Thursday, November 15, 2007

Semalam di Naira

 

ir, kayaknya asik juga ya semalam di Banda Naira ...’

 

Itu yang Ela bilang waktu kita mau terbang ke Banda Naira.  Gara-gara Merpati pesawatnya rusak dan pesawat lainnya dipakai untuk rute lain, keberangkatan kita ke Banda Naira tertunda sampai dua kali.  Jelas kecewa.  Tapi mau gimana lagi.  Lebih baik kesempatan yang cuma semalam itu digunakan sebaik-baiknya.

 

Lupakan melihat sunrise dari atas Gunung Api, lupakan snorkling, diving, acara jalan-jalan kita kemarin difokuskan untuk menangkap momen fotografi sebanyak-banyaknya.  Maklum, di rombongan kita banyak fotografer.  Dan banyak banci foto juga.  Nggak ada satu pun yang nggak bawa kamera.

 

Alhamdullilah penerbangan Ambon – Banda Naira berlangsung lancar dan tepat waktu.  Jam setengah tujuh kita bertolak dari Bandar Udara Pattimura dengan pesawat Cassa.  Saat check-in kita sempat ketawa-ketawa karena di setiap boarding pass tertulis nama penumpang ‘9770’.  Jadi ada kembar sembilan bernama ‘9770’.  Hehehehe.

 

Itu baru mengenai boarding pass.  Saat melihat jam di bandara kita ketawa lagi.  Jam di counter check-in menunjukkan waktu 4.41.  Jam menuju ruang tunggu keberangkatan menunjukkan 21.41.  Nggak ada yang benar karena waktu sesungguhnya adalah pukul 5.41.  ‘Gue nggak ngerti kenapa itu jam waktu Makassar dipasang di sini,’ Lenny geleng-geleng kepala lihat jam di counter check-in.  Huehehehe, kalau yang di situ menunjukkan waktu Indonesia bagian Tengah, yang menuju ruang keberangkatan mungkin waktu GMT ya ??  (GMT =  Greenwich Mean Time, acuan waktu internasional)

 

Ada sepuluh orang penumpang dan 3 orang crew penerbangan.  Sembilan dari sepuluh penumpang adalah rombongan kita.  Selama penerbangan mereka pada tidur.  Ya gimana nggak ngantuk, jam setengah empat tadi kita udah harus bangun untuk berangkat ke bandara.  Cuma Mas Fahmi yang tetap terjaga selama penerbangan.  Ia terus memperhatikan GPS.  ‘Catat ya ir, kecepatan kita 325 km/h, ketinggian 2266 m dpl,’ katanya kepada irma.

 

Beruntung banget irma duduk di sisi sebelah kanan jadi bisa lihat Gunung Api saat kita mendekati Banda Naira.  Hujan turun saat kita mendarat.  Cepat sekali awan menutupi langit.  Pantas penerbangan ke Banda Naira dibatasi tidak boleh lebih dari jam 10 pagi.

 

Kita dijemput Pak Umar.  Dari sana kita ke hotel Maulana.  Ketemu lagi dengan Pak Dede dan Bu Siti.  Hei, Bu Siti sedang mengandung anak pertama !  Sudah lumayan besar kandungannya.  Lagi hamil gitu, Bu Siti masih tetap berenang nggak ya ??  Waktu SMA dulu Bu Siti menang lomba berenang dari Naira ke Gunung Api.  Nggak heran badannya atletis begitu.

 

Sarapan.  Abis gitu kita naik boat ke Pulau Sjahrir.  Di sana duduk-duduk makan nasi kuning menikmati suasana pantai.  Sempat lihat kawanan Lumba-Lumba berenang melompat-lompat.  Lalu kita ke Pulau Banda Besar.  Melihat peternakan mutiara, perkebunan pala, mendaki 350 anak tangga, ke Benteng Hollandia, rumah perkenier, dan perigi keramat.  Makam Nona Lantzius tidak kita kunjungi.  irma pikir teman-teman tidak terlalu tertarik untuk melihatnya.  Hujan sempat turun saat kita Banda Besar.  Cuaca saat itu memang mudah berubah-ubah.  Sebentar hujan, sebentar kemudian panas.  Sebentar baju kita basah kehujanan, nggak berapa lama kemudian kering lagi kena panas.  Pas banget nih dengan satu lagu dangdut, ‘... baaaju satu, keriiiing di badaaaan ...’

 

Setelah itu kita berperahu mengelilingi Gunung Api.  Melewati Pulau Karaka, gugusan Batu Angus, dan masuk ke dalam gua kelelawar.  Hoa, nggak mau lagi irma masuk ke sana ! 

