hangat.  Lalu naik ke kereta Parahyangan di jalur satu.  Jam lima lewat lima belas menit kereta berangkat.

 

Sepanjang jalan Wahyudi tiduuuurrr mulu.  Dia baru sampai dari Cirebon jam setengah satu.  Cuma tidur dua jam lalu harus berangkat jemput irma. Terang aja sekarang dia ngantuk banget.  Sementara irma malah nggak bisa tidur.  Mungkin efek ngeteh ya.  Saat kereta berkelok-kelok memasuki Padalarang baru mata irma terpejam.  Nggak berapa lama kemudian irma terlompat kaget karena dengar orang-orang teriak, ‘Pak, Bu, keretanya udah sampai !’  Rupanya para porter stasiun Bandung berlompatan masuk ke dalam gerbong.  Terhuyung-huyung irma dan Wahyudi turun dari kereta.  Ke toilet dulu untuk cuci muka, lalu langsung naik angkot menuju Museum Geologi Bandung.

 

Alamak, menuju Gedung Sate jalan macet abizzz !  Ternyata ada kampanye pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.  Para pendukung ketiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur memadati jalan.  Mereka naik motor, mobil, bahkan ada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang menyediakan bis untuk mengangkut para pendukungnya.  Juga truk tronton yang dijadikan panggung lengkap dengan sound system, perlengkapan musik dan penyanyi yang berjoget-joget.  Berisik banget !  Kendaraan lain nggak bisa melewati jalan.  irma pun mengomel, ‘Huh, baru jadi calon Gubernur dan Wakilnya aja udah bikin susah.  Gimana kalau nanti jadi Gubernur dan Wakil betulan ??!’

 

Karena angkot memutar jadi irma dan Wahyudi turun di jalan Cisangkuy lalu jalan kaki ke jalan Diponegoro.  Lewat Yoghurt Cisangkuy, kita mampir dulu ke sana.  Baru jam sembilan.  Masih ada waktu setengah jam untuk sarapan.  Wahyudi pesan gado-gado sedangkan irma makan pempek.  Hueheheheheee …… baru kali ini makan pempek cukanya manis banget kayak kuah kolak.

 

Tepat jam setengah sepuluh kita sampai di Museum Geologi Bandung.  irma pinta Wahyudi hubungi Ulu karena kita nggak tau harus kumpul di mana dan nggak ada tanda-tanda rombongan Mahanagari.  Rupanya Ulu udah di auditorium.  Kita diminta menunggu di lobby yang lengang.  Tumben, hari Sabtu begitu museum agak sepi.  Biasanya kan rame banget dengan rombongan anak sekolah.  Waktu irma ajak Wahyudi ke museum ini, dia terheran-heran lihat begitu banyak rombongan anak sekolah yang berkunjung.  Sampai berbis-bis banyaknya.  Rupanya waktu sekolah dulu Wahyudi nggak pernah ngalamin kunjungan ke museum seperti itu.  Kasihaaaaaannn …… deh lo Di !

 

‘irma ya ?’ seorang perempuan berjilbab putih menyapa.  irma mengangguk.  Rupanya itu Ulu.  Walaahh …… tadinya irma kira Ulu itu cowok !  Hih, irma tertipu !  (Dan ternyata irma bukan yang pertama yang kecele.  Belakangan Ulu bilang udah ribuan orang yang tertipu.  Hihihi, namanya Ulu menyesatkan).  Ulu lalu mengajak irma dan Wahyudi ke auditorium.  ‘Sebenarnya kan pemutaran film untuk kita jam sepuluh ya.  Jadi sekarang kita nonton film yang lain dulu aja,’ kata Ulu.  Bareng rombongan anak sekolah kita nonton film tentang pembentukan Grand Canyon.

 

Bubar rombongan anak sekolah, auditorium dipake rombongan Mahanagari.  Nggak banyak pesertanya.  Mungkin sekitar dua puluh orang.  irma bersyukur banget turut dalam rombongan kecil seperti itu.  Abisnya kalau rame banyak orang malah jadi nggak fokus acaranya.  Kita saling berkenalan.  Seorang peserta – Tita , dosen Desain Produk ITB – irma kenali sebagai keponakannya Mama Oen.  Tapi irma nggak berani nyapa karena irma lupa nama panggilannya Mama Oen yang sebenarnya.  Masa’ mau nyapa, ‘Mbak, mbak, mbak ini sodaranya Ibu Nur Handoyoputro ya, istri dari Bapak Agni yang di Departemen PU ?’  Halah, resmi bener sapaannya ??!

 

Usai perkenalan kita menonton film pendek tentang pembentukan area Bandung dan sekitarnya.  Dulunya tuh, ada Danau Purba Bandung dikelilingi gunung-gunung.  (Heee … jadi ingat uga yang diajarin guru basa Sunda waktu SD dulu, ‘… Bandung dilingkung gunung, heurin ku tangtung …’ )  Salah satu gunung itu adalah Gunung Sunda Purba.  Satu waktu gunung ini meletus.  Letusannya begitu dahsyat hingga membentuk kaldera luas.  Di dalam kaldera ini kemudian tumbuh Gunung Tangkubanparahu.  Jadi seperti Anak Krakatau yang terbentuk setelah letusan ibunya di tahun 1883.

 

Selain membentuk Gunung Tangkubanparahu, letusan Gunung Sunda Purba mengakibatkan perubahan aliran sungai Citarum ke arah yang sekarang.  Sedangkan aliran sungai Citarum purba yang terputus oleh bendungan benda-benda vulkanik muntahan Gunung Sunda Purba kini menjadi sungai Cimeta.

 

Yang menarik pada film pendek tersebut juga ada kartun legenda Sangkuriang (Lucu gambar-gambarnya.  Mengingatkan irma akan kartun Jepang).  Alkisah zaman duluuuuuuu sekali ada seorang putra mahkota Kerajaan Pajajaran bernama Sungging Perbangkara.  Suatu hari ia pergi berburu ke hutan larangan.  Di tengah perburuan ia kebelet pipis.  Nggak ada toilet umum kan di tengah hutan (hmm, mungkin juga waktu itu belum ditemukan toilet !) , jadi air seninya ditampung dalam tempurung kelapa bekas ia dan para pengawalnya minum air kelapa saat rehat.  Ternyata kemudian air seninya itu diminum oleh seekor celeng betina bernama Celeng Wayungyang.  Akibatnya celeng tersebut hamil.  (Kok bisa ??  Jangan tanya, namanya juga cerita rakyat !).  Hingga akhirnya ia melahirkan seorang bayi perempuan.

 

Saat Sungging Perbangkara berburu ke hutan larangan lagi, ia bertemu dengan bayi perempuan tersebut.  Ia bawa bayi itu ke istana dan dinamakan Dayang Sumbi.  Setelah dewasa Dayang Sumbi menjadi kembang kerajaan.  Karena asal-usulnya yang tidak jelas banyak orang yang menyalahkannya atas musibah yang dialami rakyat.  Ia lalu dibuang ke hutan larangan.  Ditemani seekor anjing jantan bernama Tumang.