 

Jam setengah empat kita berlabuh di dermaga hotel Maulana.  irma bergegas mandi.  Dekil banget baju dan badan kena air hujan, kecipratan lumpur, belum lagi keringat menempel.  Jam empat kita udah harus siap-siap untuk keliling Banda Naira.

 

Pertama kita ke Rumah Budaya Banda Naira.  Melihat benda-benda peninggalan Belanda ; lonceng perk, timbangan pala, baju senam kuno, uang logam VOC, pecahan keramik yang ditemukan di Banda, senjata kuno, perlengkapan tari cakalele, miniatur kora-kora.  Ada banyak lukisan di museum ini ; lukisan gubernur jenderal VOC, lukisan pembantaian 44 orang kaya Banda (syereeeemmm !!!), dan suasana Banda dulu.  Sama seperti tahun lalu, ibu penjaga museum memutar piringan hitam dengan gramophone kuno.

 

Lalu kita ke Rumah Sjahrir di sebelah Rumah Budaya.  Belanda mengasingkan Sjahrir dan Bung Hatta ke Banda Naira tahun 1936.  Sebelumnya mereka diasingkan ke Boven Digul, Papua.  Sebelum itu, mereka ditahan di penjara Cipinang, Jakarta.  Sebelumnya lagi, di penjara Sukamiskin, Bandung.

 

Sjahrir dan Hatta diasingkan di Banda Naira hingga tahun 1942.  Selama di sana mereka mengajar anak-anak Banda.  Saat itu cuma ada satu sekolah Belanda di Banda Naira, dan tidak semua anak-anak Banda boleh bersekolah di sana.  Sekolah Hatta dan Sjahrir ini diadakan di Rumah Hatta yang terletak di sebelah penjara.

 

Dari Rumah Sjahrir kita ke Rumah Hatta.  Kita melewati rumah Captain Christopher Cole, seorang kapten angkatan laut Inggris yang menaklukkan Benteng Belgica dan pulau Naira dari Belanda pada tanggal 10 Agustus 1810.  Sayang sekali, rumah ini kondisinya mulai rusak tak terurus.  Apakah pihak kedutaan Inggris nggak berkunjung ke sini ya ??  Biasanya kan kedutaan tuh perhatian banget sama peninggalan-peninggalan sejarahnya.  Seperti kedutaan Belanda yang tetap mengelola pemakaman Belanda dan kedutaan Australia yang memelihara Ambon War Cemetery.

 

Sampai di Rumah Hatta.  Tante Emy – penjaga Rumah Hatta yang irma temui tahun lalu – sedang ke Ambon.  Jadi Pak Umar yang membukakan rumah itu untuk kita.  Rumah tersebut dipugar pada tahun 1980 – 1983 mengikuti bentuk aslinya.  Ada foto-foto Bung Hatta dan istrinya saat berkunjung ke Banda Naira untuk memulai pemugaran.  Ternyata saat itu yang tinggal cuma tembok depannya saja.  Usai pemuugaran Rumah Hatta diresmikan Dirjen Kebudayaan dan Pendidikan pada tanggal 20 Oktober 1985.

 

Ela menemukan kursi yang enak untuk duduk bermalas-malasan di teras belakang Rumah Hatta.  Sementara teman-teman lain berpura-pura menjadi murid-murid Bung Hatta, duduk belajar di meja-meja kelas.  Hahaha, jadi ingat tahun lalu.  Waktu irma pura-pura jadi ibu guru dan Ela, Wahyudi dan Adep jadi muridnya.  Ibu guru yang tidak sukses.  Masa’ dua orang muridnya asik main dan seorang lagi tidur saat guru sedang mengajar ??

 

Kemudian kita ke rumah dr. Tjipto.  Dokter Tjipto Mangunkusumo diasingkan ke Banda Naira dari tahun 1928 hinggal 1940.  Sayang sekali, saat kita ke sana kemarin penjaganya sedang ke Ambon.  Lagi-lagi ke Ambon !  Kenapa ya para penjaga rumah sejarah itu pada ke Ambon ??  Padahal di dalam rumah itu kita bisa melihat-lihat peninggalan dr. Tjipto.  Hmm, yah tapi nggak sebagus yang di Rumah Sjahrir sih, apalagi yang di Rumah Hatta.  Koleksi Rumah Hatta tuh, rapiiii sekali.  Terawat.  Rumahnya pun terang dan bersih.  Sementara bagian dalam rumah dr. Tjipto itu gelap dan suram.

 

Selanjutnya kita ke Istana Mini.  Melihat tulisan seorang tawanan Prancis di kaca sebelum ia bunuh diri, cekungan di dinding yang nggak pernah bisa ditambal, patung Willem III, dan berfoto ala kabinet presiden di anak tangga depan istana.  Huehehehehe ...... kabinet apaan yang tampang anggotanya pada jahil gini ??