 

Di hutan larangan Dayang Sumbi menenun untuk mengisi waktu.  Sekali waktu alat tenunnya yang disebut taropong jatuh dari rumah panggung tempat ia menenun.  Dasar malas, Dayang Sumbi pun berkata, ‘Wahai siapakah yang mengambilkan taropongku, jika ia perempuan akan kujadikan saudara.  Jika ia laki-laki ia akan kujadikan suamiku.’  Ternyata yang mengambilkan taropongnya adalah ……… si Tumang !

 

Janji harus ditepati.  Dayang Sumbi menikah dengan Tumang.  Dari pernikahan itu mereka mempunyai seorang anak lelaki bernama Sangkuriang.  Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan gemar berburu.  Persis seperti kakeknya, Sungging Perbangkara.

 

Sekali waktu Dayang Sumbi ingin makan hati rusa.  Ia meminta Sangkuriang untuk mencarikannya.  Pergilah Sangkuring berburu rusa didampingi si Tumang.  Heran, hari itu ia sama sekali tidak menemukan seekor rusa pun.  Karena kesal, Sangkuriang kemudian membunuh si Tumang.  Selama ini ia tidak tau bahwa Tumang adalah ayahnya.  Hatinya Tumang ia ambil dan diberikan kepada Dayang Sumbi.  Kepada ibunya ia mengaku itu adalah hati rusa.

 

Curiga karena Sangkuriang pulang seorang diri, Dayang Sumbi menanyakan ke mana si Tumang.  Karena tersudut oleh pertanyaan-pertanyaan ibunya akhirnya Sangkuriang mengaku bahwa hati yang ia bawa adalah hati si Tumang.  Bukan main marahnya Dayang Sumbi.  Sangkuriang ia pukul di kepala lalu ia usir dari hutan larangan.

 

Pergilah Sangkuriang mengembara.  Setelah bertahun-tahun ia kembali ke hutan larangan.  Di sana ia bertemu dengan Dayang Sumbi.  Ternyata, sejak ia pergi dari hutan larangan Dayang Sumbi sama sekali tidak bertambah tua.  Dan ia tidak mengenali bahwa Dayang Sumbi adalah ibunya.  Malah ia jatuh cinta dan bermaksud menikah dengannya.

 

Dayang Sumbi pun jatuh cinta kepada Sangkuriang.  Hingga ia melihat luka di kepala Sangkuriang.  Ingatlah ia bahwa Sangkuriang adalah putranya, yang ia gebuk di kepala hingga luka lalu ia usir pergi.  Tentu saja ia tidak dapat menikah dengan anaknya sendiri.  Namun karena Sangkuriang ngotot tetap ingin menikahinya, Dayang Sumbi pun mencari akal agar pernikahan itu batal.

 

Diajukanlah syarat yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang.  Yaitu membuat danau beserta perahu hanya dalam semalam.  Ternyata dugaannya salah.  Sangkuriang sangat sakti.  Dibantu teman-teman silumannya Sangkuriang berhasil membendung sungai hingga terbentuk danau.  Tinggal perahunya yang belum rampung.

 

Cemas melihat keberhasilan Sangkuriang, Dayang Sumbi lalu mengibar-kibarkan selendangnya yang berwarna kuning di sisi Timur.  Hal ini mengakibatkan ayam-ayam jago bangun dan berkokok.  Dikiranya fajar telah menyingsing.  Ibu-ibu pun menumbuk padi.  Kehidupan pagi telah dimulai.  Sangkuriang gagal memenuhi syarat pernikahan yang diajukan Dayang Sumbi.

 

Karena gagal, Sangkuriang marah lalu menendang perahu yang sedang ia buat.  Perahu tersebut jatuh menelungkup membentuk Gunung Tangkubanparahu.  Di gunung itu ada Kawah Ratu.  Konon ke dalam kawah itu Dayang Sumbi menceburkan diri agar tidak dikejar-kejar Sangkuriang.  Lalu, ke manakah Sangkuriang ?

 

Ngggg ……… nggak tau.  Yang jelas, Danau Purba Bandung dan Gunung Tangkubanparahu tidak terbentuk dalam semalam seperti yang dibuat Sangkuriang dan teman-teman silumannya.  Setelah pemutaran film pendek tadi, Pak Budi Brahmantyo dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) menjelaskan tentang terbentuknya Danau Purba Bandung berdasarkan penelitian geologis.  Ternyata dulu sebelum terbentuk Pulau Jawa, sekitar 25 juta tahun yang lalu, ada daratan Sunda Purba.  Di sebelah utaranya ada perairan Palung Cimandiri.  Sekarang perairan tersebut jadi Padalarang.  Antara Palung Cimandiri dengan daratan Sunda Purba terdapat perairan dangkal yang dinamakan Paparan Rajamandala.  Di paparan ini tumbuh terumbu karang. 

 

Dengan berjalannya waktu dan pergerakan lempeng bumi, kepulauan terumbu karang tersebut terangkat ke permukaan laut menjadi pegunungan kapur Rajamandala seperti sekarang.  Hiii … aneh juga ya, dari laut yang rendah jadi gunung yang tinggi hingga 700 meter di atas permukaan laut.  Tapi ya gitulah namanya juga peristiwa geologi.  Bekas-bekas terumbu karang dan makhluk-makhluk laut di zaman itu sekarang bisa terlihat di bebatuan yang terserak di Pasir Pawon.

 

Pergerakan lempeng bumi juga mengakibatkan pembentukan Gunung Sunda Purba dan gunung-gunung lain di sekitarnya seperti Gunung Burangrang dan Gunung Malabar.  Juga terbentuk cekungan yang kemudian menjadi Danau Purba Bandung.  Saat Gunung Sunda Purba meletus, gunung tersebut runtuh dan terbentuk kaldera Gunung Sunda Purba.  Di kaldera tersebut kemudian terbentuk Gunung Tangkubanparahu.  Sedangkan Danau Purba Bandung lama kelamaan mengering hingga akhirnya menjadi Kota Bandung yang sekarang.

 

Sekitar jam sebelas acara kita di auditorium usai.  Berikutnya acara bebas keliling-keliling Museum Geologi.  Berhubung irma udah beberapa kali ke museum ini dan juga irma ngaantuuukk banget, jadi irma nggak semangat tuk keliling museum.  Akhirnya irma ngejogrok di ruang Sejarah Kehidupan, ngeliatin fosil-fosil binatang purba kesukaan irma.

 

Pukul dua belas siang kita kumpul di mesjid samping museum untuk sholat dan makan siang.  Sebenarnya di sana tertulis dilarang makan dan minum di area mesjid.  Tapi mungkin panitia udah dapat izin dari pengurus mesjid, jadi kita bisa makan di teras samping.  Sengaja dipilih tempat itu biar nggak terlihat banyak orang.