 

Trus kita ke Monumen Perigi Rante.  Di sini tertulis nama-nama tokoh perjuangan yang pernah diasingkan ke Banda.  Ternyata bukan cuma Bung Hatta, Sjahrir, dan dr. Tjipto.  Masih banyak lainnya.  Pada prasasti tertulis juga nama-nama Orang Kaya Banda yang dibunuh JP Coen di tahun 1621, beserta kepergian rakyat Banda yang tersisa.  Ada yang melarikan diri ke Pulau Kei, ada yang ke Pulau Banda Eli.

 

Setelah itu kita ke Gereja Tua.  Abis gitu mengejar sunset ke Benteng Belgica.  Malamnya kita makan enak di hotel Maulana.  Enak buangetttt dan berlimpah.  Dianty sampai komentar, ‘Tiga hari saja kita begini terus, bisa jadi hippo kita.  Kerjaannya nanti hanya berendam di air dan naik ke permukaan untuk makan !’  Hahahaha, Dianty bisa aja bikin perumpamaan J

 

‘Gimana, enak makanannya ?’ seseorang bertanya kepada kita seusai makan.  Ternyata itu putra Pak Des Alwi.  Kalau nggak salah namanya Pak Reymon.  Ramah sekali dia ngobrol dengan kita.  Nanya siang tadi kita ke mana aja.  Waktu tau kita ke Banda Besar, ia bertanya, ‘Kalian ke kuburan sejengkal ?’

 

Haa, kuburan sejengkal ?  Apaan tuh ?  Baru kali ini irma dengar.  Ternyata itu kuburan peninggalan orang Belanda.  Konon, katanya kita bisa tanya kepada kuburan itu apakah keinginan kita bisa terkabul.  Tapi ingat, pertanyaannya harus yang jawabannya ‘Ya’ atau ‘Tidak’.  Kalau nggak gitu, gimana ?  ‘Mungkin kuburannya akan berasap.  Pusing dia,’ celetuk Dianty.  Hahahahahahaha ............. kita ketawa makin keras.

 

Puas duduk dan mengobrol kita jalan ke souvenir shop dekat pelabuhan.  Di sana irma beli t-shirt bergambar serdadu kompeni.  Wahyudi beli buku tentang Banda.  Sedangkan Dianty beli botol kuno terbuat dari tembikar.  Pemilik toko bilang, botol itu ia dapatkan dari orang-orang yang menyelam dan menemukannya di laut.  Banyak botol sejenis itu berserakan di dasar laut.  ‘Ini kan botol anggur.  Setelah minum, orang-orang Belanda itu buang botol ini ke laut begitu saja,’ cerita pemilik toko. 

 

Balik ke hotel.  Lewat depan pelabuhan.  Ramai suasana di sana.  Orang-orang mulai menggelar dagangan.  Selalu begitu tiap kali menjelang kapal datang.  Wahyudi bilang, kehidupan di Naira baru terasa saat kedatangan kapal.  Nggak ada kapal datang, nggak kelihatan orang banyak berkeliaran.

 

Nggak terasa udah lebih dari jam sepuluh.  Yang lain pada masuk kamar.  Tidur.  Jam dua dini hari nanti kita harus siap-siap naik KM Bukit Siguntang untuk balik ke Ambon.  irma, Ela, dan Dianty "Ibu Kasir" masih ngumpul untuk bereskan pembayaran hotel dengan Pak Dede.  Waks, irma sempat meloncat kaget di kantor Pak Dede saat tau ada tikus kecil di dekat kaki irma !  Ela yang tadinya mau memperingatkan irma juga turut terkejut.

 

Beres urusan bayar-bayar, kita balik ke kamar di lantai 2.  Yang lain udah pada tepar.  Bertiga kita duduk mengobrol di depan kamar.  Ngomongin pengalaman kita hari itu.  Padat banget.  Betul yang Ela bilang, meski hanya semalam di Banda Naira namun begitu berkesan J

 

'...... tapi sayang, hanya semalam.  berat rasa perpisahan ......'

 

 

Desa Lonthoir, Banda Besar

 

Dari dulu pusatnya pala di Banda tuh, ya di pulau Banda Besar.  Di sana banyak banget kebun Pala.  Pala (Myristica fragrans) adalah tanaman asli Banda.  Bunganya yang dikeringkan disebut ‘fuli’.  Bunga ini membungkus daging buah pala di balik kulitnya yang kuning pucat seperti warna kulit buah duku.  Sejak dulu pala dan fuli banyak dimanfaatkan untuk rempah-rempah.  Mereka inilah yang mengundang bangsa Eropa datang ke Indonesia lima ratus tahun yang lalu.  Pala bikin orang-orang Banda kaya, tapi Pala juga yang buat mereka merana. 

 

Setelah ‘pemusnahan’ rakyat Banda oleh JP Coen di tahun 1621, VOC mendatangkan orang-orang Belanda untuk mengelola kebun Pala.  Mereka mendapat jatah tanah yang harus mereka tanami pohon Pala.  Tanah tersebut tidak boleh mereka jual tapi boleh disewakan atau kalau tidak sanggup mengelola, dikembalikan ke VOC.  Hasil kebun Pala harus dijual kepada VOC.  Namanya juga monopoli.  Terpengaruh oleh bahasa Belanda, kebun Pala di Banda disebut Perk.  Sedangkan tuan tanah pengelolanya disebut Perkenier.

 

Di Desa Lonthoir di Pulau Banda Besar masih bisa kita temui satu rumah perkenier.  Sekarang rumah itu kosong.  Dipakai hanya untuk acara-acara desa.  irma sempat ke rumah tersebut di bulan Oktober lalu, menunaikan utang kunjungan ke Banda tahun lalu.  Utang ?  Yap, tahun kemarin irma cuma meniti 220 dari 350 anak tangga Desa Lonthoir.  Di anak tangga ke 220 kami berbelok ke Benteng Hollandia.  Sampai di hotel dan baca booklet ‘Banda Island’, baru tau kalau ternyata di ujung atau puncak dari 350 anak tangga itu terdapat rumah perkenier.  Nyesal karena nggak sempat ke sana, irma bilang kalau ke Banda lagi irma akan menyelesaikan pendakian 350 anak tangga sampai puncak dan berkunjung ke rumah perkenier.  Makanya irma bilang itu utang.

 

Rumah perkenier itu sederhana saja.  Ada teras di depan dan belakang.  Teras yang belakang lebih luas.  Mungkin dulu di situ tempat para pekerja menimbang Pala.  Zaman dulu satuan timbangan yang dipakai bukan kilogram.  Tapi ‘kati’, yaitu ukuran pikulan orang dewasa.  Di Rumah Budaya Banda Naira kita bisa melihat timbangan tersebut.

 

Di dalam rumah perkenier ada beberapa bilik.  Dua bilik yang paling depan bertuliskan ‘R. Raja’ dan ‘R. Adat’.  Mungkin rumah itu dipakai untuk acara-acara adat.  Dalam bukunya “Sejarah Maluku – Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon”, Pak Des Alwi terangkan bahwa Desa Lonthoir menganut adat Ulisiwa atau sembilan orang cakalele sebagai tentara adat.  Sedangkan desa-desa lain di Kepulauan Banda menganut adat Ulilima atau lima orang cakalele.

 

Cuma irma dan Wahyudi yang berminat melihat-lihat rumah perkenier.  Yang lain rehat di salah satu rumah penduduk, minum teh, kopi, dan makan kue babengka.  Ela yang memperkenalkan kue itu.  Enak banget.  Terbuat dari terigu, telur, gula merah, dan (kata Ela) kalau pembuat kuenya lagi baik ia akan menambahkan kenari ke dalam adonannya.  Harganya lima ratus rupiah sepotong.  Dianty terbengong-bengong tau harganya cuma segitu.  ‘Apa bisa dia jualan harga segitu ?  Kenari kan mahal,’ tanyanya.  Pertanyaan yang sama diajukan juga oleh Wahyudi.  ‘Ya bisalah, kenarinya kan tinggal petik dari belakang rumah,’ jawab Ela.  Memang di Banda Besar ini banyak sekali pohon kenari.  irma pernah baca di novel ‘Mirah dari Banda’ , pohon kenari itu fungsinya sebagai peneduh pohon pala.  Pohon pala tuh agak-agak manja.  Nggak boleh kena banyak sinar matahari.  Kalau nggak, hasil panennya nggak bagus.

 

Dari rumah perkenier kita ke perigi keramat.  Ada dua perigi atau sumur.  Kedua sumur tersebut terhubung satu sama lain di dasarnya, tapi anehnya air kedua sumur tersebut beda.  Sumur yang satu hanya boleh dipakai untuk minum dan kebutuhan masak.  Juga cuci muka.  Sumur satu lagi boleh untuk mandi dan mencuci, tapi jangan di sekitar perigi mandi dan cucinya !  Kita ditawari untuk mencuci muka dengan air dari sumur yang pertama.  Konon, katanya akan membuat kita awet muda.  Entah betul entah tidak, tapi seger banget cuci muka di sana setelah setengah harian jalan-jalan keliling Banda Besar.  Sebelum ke Desa Lonthoir tadi kita ke Desa Walang, melihat peternakan mutiara dan kebun pala.  Kita ditunjukkan satu pohon pala yang katanya berumur 300 tahun.  Tapi darimana kita bisa tahu umurnya setua itu ?  Bing dan irma mengajukan pertanyaan yang sama.  Gini nih, kalau yang namanya auditor nggak mudah percaya kalau belum ketemu bukti objektif.