 

Selesai makan kita bersiap-siap naik bis.  Melihat pin Bike to Work di ransel Wahyudi, seorang lelaki menyapanya.  Ia kira Wahyudi dari Bike to Work chapter Bandung.  ‘Nggak.  Saya dari Jakarta.  Ini pin saya dapat dari irma.  irma dapat dari Nirwana,’ papar Wahyudi.  Lalu kita pun kenalan.  Cowok itu bernama Gustar.  Ternyata dia juga kenal sama Nirwana.  ‘Nirwana pernah minta tolong saya cariin komponen sepeda yang murah.  Tapi saya belum sempat,’ katanya.

 

Naik ke atas bis.  Seperti biasa irma pilih tempat duduk di sini kanan.  Dapat di kursi nomor dua dari depan.  Di depan kita duduk Hanafi – Chief Designer nya Mahanagari – beserta istrinya Hilda dan putranya Maliki.  Di depan Opa Felix duduk membelakangi jalan sehingga menghadap kita-kita para peserta acara ini.  Opa Felix – nama lengkapnya Felix Feitsma - adalah tour guide special interest, pemandu wisata untuk objek yang nyeleneh alias nggak umum.  Bahkan cara beliau berpakaian pun unik.  Ala Sunda Buhun.  Mengenakan ikat kepala khas Sunda, baju kampret putih ditutupi semacam surjan warna biru, bawahan kain lurik biru sebatas lutut, dan bakiak kayu.  Bakiak tersebut tidak dilengkapi dengan tali yang menahan punggung kaki.  Ada semacam tuas yang harus dijepit oleh jempol dan telunjuk kaki agar bakiak tetap menempel pada kaki.  Punggung Opa Felix menggemblok keranjang dari anyaman.  Pada bahunya menggantung tas dari buah maja yang dikeringkan.  Tiap kali beliau jalan terdengar suara kletrek-kletrek dari tas itu, akibat goyangan aneka gantungannya yang terbuat dari biji-bijian.

 

Sepanjang jalan Opa Felix bercerita tentang tempat-tempat yang kita lewati.  Tapi mungkin karena beliau juga seorang pengajar, jadi beliau sempat juga ngajar tentang kiat-kiat dalam memandu.  ‘Bis merupakan kendaraan untuk tour yang paling nyaman.  Kita bisa berkumpul bersama-sama.  Tapi ini tidak dibutuhkan,’ beliau menunjuk televisi di atasnya.  ‘Sebaliknya, ini sangat penting,’ Opa Felix mengetuk microphone yang dipegangnya.  Oh, mungkin tv tersebut untuk menonton film ‘A Journey to Forgotten Past’ seperti dibilang dalam rundown acara jalan-jalan ke Pasir Pawon dan Gua Pawon.  Eh, ngomong-ngomong filmnya jadi diputar nggak sihh ??

 

Banyak lagi cerita Opa Felix tapi mungkin karena kekenyangan setelah makan siang irma jadi ngantuuuuuukkk sekali dan tertidur.  Wahyudi pun demikian.  Duh, jadi nggak enak dengan Opa Felix.  Tapi mata ini nggak bisa diajak kompromi.  irma baru terbangun saat bis melewati Situ Ciburuy.  ’Situ Ciburuy yang kata lagu Bubuy Bulan lauknya hese dipancing,’ Opa Felix mengutip syair satu lagu Sunda yang ngetop banget.  Opa Felix bilang memang benar ikan di sana susah dipancing.

 

Memasuki Tagogapu, Padalarang.  irma ingat dulu kalau mau ke Jakarta selalu lewat sini.  Duluuuuu waktu irma SD.  Jauh sebelum ada jalan tol Purbaleunyi.  Ingat kalau memasuki daerah ini ada tiga hal yang selalu irma temui : (1) jalan berkelok-kelok yang bikin mabok, (2) pabrik kapur kiri-kanan sepanjang jalan, (3) JAMBU AIR !

 

Iya, dulu di sini banyak sekali yang jualan jambu air.  Hampir setiap halaman rumah ada pohon jambu air di halaman.  Dan di bawah pohon itu pemilik rumah ngegelar meja buat jualan jambu air.  Jambunya merah-merah.  Ngeliatnya aja udah kebayang manis dan banyak airnya.  Seger banget.  Tapi itu dulu.  Sekarang rumah-rumah itu malah pada habis halamannya.  Nggak ada lagi pohon jambu air di pekarangan.

 

Bis berhenti.  Kita turun lalu jalan kaki mendaki.  Jalan tersebut merupakan tempat lalu lalang truk pengangkut batu-batu kapur.  Opa Felix menunjuk ke kejauhan, ’Tuuuh ... dari sini kita bisa lihat jalan tol.’  Oh rupanya itu jalan tol Purbaleunyi yang menghubungkan Bandung dengan Jakarta.  Saat jalan yang kita lalui berbelok dan makin menanjak kita diminta berhenti.  Ada apa nih ?

 

Oh rupanya Pak Budi bercerita tentang Karang Panganten.  Di seberang sana  ada pegunungan kars membentuk orang-orang sedang beriring-iring.  Sambil memandang pegunungan tersebut kita dengarkan Pak Budi bercerita.  Konon itu adalah iring-iringan orang yang akan mengiringi Sangkuriang dan Dayang Sumbi saat pernikahannya.  Makanya disebut Karang Panganten.  Tapi apakah karena pernikahan itu gagal lalu mereka jadi batu ?  Kok seperti legenda Malin Kundang ya ??

 

Pak Budi bilang, di balik Karang Panganten terdapat penggalian batu gamping besar-besaran.  Ternyata mudah saja melakukan penggalian di sini.  Cukup bermodalkan izin dari Camat setempat !  Batu gamping hasil penambangan diangkut ke pabrik-pabrik kapur untuk diolah menjadi kapur tohor (CaO).  Bukan kapur barus ya, karena kapur barus berasal dari naphtalene, salah satu fraksi minyak bumi.  Kapur tohor merupakan bahan baku industri.  Banyak digunakan dalam pembuatan cat, bahan pelapis, semen, kosmetik bahkan juga untuk pakan ternak.  Karena banyaknya permintaan maka banyak pegunungan kars ditambang untuk diambil batu gampingnya.  Pak Budi cerita satu pegunungan gamping di Yogya sudah habis ditambang.  Menyedihkan.  Apakah pegunungan kars Rajamandala akan mengalami nasib yang sama ??  Hiks. 

 

Hujan turun rintik-rintik.  Kita bergegas kembali ke bis.  Bis kembali menyusuri jalan raya Padalarang.  Kemudian berbelok masuk jalan tanah berbatu-batu dan berhenti di depan satu pabrik kapur.  Dari sana kita berjalan kaki ke Pasir Pawon.  Dalam bahasa Sunda ’Pasir’ itu artinya bukit.  Kebayang dong berarti kita akan mendaki lagi.  irma perhatikan Opa Felix sudah mengganti bakiak kayunya dengan sandal jepit.  He eh, ta’ kirain beliau akan mendaki dengan tetap memakai bakiak.

 

Seorang lelaki menghampiri Opa Felix dan Ute, asistennya.  Rupanya ia dari Snapling.  Di Museum Geologi tadi Opa Felix sempat bercerita tentang Snapling.  Snapling adalah komunitas pemuda pencinta alam dari sekitar Pasir Pawon.  Awal kegiatan mereka adalah panjat tebing.  Tau kan, di Padalarang ada Citatah yang terkenal sebagai tempat panjat tebing.  Sekarang Snapling telah menjadi Kompepar – Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata.  Bersama-sama Opa Felix dan Ute, Snapling mempopulerkan Pasir Pawon agar selamat dari penggalian habis.

 

Pendakian kita ke Pasir Pawon didampingi beberapa personal Snapling.  Mereka telah memasang bendera-bendera Snapling warna jingga cerah sebagai penanda jalan.  Kata Opa Felix, tadi mereka juga mempertimbangkan untuk membuat WC darurat terutama untuk para peserta perempuan (he eh kalau laki-laki mau pipis kan tinggal cari belakang pohon aja, hahahaha).  Begitu perhatiannya Snapling sehingga mereka sampai memikirkan hal-hal semacam itu.  Terima kasih ya.

 

Di puncak Pasir Pawon kita menjumpai stone garden alias taman batu.  Disebut demikian karena di sana banyak tonjolan-tonjolan batu sisa karstifikasi.  Hujan yang terjadi selama beribu-ribu tahun mengakibatkan erosi batuan gamping pada Pasir Pawon.  Air hujan melarutkan sebagian material dalam batuan.  Akibatnya terbentuk tonjolan-tonjolan batu seperti menhir atau stonehenge di Inggris.  Bedanya stonehenge dibangun oleh manusia, taman batu di Pasir Pawon terbentuk oleh alam.

 

Pada batu-batu di taman batu ini kita bisa melihat fosil koral dan hewan laut yang terperangkap dalam batu.  Hal ini menunjukkan bahwa jelas bahwa dulu daerah ini merupakan laut.  Tapi sekarang ?  Ia berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.  Alangkah kontrasnya.  Seperti yang Tita bilang dalam blognya, 'What a weird feeling … being on top of a hill and under the sea at the same time.’ 

 

Lanjut berjalan.  Opa Felix ingatkan kita untuk berhati-hati jangan sampai menginjak tanaman.  Di Pasir Pawon itu banyak kebun milik penduduk setempat.  Opa Felix mencabut satu tanaman kacang, menunjukkan bunga dan bijinya.  ’Ini pohon kacang bogor,’ Opa Felix menunjuk tanaman kacang di tangannya.  Kacang bogor ?  Tapi ini kan kita di Padalarang ?  Opa Felix pun terkekeh, ’He he iya.  ini kacang bogor yang tumbuh di Padalarang.’

 

Hujan kembali turun.  Beberapa orang dari rombongan numpang berteduh dalam bilik-bilik bambu yang ada di kebun-kebun milik penduduk setempat.  Mungkin itu tempat mereka rehat saat kerja di kebun.  irma dan Wahyudi pun sempat masuk ke dalam salah satu bilik saat irma perlu mengganti batere kamera yang soak.  Di sana balai-balai dan potongan-potongan ranting bekas dibakar.  Mungkin bilik ini digunakan pemiliknya untuk berteduh dan menghangatkan diri saat kehujanan di kebun.  Setelah hujan agak reda kita lanjut berjalan.

 

Sebenarnya hujan cuma rintik-rintik.  Tapi cukup mengganggu perjalanan.  Kurang praktis pake payung karena kita memerlukan kedua tangan untuk berpegangan.  Jalan tanah yang kita lalui licin sekali.  irma putuskan untuk tidak memakai payung.  Sebagai ganti irma pake jas hujan.  Tapi karena hujan turun berhenti turun berhenti dan juga ternyata make jas hujan tuh ternyata malah bikin badan gerah dan keringatan, jadi jas hujannya cuma irma sampirkan di kepala.  Kayaknya lain kali mendingan pake jas hujan model ponco aja deh. 

 

Sebelum menuruni Pasir Pawon kita singgah ke satu makam yang dikeramatkan.  Tidak jelas siapa yang dimakamkan di sana tapi makam tersebut sering kali dikunjungi orang.  Biasalah, memohon berkat.  Opa Felix cerita, satu waktu saat menjelaskan tentang makam itu beliau berdiri di atas temboknya.  Tidak ada maksud apa-apa hanya sekedar agar para peserta tournya bisa melihat beliau lebih jelas.  Siapa sangka ternyata malam harinya Opa Felix ’diganggu’.  Perlu bantuan seorang paranormal untuk menghilangkan gangguan tersebut.  ’Maka dari itu sekarang saya berdiri di sini,’ Opa Felix menunjuk tempatnya berdiri.  Baru irma perhatikan alas kaki Opa Felix sudah diganti lagi.  Kali ini beliau pakai sepatu kain hitam yang membungkus kaki hingga tinggi sebetis.  Seperti sepatu yang dipakai ninja.

 

Lanjut berjalan.  Senangnya, kita berangkat dalam satu rombongan yang kompak.  Saling bantu dalam kesulitan.  Kita berpegangan tangan saat menuruni jalan yang licin.  Tessi di depan irma kerepotan karena satu tangan berpegangan pada Mila, satu lagi mengamankan kameranya.  Mungkin caranya Wahyudi bisa ditiru.  Ia memasukkan kamera ke dalam jaket.  Akibatnya perut dia jadi membuncit seperti ibu hamil, hihihi.

 

Wahyudi juga menemukan cara efektif untuk melalui turunan licin tanpa terjatuh.  Dia jalan mengangkang sehingga kakinya menjejak rumput di pinggiran jalan tanah.  Dengan demikian dia tidak akan menginjak tanah licin.  Jadi dia nggak perlu bergaya skating seperti irma dan yang lainnya.  Nggak terhitung berapa kali ada yang jatuh.  Olivier – satu-satunya peserta bule – malah sempat bermain perosotan.  Ia terpeleset lalu nggelungsur sepanjang jalan menurun.  Tapi dia malah ketawa-ketawa.  Tidak ada yang mengeluh dalam rombongan kita.  Bahkan Teh Ririn yang bawa anak kecil tetap semangat berjalan.  Juga menyemangati anaknya, peserta termuda dalam rombongan ini.  ’Lihat Kak, sepatu Kakak jadi bersih lagi kan,’ ujarnya kepada putranya.  Rumput yang basah karena hujan membersihkan sepatu kita dari lumpur.

 

Akhirnya kita sampai di jalan besar.  Di sini rombongan terbagi dua.  Satu rombongan kembali ke bis untuk diantar ke Gua Pawon.  Rombongan satu lagi menuju Gua Pawon dengan berjalan melalui turunan frustrasi.  irma dan Wahyudi memilih rombongan kedua.  Kapan lagi coba kita menjajagi turunan frustrasi ?

 

Sebenarnya namanya tanjakan frustrasi.  Tapi karena kita menuruninya jadi kali itu kita sebut turunan frustrasi.  Dinamakan tanjakan frustrasi konon karena medannya yang curam dan panjang.  Sehingga yang menyusurinya pun merasa frustrasi, kok nanjaknya nggak habis-habis.  Untuk keamanan Snapling telah memasang tali untuk kita berpegangan.