 

irma melongok melihat ke dalam perigi.  Sama seperti waktu tahun lalu ke sini, irma melihat capung merah terbang-terbang di dalamnya.  Sesekali ia hinggap di tumbuh-tumbuhan di dinding sumur.  Konon perigi ini ditemukan oleh tujuh orang bersaudara.  Satu di antara ketujuh orang ini adalah perempuan.  Pada suatu hari ketika mereka berjalan dari Selamon ke Lonthoir, perempuan ini melihat seekor kucing keluar dari semak-semak dengan bulu basah.  Ia memberitahukan saudara-saudaranya.  Mereka melakukan penyelidikan dan menemukan lubang sumber air.  Bersama-sama dengan penduduk lubang tersebut mereka jadikan sumur.

 

Di masa pendudukan Belanda perigi dipugar menjadi indah.  Dibuat lagi satu perigi di sebelahnya sehingga kini ada dua sumur di sana.  Perigi kedua ini nih, yang boleh untuk mandi dan mencuci.  Pemugaran tersebut dipimpin oleh Muhammad Saleh, pemimpin adat desa Lonthoir kala itu.  Untuk menjaga kesuciannya setiap tujuh sampai sepuluh tahun sekali dilaksanakan pencucian perigi.  Perigi yang besar berukuran 5 m x 8 m, sedangkan yang kecil 2 m x 2 m dengan kedalaman 4 m.

 

Di dalam booklet ‘Banda Islands’ diceritakan bahwa pencucian Perigi Keramat dilakukan untuk memperingati meninggalnya 33 orang imam umat Islam Desa Lonthoir.  Duluuuuu waktu zaman Belanda, sekelompok serdadu dan pedagang Belanda mabuk-mabukan bersama sekelompok penduduk desa.  Penduduk desa tersebut membawa serdadu dan pedagang Belanda ke atas batu, kemudian mendorong mereka ke laut.  Beberapa hari kemudian serdadu dan pedagang tersebut telah menjadi mayat.  Mengetahui hal tersebut penguasa Belanda di Naira menjadi berang dan menangkap 33 orang imam.  Ke-33 orang imam ini kemudian diceburkan ke dalam Perigi Keramat hingga meninggal.  Penduduk desa lalu mengangkat jenazah ke-33 orang imam tersebut dan memakamkannya secara layak.  Dengan menggunakan 99 depa kain kafan mereka membersihkan Perigi Keramat.  Batu tempat serdadu dan pedagang Belanda didorong ke laut disebut ‘Batu Belanda’.

 

Lagi rame-rame nyuci muka di perigi keramat irma baru ngeh ternyata cuma yang cewek-cewek aja yang cuci muka.  Pak Adhi ketinggalan di rumah penduduk tempat tadi kita ngopi-ngopi.  Mas Fahmi seperti biasa ngendon di perahu.  Sedangkan Wahyudi asik ngobrol dengan anak-anak kecil di sekitar perigi yang merhatiin kita.  Hahaha, Wahyudi ketemu teman ‘sebaya’ ya.  Abis, dia pake baju kaus putih dan celana pendek merah, persis seragam SD.  Weeeh ...... anak SD mana yang brewok dan kumisan gitu ??  Berapa kali nggak naik kelas tuh ??!!  hihihihihihiiii .........

 

 

 

 

Wednesday, November 14, 2007

Gereja Tua Banda Naira

Gereja ini dibangun tahun 1852 untuk menggantikan gereja Hollandische Kerk yang hancur akibat gempa bumi.  Saat kerusuhan di Ambon beberapa tahun yang lalu gereja ini kena imbasnya.  Ia dirusak massa.  Karena itu tahun lalu waktu irma ke Banda ia sedang direnovasi.  Baru beberapa waktu sebelum kita datang di bulan Oktober ini, Bapak Gubernur Maluku ke Banda Naira dan meresmikannya.

 

Kalau di kedatangan yang pertama irma cuma bisa foto-foto gereja di bagian luarnya, kedatangan kali ini irma berkesempatan masuk ke dalam.  Meski Mas Fahmi di luar teriak-teriak, ‘Hey, we’re going to lose the sunset !’ , irma nggak peduli.  Waktu memang sudah menjelang petang dan para fotografer itu ingin segera ke Benteng Belgica untuk memotret sunset.  Hmm, irma bukan sunset hunter seperti mereka.  irma lebih tertarik untuk mengenali bangunan tua bersejarah.  Seperti gereja ini.