 

Ternyata irma duluan yang berjalan menuju turunan frustrasi.  ’Terus aja ikutin jalan ini.  Nanti ketemu tali yang udah dipasang Snapling,’ Opa Felix menunjuk jalan setapak di hadapan irma.  Pelan-pelan irma jalan menurun menyusuri jalan tersebut.  Di beberapa tempat yang kelihatannya licin irma akan mengubah posisi badan agak menyamping jadi bergaya skating.  Setelah beberapa saat berjalan tampaklah tikungan beserta tali merah yang dibilang Opa Felix.  irma berseru gembira.  Tapi mungkin karena terlalu gembira maka irma jadi pecah konsentrasi dan tidak memperhatikan jalan.  irma pun terpeleset jatuh ngegelungsur dengan kepala di depan.  Tidak sempat meraih semak atau rerumputan.  irma meluncur cepat dengan dengan posisi badan tengkurap.  Terdengar teriakan Wahyudi dari belakang, ’IRMAAAAAAAAAAA ...... !!!’

 

Hupppp ...... tepat sebelum meluncur melewati tikungan irma berhasil menangkap tali merahnya Snapling.  ’I got it !  I got it !  I’m okay !’ irma membalas seruan Wahyudi.  Sok keren banget ya, pake bahasa Inggris.  Hehehehehe.  Pada saat yang bersamaan dari balik tikungan muncul seorang personal Snapling membantu irma berdiri.  Pada kemeja denimnya disulam nama ’Deni Rimba’. 

 

Selanjutnya Deni menuntun irma menuruni turunan frustrasi.  Bukan, Deni bukan memegang tangan irma karena kedua tangan irma berpegangan pada tali.  Tapi Deni menjejakkan kakinya di hadapan kaki irma lalu ia bergeser selangkah demi selangkah mundur.  Jadi ke mana kaki ia melangkah, ke sana kaki irma mengikuti.  Deni berjalan mundur, irma bergerak maju.  Demikian cara ia menuntun irma melewati turunan frustrasi.  Berikutnya irma sadari ternyata untuk menuruni turunan curam seperti ini lebih enak berjalan mundur seperti yang Deni lakukan.  Kalau maju malah cenderung mau jatuh.

 

Kiranya bukan cuma Deni yang menuntun irma.  Di satu tempat (masih di turunan frustrasi) sudah menunggu personil Snapling yang lain.  Ia lanjut menuntun irma turun sementara Deni mendaki tanjakan frustrasi untuk menuntun peserta lain di belakang irma (atau yang memerlukan bantuannya).  Personil Snapling berikutnya akan menuntun irma hingga bertemu personil Snapling lainnya.  Setelah menyerahkan irma kepada personil tersebut, ia akan mendaki dan menuntun anggota rombongan berikutnya yang dituntun Deni Rimba.  Begitu seterusnya hingga terakhir irma diserahkan kepada seorang personil Snapling yang paling muda.  Ia berjaga di pos paling bawah dari turunan frustrasi.  Usianya mungkin lebih muda dari Abang Kiddie.  Ia memegang tangan irma.  Bergandengan tangan kita menuruni bagian akhir turunan frustrasi.  Saat akhir turunan sudah terlihat, ia pun berkata, ’Teh, kayaknya kalau dari sini bisa sendiri kan yah ?’  irma pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepadanya.  Lelaki kecil itu lalu mendaki.  Jas hujan ponconya yang warna biru tua berkibar-kibar di balik punggungnya. 

 

Di akhir turunan frustrasi ada saung.  Di sanalah irma duduk, melihat satu demi satu anggota rombongan menyelesaikan turunan frustrasi dengan berbagai gayanya.  Wahyudi berlari-lari nyaris nabrak saung karena nggak bisa ngerem.  Pak Budi juga berlari-lari turun, tapi pas irma photo kok jadinya seperti beliau sedang berjoget.  Beliau mengajak irma toss saat sampai di akhir turunan.  Sedangkan Deni dan Tika yang nyampe barengan bersorak gembira saat berhasil menyelesaikan turunan.  Oh ya, ini bukan Deni Rimba dari Snapling.  Tapi Deni yang satu kantor dengan Tika kerja di Combiphar. 

 

Lagi kita duduk-duduk di saung, tampak dua orang perempuan pake payung berjalan mendaki tanjakan frustrasi.  Santai sekali mereka berjalan.  Tapi cepat.  Tahu-tahu saja mereka sudah di puncak bukit.  Hah, kok bisa.  Nggak kelihatan kepayahan seperti kita lagi.  Pak Budi pun nyeletuk, ’Kata teteh-teteh itu, siapa bilang ini tanjakan frustrasi ?  Ini saya santai aja kok naiknya.’  Hahahaha.  Lalu Pak Budi menunjuk Pasir Masigit di kejauhan.  Tampak sebagian dari bukit tersebut sudah dikerok untuk diambil batu kapurnya.  ’Nggak tau berapa lama lagi itu bisa bertahan,’ Pak Budi bilang.  Sedih ya. 

Ternyata di saung inilah titik temu kita dengan rombongan yang naik bis.  Saat semua rombongan yang melewati turunan frustrasi telah sampai di akhir turunan, bersamaan pula dengan datangnya rombongan dari bis.  Yang pertama irma lihat adalah Hanafi menggendong Maliki dalam ransel kangoroo warna kuning di punggungnya.  Berikutnya Olivier yang menyapa, ’Ada yang lebih kotor dari saya ?’  Hahahahaha, kayaknya kita semua pada dekil belepotan lumpur.

 

Tapi meski dekil begitu nggak ada yang nggak senang.  Semua gembira.  Apalagi waktu diberitahu kalau Gua Pawon sudah di depan mata.  Kita jadi makin semangat.  Ternyata dari turunan frustrasi itu tinggal belok kanan aja.  Berjalan sekitar 100 meter, sampailah kita di Gua Pawon.  Tapi sebelum ke sana kita photo bersama dulu.  Abis itu kita jalan ke Gua Pawon.  Di depan gua ada papan nama Gua Pawon beserta penjelasan bahwa gua tersebut termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-undang no 5 tahun 1992.

 

Snapling sudah menyiapkan tali untuk membantu kita naik ke Gua Pawon.  Abis naik, lalu nyeberang pake jembatan anyaman.  Yang pertama kita temui di dalam gua adalah satu ruang besar dengan langit-langit tinggi.  Di satu dinding gua terpasang papan putih bertuliskan, ‘Ruang Utama’.  Hehehe, kayak rumah aja ya.  Tapi emang diperkirakan gua itu dulunya dipake untuk tempat tinggal Manusia Pawon.

 

Ruang utama itu gelap dan berbau guano, kotoran kelelawar.  Jika kita mendongak, tampaklah kelelawar-kelelawar itu tidur bergelantungan di langit-langit gua dengan kepala di bawah.  Kita diingatkan untuk tidak berisik karena kelelawar-kelelawar itu akan bangun dan beterbangan jika mendengar kegaduhan.  Dalam buku ’Amanat Gua Pawon’ Pak Hanang Samodra menulis ada 5 jenis kelelawar yang hidup di dalam Gua Pawon dan sekitarnya.  Mereka adalah kelelawar jenis Lalai Kembang, Cecadung Besar, Tayo Kecil, Tomusu Australi, dan Lelanai Hardwick.  Makanan mereka adalah serangga, madu, dan serbuk sari.  Kelelawar pemakan madu dan serbuk sari membantu penyerbukan tanaman, sedangkan kelelawar pemakan serangga mengendalikan penyebaran penyakit malaria karena mereka memakan nyamuk penyebar penyakit tersebut.  Namun sayang, kelelawar-kelelawar ini sering diburu untuk dibuat lauk atau obat asma.  Huukkkk ...... irma juga pengidap asma tapi sampai sekarang irma nggak pernah mau disuruh makan kelelawar !

 

Dari ruang utama kita berbelok masuk ke dalam ruang terbuka yang terang karena langit-langit gua telah runtuh.  Dindingnya coklat kemerahan seperti oker.  Cantik sekali tertimpa matahari sore.  Ada satu kamar di ruang terbuka ini, tepat di sebelah kanan dari pintu yang kita lalui dari ruang utama.  Di dalam kamar tersebut terdapat replika kerangka Manusia Pawon.  Sayang pintu pagarnya terkunci sehingga kita tidak bisa melihat replika itu.  Opa Felix berusaha mengoprek-oprek gemboknya tapi hasilnya nihil.

 

Jadi kita duduk-duduk saja di ruang terbuka itu, yang ternyata oleh penduduk setempat disebut Gua Kopi karena dulu dipakai sebagai lahan produktif bertanam kopi.  Sampai sekarang pun di sana masih banyak pohon.  Opa Felix mengeluarkan sebatang rokok.  Yang unik cara beliau menyalakan api.  Bukan dengan korek api atau lighter, tapi pakai cara manusia zaman batu.  Opa menggesek dua batu sehingga terbentuk percikan api.  Percikan tersebut akan menyambar lembaran-lembaran halus warna coklat yang sudah beliau siapkan.  Lembaran-lembaran halus tersebut dinamakan lum-lum, terbuat dari rambut-rambut halus pelepah aren yang sudah tua.  Kita asik memperhatikan Opa Felix membuat api ala purba begitu.

 

Sambil duduk-duduk Pak Budi bercerita tentang Manusia Pawon.   Pada tahun 2000, Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) melakukan pemindaian geomagnet di dalam Gua Kopi.  Pertimbangan pemilihan gua tersebut adalah karena ruangan itu paling strategis sebagai ruang hunian dan penyimpanan dibandingkan ruang-ruang lain di dalam Gua Pawon.  Hasil pemindaian menunjukkan terdapat benda-benda diamagnetik (tidak mempunyai sifat magnet) pada lapisan sedimen Gua Kopi.  Artinya, di dalam sedimen tersebut terdapat benda-benda bukan logam, seperti kayu, arang, tulang, atau benda organik lainnya. 

 

Penelitian dilanjutkan dengan penggalian parit uji.  Pak Budi bilang, penggalian ini ala geologi.  Biasa dilakukan untuk mengetahui kandungan material dalam sedimen.  Hasilnya adalah penemuan aneka perkakas dan benda budaya seperti alat batu, alat tulang, pecahan tulang binatang, gerabah, arang, dan bagian dari hewan laut seperti kepiting dan cangkang siput.  Alat batu yang ditemukan berbeda dengan batu-batuan di sekitar Gua Pawon.

 

Hasil temuan tersebut dilaporkan kepada para ahli arkeologi untuk ditindaklanjuti.  Pertengahan tahun 2003 Balai Arkeologi Bandung melakukan penggalian secara sistematik di dalam Gua Kopi.  irma ingat dulu penjelasan dari seorang guru besar arkeologi UI, penggalian ala arkeologi dilakukan secara hati-hati dan selapis demi selapis agar tidak merusak objek.  Pada setiap lapisan dilakukan pengamatan dan pencatatan.

 

Penggalian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung menghasilkan temuan kerangka manusia lengkap dengan posisi meringkuk.  Semuanya ada dua buah tengkorak lengkap dengan rahang gigi, dan dua kerangka lengkap yang masih utuh dari kepala hingga tulang kaki.  Selain itu ditemukan pula perhiasan dari gigi ikan hiu dan taring hewan.  Pada saat penggalian Pak Lutfi Yondri – Ketua tim penggalian Balai Arkeologi Bandung – memperkirakan kerangka manusia itu berasal dari masa 11 – 10 ribu tahun yang lalu dan merupakan generasi pertama manusia mongolid.  Namun hasil uji karbon menunjukkan fosil kerangka tersebut berusia sekitar 9 ribu tahun. 

 

Tentu temuan kerangka Manusia Pawon itu menggembirakan.  Karena selama ini belum pernah ditemukan jejak manusia purba di Jawa Barat.  Selama ini sisa-sisa manusia purba banyak ditemukan di Jawa Tengah terutama Sangiran.  Tau kan, Phytecanthropus erectus yang terkenal itu ?  Diharapkan penemuan kerangka Manusia Pawon tersebut bisa menjawab pertanyaan akan karuhun urang Sunda.

 

Sekarang fosil kerangka Manusia Pawon yang asli disimpan di Balai Arkeologi Bandung.  Yang disimpan di Gua Pawon – tepatnya Gua Kopi – adalah replikanya.  Mungkin sebenarnya lebih banyak lagi fosil di Gua Pawon ini.  Cuma sayang belum dilakukan penggalian lagi.  Selama ini para ahli hanya bisa mengira-ngira kehidupan Manusia Pawon dulu.  Apakah mereka bercocok tanam, berburu berpindah-pindah, atau penjelajah.  Penemuan alat batu yang berbeda dengan batu-batuan sekitar Gua Pawon dan perhiasan gigi hiu menunjukkan bahwa Manusia Pawon telah mengadakan hubungan dengan manusia di daerah lain.  Mereka melakukan pertukaran barang. 

 

Selanjutnya kita pindah ke ruangan lain yang disebut kamar tujuh.  He eh, memang ada banyak kamar di dalam Gua Pawon.  Makanya Opa Felix bilang bisa aja gua ini dijadikan semacam hotel.  Tapi yang nginap di sana mesti hidup ala manusia gua, hehehe.

 

Di kamar tujuh ada jendela menghadap bentang alam Cibukur.  Indah pemandangannya.  Nggak heran banyak yang betah berlama-lama duduk di sana.  Gua Pawon memang banyak dikunjungi, tapi banyak pula pengunjungnya meninggalkan jejak dalam bentuk coretan-coretan di dinding.  Hih, merusak banget !  Kenapa sih orang-orang tuh nggak bisa menahan tangannya untuk berbuat iseng ?  Kalau emang gatal pengen nulis, ya kayak irma gini dong, nulis catatan perjalanan.