 

Bapak Pendeta menyambut kita di pintu gereja.  Ramah ia menemani kita melihat-lihat.  Tepat di bawah pintu masuk, tercetak lambang VOC pada lantai.  Wahyudi menahan langkah irma saat akan melangkah masuk.  Mulai dari ambang pintu hingga altar, terbentang batu-batu nisan orang-orang Belanda yang dulu meninggal di Banda.  ‘Ini cuma nisannya aja atau ada kerangkanya juga ?’ Wahyudi bertanya.    ‘Masih ada badannya, tapi nggak apa-apa.  Injak aja,’ kata bapak Pendeta.  ‘Memang dulu kebiasaannya seperti ini, makam itu di dalam gereja.’  Oh begitu.  irma melangkah pelan-pelan, berjalan sambil membaca tulisan di batu-batu nisan tersebut.  Ugh, kalau ini sih harus nanya sama Pak Lilik, dosen Sastra Belanda UI yang pernah meneliti nisan-nisan peninggalan Belanda.  ‘Ini kan untuk mengingatkan kita ...’ kata Ela.  ‘... bahwa kita akan mati ?’ irma menyambung kata-kata Ela.  Ela mengangguk.  Apa tuh istilahnya, from dust to dust ?

 

Wahyudi menghitung.  Ada sekitar 16 batu nisan di lantai dalam gereja.  Masih ada beberapa lagi di teras.  Juga di samping gereja.  irma dan Wahyudi sempat memotret beberapa.  Sementara Bing, Dianty dan Lenny duduk-duduk di kursi jemaat.  ‘Aku pura-puranya sedang berdoa ya,’ Dianty menunduk.  Kok pura-pura ?  Berdoa betulan juga boleh kok J

 

Arini mengingatkan kita untuk menyusul yang lain ke Benteng Belgica.  Apa daya, hujan kembali turun merintik.  Sejak kedatangan kita ke Banda pagi tadi hujan dan panas silih berganti.  Jadi ingat lagunya Panbers, ‘Gereja Tua’.  Pas banget nih suasananya.

 

...... hanya satu yang tak terlupakan, kala senja di gereja tua.  waktu itu hujan rintik-rintik, kita berteduh di bawah atapnya ......

 

 

 

Istana Mini

 

Disebut Istana Mini, karena mirip Istana Presiden di Jakarta.  Sebenarnya Istana Presiden itu yang meniru istana ini.  Dulu istana ini digunakan sebagai istana Gubernur Jenderal VOC.  Dalam booklet ‘Banda Island’ dari Kantor Pariwisata Propinsi Maluku dikatakan Istana Mini dibangun tahun 1611 oleh Controller VOC yang pertama, dan digunakan Gubernur Jenderal JP Coen di tahun 1621.  Tapi buku Lonely Planet bilang, Istana Mini dibangun antara tahun 1820 – 1824.  Mana yang betul nih ??

 

Sekarang istana ini kosong.  Dulu pernah dipakai untuk kantor Kecamatan Banda.  Oh ya, biarpun terdiri dari beberapa gugus pulau tapi Banda tuh statusnya kecamatan.  Bagian dari Kabupaten Maluku Tengah yang beribukota di Masohi, Pulau Seram.  Oh pantesan ada rute penerbangan Banda Naira – Masohi, dengan catatan kalau Merpati sedang tak ingkar janji ......

 

Istana Mini menghadap selat Zonnegat yang terletak antara Pulau Banda Besar dan Pulau Naira.  Satu kaca jendela yang menghadap selat diberi lapisan kaca.  Fungsinya untuk melindungi goresan tulisan seorang warganegara Perancis yang ditawan VOC.  Tulisan di kaca tersebut bertanggal 1 September 1831.  Trus, tanggal 12 April 1832 orang Perancis itu bunuh diri.  Umm, frustrasi kali ya, nggak bisa melepaskan diri dari Belanda ??

 

Masuk ke dalam istana, kita akan tiba di satu ruangan besar.  Di dinding bagian belakang ada cekungan masuk ke dalam dinding.  Katanya nih, tiap kali cekungan itu ditambal, selalu tambalannya itu lepas.  Akhirnya dibiarkan begitu saja.  Tapi ditutupi kaca biar rapi.  Mas Fahmi yang memperhatikan konstruksi batu bata penyusun cekungan itu bilang, kayaknya dulu cekungan itu untuk memasang sesuatu yang ditempelkan ke dinding.