 

Cibukur adalah daerah yang subur dengan sumber mata air yang nggak pernah kering meski di musim kemarau.  Konon menurut legenda Sangkuriang, setelah gagal menikahi ibunya Sangkuring pun mengamuk.  Apa saja yang ada di hadapannya ia tendang sehingga porak-poranda.  Perahu yang hampir selesai jadi gunung Tangkuban Parahu.  Dapur menjadi Pasir Pawon.  Kukusan menjadi Pasir Kukusan.  Tempat beras menjadi Pasir Pabeasan.  Lumbung menjadi Pasir Leuit.  Sedangkan sisa-sisa makanan berserakan membentuk aliran sungai Cibukur.  Mungkin sisa-sisa makanan itu yang membuat Cibukur menjadi subur ya.  Di sana banyak sawah dan lahan pertanian.

 

Banyak di antara kita yang memotret pemandangan Cibukur dari jendela kamar tujuh.  Konon katanya spot ini bagus untuk bikin photo prewedding.  Tapi kebayang ribetnya manjat-manjat ke atas Gua Pawon pake kebaya.  Sampai sana pasti udah lecek dan dekil seperti sekarang ini, hehehe.  Tapi biar kucel gitu kita tetap pada semangat untuk photo-photo.  Mita yang semula menjadi model photonya Tessi malah beberapa kali diminta bergaya oleh para tukang photo lainnya.  Hihihi, Mita sampai jadi grogi sendiri.  Tapi dia bilang, ‘Asiiiiiikkkk …… banyak yang photo aku !’  Lalu Mita bergaya lagi.

 

Sambil menikmati pemandangan Cibukur tersebut kita mendengarkan Opa Felix memperkenalkan satu per satu personal Snapling yang sejak tadi mendampingi kita dari Pasir Pawon.  Opa cerita bagaimana Snapling yang semula merupakan perkumpulan pemuda (setempat) pencinta alam kemudian menjadi Kompepar – Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata.  Snapling banyak mengenalkan pentingnya menjaga kelestarian Pasir Pawon dan Gua Pawon kepada masyarakat.  Memang Gua Pawonnya telah menjadi benda cagar budaya yang dilindungi Undang-undang no 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.  Tapi Pasir Pawonnya terancam musnah karena penggalian batu gamping yang tidak habis-habisnya.  Pak Budi mengusulkan kepada Eko – juru bicaranya Snapling saat itu – untuk aktif menulis di kolom surat pembaca pada surat kabar Jawa Barat.  Kalau perlu pada harian nasional.

 

Hari makin gelap.  Sudah waktunya kita pulang.  Meski enggan rasanya meninggalkan gua ini, tapi kan kita bukan Manusia Pawon yang menghuninya.  Jalan keluar gua, meniti jembatan bambu, kita lalu berdiri di depan gua untuk photo bersama terakhir kali.  Langit memerah senja.  Cantik pemandangan.  Setelah tadi sebelumnya langit kelabu karena mendung, hujan, mendung, hujan, berganti-ganti. 

 

Lagi photo bareng gitu tiba-tiba dari dalam ruang utama Gua Pawon keluarlah ...... kelelawar !  Bukan cuma satu, dua, tapi banyak !  Beriring-iringan mereka terbang pergi mencari makan.  It is bats’ feeding time !  Kita takjub melihatnya.  Lalu seseorang berseru, ‘Ituuuu … di sana lebih banyak lagi !’  Ternyata dari jendela lain beterbangan keluar kelelawar dari dalam gua.  Kita memperhatikan mereka hingga usai semua keluar dari Gua Pawon.  Eko Snapling bilang, kalau kita lihat dari atasnya Gua Pawon akan terlihat rombongan kelelawar itu seperti membentuk jalan atau alur.

 

Lanjut berjalan.  Kita jalan kaki ke bis.  Seperti biasa selalu irma yang terakhir karena irma masih asik potret-potret.  Sampai nggak bisa photo lagi karena langit makin gelap.  Eko Snapling tawarkan ikut boncengan motornya tapi irma bilang nggak pa-pa irma jalan kaki sampai ke bis.  Meski jalannya nanjak dan berlumpur.  Tapi kan kita rame-rame.  Ada Wahyudi dan dua orang wartawan responden Kompas di Bandung.  Ngosh-ngoshan kita sampai di bis.  Tapi semua merasa senang.

 

Duduk di dalam bis.  irma ketawa dengar percakapan dua orang di belakang irma.  Entah Tessi atau Mita yang bilang, ’Ini kaos kaki, cuci atau buang aja ?’  He eh, emang kita dekil banget.  Belepotan lumpur.  Bahkan kaos kaki dalam sepatu pun tetap kena lumpur.  Jadi nggak enak nih sama bapak supir bis.  Bisnya dia jadi kotor karena kita.

 

Lengkap semua sudah di dalam bis.  Bis pun berjalan.  Beberapa personal Snapling turut dalam bis.  Bersama Opa Felix dan Ute, mereka turun di markasnya di jalan raya Padalarang.  Nggak jauh dari Pasir Pawon.  Kemudian Ulu yang duduk di kursi depan cerita-cerita.  Sebelumnya Mahanagari juga udah pernah ngadain perjalanan ke Pasir Pawon dan Gua Pawon seperti ini.  Tapi baru kali ini melihat kelelawar pergi makan keluar gua.  Perjalanan sebelumnya mereka melihat pelangi.  Selalu ada keindahan dalam setiap perjalanan.  Pak Budi pun bilang meski udah berulang kali ke Pasir Pawon dan Gua Pawon tapi baru kali itu ia melihat bats feeding time.  Bagus ya.  Karena sulit memotretnya jadi tadi kebanyakan kita hanya terdiam memandangnya.  Merekam momen tersebut dalam ingatan.  Tapi Benben sempat merekamnya pake kamera.

 

Ada lagi ?’ tanya Ulu.  Haa, maksudnya apa nih ?  Oh maksudnya ada lagi nggak yang mau nyampein kesan-kesan perjalanan ke Pasir Pawon dan Gua Pawon tadi.  Tapi mungkin karena kita udah pada capek jadi nggak ada yang sanggup cerita.  ‘Ya udah kalau gitu saya mau duduk.  Saya … capek,’ Ulu tersipu-sipu.  Hahahahaha, ya istirahat aja.  Ngerti kok, kita yang peserta aja capek apalagi Ulu yang panitia.  Waktu Ulu duduk Wahyudi ketawa-ketawa melihat kakinya, ‘Hihihi, kakinya nggak kelihatan !’  Iya, kaki Ulu tertutup lumpur.  Coklat semuanya.  Antara tali sendal gunung dengan jari-jari kakinya nggak ada beda.

 

irma tidur dalam perjalanan ke Bandung.  Bangun saat bis melintas jalan layang Pasopati.  Bis turun, memasuki jalan Dago lalu berbelok ke Dipati Ukur dan berhenti di depan DU 21, tempat tokonya Mahanagari berada.  Udah hampir jam delapan malam.  Berloncatan kita turun dari bis.  Sebagian langsung pulang setelah saling melambaikan tangan.  Dadah, dadah, sampai ketemu lagi yaaa ......