 

Jalan ke ruang belakang, kita akan ketemu satu-satunya lampu peninggalan Belanda.  Lampu lainnya udah nggak ada.  Terus keluar dari sana kita akan ketemu sumur besaaaarr di halaman belakang.  Sekarang halaman itu dipakai untuk tinggal para pengungsi kerusuhan dari Ambon.  Mereka enggan kembali ke sana.

 

Di samping istana, di halaman belakangnya, ada patung Willem III.  Dulu, patung itu terkubur di halaman belakang.  Sebelumnya lagi, patung tersebut dan dua patung singa yang sekarang dipasang di kiri-kanan pintu gerbang istana diceburkan penduduk ke laut saat konflik Indonesia – Belanda di tahun 1950an.  Diperkirakan dulunya patung itu diletakkan di taman antara Gereja Naira dan Benteng Belgica.  Patung tersebut dibuat dalam rangka peringatan 25 tahun pemerintahan Raja Willem III dari tahun 1850 sampai 1875.

 

Dari Istana Mini kami ke Benteng Belgica untuk memotret sunset.  Di mobil dalam perjalanan ke sana Pak Adhi bilang, ‘Mbak, di ruangan yang ada tulisan orang Prancis itu, dan ruangan yang di belakangnya, itu ada penghuninya.  Saya bisa merasa.’  Ugh, glek.  Untung Pak Adhi bilangnya setelah kita pulang dari sana !

 

 

 

 

Pulau Sjahrir

 

Dulu sebelum tahun 1974 namanya Pulau Pisang.  Tapi beneran lho, dua kali irma ke sana, nggak ketemu pohon pisang.  Malah kita bawa buah pisang dari Banda Naira.

 

Pertama kali ke Pulau Sjahrir, laut sedang pasang dan ombak lumayan tinggi.  Kita mendarat di satu sisi pulau dengan cerukan sempit.  Dari situ kita mendaki tebing.  Lumayan ngosh-ngoshan napasnya waktu sampai di atas.  Abis gitu kita menuruni tangga curam menuju pantai.  Sampai pantai langsung lari-lari menyongsong ombak.  Tapi ouch !  Banyak batu karang !  Akhirnya irma main-main air di pinggir aja.  Yang cowok-cowok pada ke tengah untuk berenang.  Pas berenang dan kena ombaknya sih enak.  Tapi waktu balik ke pantai baru terasa kaki perih tergores-gores batu karang. 

 

Waktu ke Banda lagi Oktober kemarin, tujuan pertama kita adalah Pulau Sjahrir.  Kali ini laut sedang surut dan ombak tenang.   Kita bisa langsung berlabuh di pantai.  Yang lain pada naik tangga menuju tebing.  irma, Ela dan Wahyudi yang udah pernah ke sana tetap tinggal di pantai.  Males ah manjat-manjat gitu.  Lebih baik tenaganya disimpan untuk naik 350 anak tangga di Desa Lonthoir, Banda Besar nanti.  Dengar cerita kita kalau naik ke atas tuh lumayan curam, Arini ikutan tinggal di pantai.  Sementara Mas Fahmi bersikukuh tetap di perahu.  ‘Gue lagi males basah-basahan,’ katanya.  Setelah kita turun ke darat, perahu kembali ke tengah laut lalu lepas jangkar di sana.  ‘I’m rich !’ teriak Mas Fahmi.  He eh, mungkin serasa lagi di kapal pesiar dia J

 

Nggak ada kerjaan kita di pantai itu selain duduk-duduk memandangi laut.  Dan Gunung Api.  Karena laut sedang surut, kita bisa berjalan-jalan di antara terumbu karang.  Hiii ... ada yang bentuknya seperti handuk basah.  Ada bintang laut juga.  Tapi kecil-kecil.  Hitam warnanya.  irma baru tau kalau bintang laut itu bisa bergerak berpindah tempat.  Oh ya, waktu baru berlabuh tadi irma sempat lihat bintang laut besar warna biru tepat di bawah perahu !  Airnya memang jernih banget.  Kita bisa lihat terumbu karang di dasar laut.  Juga ikan-ikan kecil yang berenang di sela-selanya.

 

Setelah yang lain kembali dari tebing, kita mulai membuka perbekalan.  Makan nasi kuning khas Banda.  Hmm, enak !  Kita teriak-teriak kepada Mas Fahmi di perahu, manas-manasin dia kalau kita di pantai sedang bersenang-senang.

 

Tiba-tiba perahu menyalakan motor dan melaju pergi.  Haa, ke mana mereka ??  Oh rupanya ada sekawanan Lumba-Lumba !  Beriring-iringan mereka berenang melompat-lompat keluar permukaan air.  Satu, dua, tiga, ...... kita coba menghitung.  Kira-kira ada dua puluh ekor.  Geee ...... cakep bener !  Beruntung sekali Mas Fahmi yang di perahu bisa lihat mereka dari dekat.  Pasti perahu itu mengejar mereka agar Mas Fahmi bisa memotret kawanan Lumba-Lumba itu.