 

Kebetulan di DU 21 ada tiga kamar mandi.  Letaknya berseberangan dengan mushola.  Tanpa lihat-lihat irma langsung masuk ke dalam salah satu kamar mandi.  Nggak betah banget nih pake baju basah belepotan lumpur gini.  Untung tadi baju ganti udah diamankan dibungkus plastik dalam tas.  Cuci muka, lalu irma berganti baju.  Baju, celana, pakaian dalam, bahkan kaus kaki pun irma ganti.  Enak rasanya pakai pakaian kering dan bersih gitu.  Tadinya pengen mandi juga.  Tapi nggak enak sama yang ngantri di luar nanti irma terlalu lama pake kamar mandinya.  Keluar kamar mandi, lhaaaa ...... baru ngeh ternyata di pintu kamar mandi tertulis ’Pria’.  Pantas tadi waktu irma buka pintu kamar mandi seorang pengunjung DU 21 yang baru keluar dari mushola mengerutkan kening menatap irma.

 

Wahyudi menunggu irma di depan toko Mahanagari.  ’Ini, udah aku beliin bukunya untuk kamu,’ Wahyudi serahkan dua buku kepada irma.  Tadi waktu di Museum Geologi Benben dan Pak Budi tunjukkan buku ‚Amanat Gua Pawon’ yang berisi tulisan-tulisan tentang Pasir Pawon, Gua Pawon, dan Manusia Pawon.  Menarik bukunya.  Makanya irma pengen beli.  Nggak disangka ternyata Wahyudi dah beliin duluan.  Dia juga beliin irma buku tentang Batik Pesisir.  He eh, tau aja kalau irma suka sekali batik.  Juga kain tradisional Indonesia lainnya.

 

Gantian Wahyudi ke kamar mandi untuk berganti baju.  Mudah-mudahan dia nggak salah masuk kamar mandi seperti irma, hahaha.  irma menunggu di dalam toko Mahanagari sambil melihat-lihat.  Wiraniaga yang jaga tokonya ramah sekali.  ’Seneng ya Teh, jalan-jalannya ?’ ia bertanya.  Iya, irma mengangguk.  Penuh semangat irma cerita perjalanan tadi.  Singkat aja.  Intinya sih kita pada main porosotan di Pasir Pawon, hehehe.  ’Ugh, sebenarnya pengen euy ikutan.  Tapi saya harus jaga toko,’ kata wiraniaga itu.  Yah mungkin lain kali bisa ikutan.  Tadi Benben dan Ulu bilang, nanti-nanti Mahanagari akan adakan lagi perjalanan ke Pasir Pawon dan Gua Pawon.  Iya, nggak pernah bosan main ke sana.  Kalau bisa pun irma pengen ikutan lagi.

 

Wah, dah jam setengah sembilan !  irma dan Wahyudi bergegas keluar dari DU 21.  Kita harus cepat-cepat ke tempat travel di jalan Sumbawa.  ‘Haiiii … ke mana ?’ beberapa peserta yang lagi duduk-duduk makan di kantin DU 21 menyapa.  ’Mau pulang.  Ke Jakarta.  Udah dulu ya, buru-buru nih ngejar travel,’ jawab kita.  Lalu kita saling melambaikan tangan.  Abis gitu irma dan Wahyudi lari-lari ke jalan Dipati Ukur.  Jalan dikit sampai ketemu angkot putih yang ke Riung Bandung.  Alhamdulillah.  Cepat dapat angkotnya.  Di angkot Wahyudi nanya sama pak supir, ’Pak, lewat Baraya ?’  Supirnya pun menjawab, ’Lewat.’  Jadilah ia menurunkan kita di ....... Café Baraya ! 

 

Yeeee … ini sih bukan Baraya yang kita maksud.  Tanya-tanya sama tukang parkir di depan café yang di jalan Riau itu, dia bilang ke jalan Sumbawa pake becak aja.  Ia pun berbaik hati menyetop satu becak yang sedang melintas.  Sebenarnya tukang becak itu katanya dia mau pulang.  Tapi mau juga dia mengantar kita.

 

Dari jalan Riau belok masuk jalan Aceh.  Asik juga, dah lama nggak naik becak di Bandung.  Sepanjang perjalanan ke tempat travel itu irma berpikir jalan Sumbawa tuh di mana ya ?  Rasanya sering dengar.  Ternyata, itu jalan dekeeeeeetttt banget sama sekolah irma, SMA 5.  Hahahaha, ketahuan deh dulu irma kuper banget ya.  Nggak pernah jalan-jalan.  Sampai nama jalan di dekat sekolah sendiri aja nggak tau. 

 

Sepuluh menit menjelang jam sembilan malam kita sampai di travel.  Wahyudi mengurus pembayaran.  Sebenarnya semula kita booking untuk yang jam delapan malam.  Tapi tadi sore waktu di Gua Pawon kita pikir kayaknya nggak keburu deh pake yang jam delapan.  Jadi Wahyudi telpon travelnya dan minta digeser ke yang jam sembilan malam.  Alhamdulillah masih ada tempat.  Mungkin karena malam Minggu ya, nggak banyak orang yang ke Jakarta.  Sebaliknya malah banyak orang Jakarta yang ke Bandung.

 

Nggak berapa lama kita diminta naik ke dalam Elf warna biru.  ’Wah naik Elf.  Kalau mesinnya ada apa-apa, aku malah jadi stress sendiri.  Apalagi dulu travel ini pernah komplain mesinnya nggak ada tenaganya,’ komentar Wahyudi.  Doooh ...... sempat-sempatnya Wahyudi masih mikirin kerjaan setelah penat berjalan seharian ini.  Emang kerjaan dia bikin mesinnya Elf.  Tapi syukurlah, perjalanan ke Jakarta lancar-lancar aja.  Nggak ada macet, mesinnya nggak mogok, dan yang penting : selamat kita sampai di rumah.  Aaaah, senangnya.  Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya ……

 

 

Jakarta, 16 September 2008

akhirnya selesai juga ceritanya setelah lama tertunda,

 dan panik karena filenya rusak

 

 

Referensi :

  • ‘Amanat Gua Pawon’ , Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar, Kelompok Riset Cekungan Bandung, April 2004
  • ‘Geowisata Sejarah Bumi Bandung’ , Budi Brahmantyo, Dhian Damajani, Seruni Kusumawardhani, T. Bachtiar, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi Pusat Survey Geologi, 2006
  • ‘Felix Feitsma, Pemandu yang Gandrung Tradisionalisme’ , Amir Sodikin, artikel di harian Kompas tanggal 6 Juni 2008
  • Hands-out ’I have been to Pasir Pawon’ by Mahanagari
  • Penjelasan Pak Budi Brahmantyo dan Opa Felix selama acara jalan-jalan ke Pasir Pawon dan Gua Pawon

photo-photonya ada di : http://eskrim.multiply.com/photos/album/57/Pasir_Pawon_Gua_Pawon