 

Ei tapi irma juga cukup senang kok lihat Lumba-Lumba itu meski dari kejauhan.  Beberapa hari ini irma dapat pemandangan langka yang indah.  Kemarin lihat ikan Paus menyemburkan air di Pintu Kota, sekarang di Pulau Sjahrir lihat sekawanan Lumba-Lumba berenang melompat-lompat J

 

...... dan ternyata esok harinya saat balik dari Banda irma dapat pemandangan indah lain lagi ......

 

 

 

Gunung Api Banda

 

 

 

 

“…… tidak ada gunung api yang mati.  yang ada ia tidur beristirahat.  suatu saat ia akan bangun kembali ……”

 

Itu kata-kata yang pernah irma dengar dari seorang vulkanologi – ahli gunung api.  Saat mengunjungi Museum Geologi Bandung pun irma pernah membaca penjelasan mengenai gunung api.  Ada 3 klasifikasi gunung api.  Kategori A : gunung api yang aktif meletus sejak tahun 1600an, kategori B : gunung api yang tidak lagi meletus sejak tahun 1600an, dan kategori C : gunung api yang tidak jelas lagi sifat gunung apinya.    Link  

Gunung Api Banda yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’ – jalur gunung api aktif - termasuk dalam kategori A.  Tercatat letusan besar pernah terjadi di tahun 1614, 1720, 1810, 1891, dan terakhir 8 Mei 1988.  Letusan terakhir membentuk satu gugusan karang yang dinamakan Batu Angus.  Entah kenapa terumbu karang di gugusan ini tumbuh subur dan cantik-cantik.  Makanya ini merupakan salah satu spot snorkling yang direkomendasikan di Kepulauan Banda.

 

Pengennya nih waktu ke Banda bulan Oktober lalu, kita mendaki sampai ke puncaknya dan menikmati sunrise di sana.  Apa daya, karena Merpati dua kali membatalkan penerbangannya sehingga kita hanya punya kesempatan satu hari di Banda.  Cuma satu hari !  Padahal begitu banyak tempat yang ingin dikunjungi dan aktifitas yang akan dilakukan.  Ya sudahlah, kali itu kita hanya memandang Gunung Api dari jauh dan berperahu mengelilinginya.  Gunung Api itu tetap mempesona.  Batu-batu di kakinya terlihat kokoh.  Membentuk gua dan tebing cadas.

 

Kita berperahu masuk ke dalam gua di kaki gunung.  Semula irma bingung kita mau ngapain di dalam.  Waktu irma menengadah melihat ke atas, waaks ............ kelelawar bergelantungan di atap gua !  Tau ada yang masuk ke kediaman mereka, beberapa kelelawar terbang mendatangi perahu.  Seekor di antaranya sempat ditepok menggunakan dayung oleh tukang perahu.  Menggelepar ia jatuh ke perairan.

 

Hiiii ............ irma bergidik ngeri.   Terus terang, kelelawar bukan hewan favorit irma.  irma langsung tiarap ke lantai perahu.  Lalu merangkak masuk ke bawah tenda.  Biarpun yang lain ngetawain, irma nggak peduli.  ‘Kok takut sih ?  Justru mereka yang takut sama kita,’ seseorang berkata gitu.  Hoa, mungkin bukan takut.  Tapi jijik, merinding, dan ngeri.  Makanya biarpun katanya kelelawar itu obat tradisional mujarab untuk nyembuhin asma, nggak pernah irma mau memakannya.

 

Pffff .......... akhirnya keluar juga dari gua kelelawar itu.  Lega banget perasaan irma.  Kembali menikmati pemandangan indah Gunung Api.  Mudah-mudahan suatu saat nanti, irma berkesempatan ke sana lagi dan mendaki hingga ke puncaknya.

 

 

back on saddle

 

Akhirnya ……… nyepedah lagi J  Setelah sekian hari istirahat karena sakit.  Senangnya.  Meski masih pelan-pelan nggowesnya.  Dan tambah ekstra hati-hati.  Beberapa hari nggak nyepedah, sense mengemudi jadi agak berkurang.  Mana kemarin baru ada kecelakaan, di Kuningan seorang pengendara sepeda ditabrak mobil hingga meninggal L  another B2Wer hero has gone …………

 

Melintas depan lobby, seseorang menyongsong irma dan berseru, ‘Hallo sayang … I love you !  I love you !’

 

Jawab irma, ‘I love my bicycle !’