Tuesday, November 13, 2007

Pantai di Ambon (3) : Hunimua, Liang

 

Kalau mau menyepi, tenang, santai, datanglah ke pantai ini.  Letaknya lumayan jauh di ujung pulau Ambon.  Berkendaraan mobil dari pusat kota, kita perlu waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke sana.  Setelah melewati Lapangan Terbang TNI AU Liang, pelabuhan Hunimua, sampailah kita di pantai Hunimua, Liang.  Tapi orang-orang Ambon biasa sebut ini pantai Liang.

              

Pas banget waktu kita ke sana langit sedang cerah secerah-cerahnya.  Pasir putih, langit biru, laut bergradasi dari hijau ke biru, wuih, cantik sekali !  Rasanya ingin segera lari nyebur.

 

Di sini rombongan kita terpisah berdasarkan aktifitasnya.  Empat orang nguplek di bawah dermaga untuk sessi pemotretan.  Satu orang model dikeroyok tiga fotografer.  Sementara yang empat lagi asik bergembira main air dan jalan menyusuri pantai.  Sebatang kayu yang kita temui malah dijadikan bahan permainan.  Gara-gara irma bergaya pura-pura surfing di atas kayu tersebut, yang lain pun turut serta.  Seorang lagi, asik foto candid kelakuan empat orang yang bergembira itu secara telephoto.

 

Puas banget main di sini.  Nggak bisa neranginnya dengan kata-kata.  Biar foto-foto ini aja yang berbicara J

 

PS :

buat bing! , makasih fotonya.  irma senang sekali lihat kelakuan tolol irma itu J  Juga buat Mas Fahmi “Destro”, makasih ngizinin irma posting foto kita yang lagi rame-rame loncat.

 

 

Benteng Belgica

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inilah “Pentagon” nya Indonesia.  Benteng Belgica ini dibangun oleh Pieter Both – Gubernur Jenderal VOC Pertama – pada tahun 1611.  Benteng ini digunakan sebagai pusat pertahanan militer hingga tahun 1860.  Setelah itu benteng Belgica dibiarkan terbengkalai hingga mengalami kerusakan.  Pada tahun 1991 benteng dipugar atas bantuan Jenderal L.B. Moerdani yang saat itu menjabat sebagai Menteri Hankam.

 

Sekarang benteng ini digunakan kalau ada acara-acara di Banda Naira.  Seperti tahun lalu saat Menteri Luar Negeri – Pak Hasan Wirajuda – beserta rombongan datang ke sana, Pak Des Alwi selaku tokoh Banda menjamu mereka di dalam benteng ini.  Tahun lalu waktu ke sana irma nggak berkesempatan masuk ke dalam.  Oktober kemarin, irma bisa masuk malah naik hingga ke salah satu menaranya.  Pas banget waktu itu lagi sunset.  Ealah, Ela malah ada ide bikin foto pre-wedding di sana.  Jauh amat bikin foto pre-wedding sampai ke Banda ??

 

Sebagaimana bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Banda, kita diharapkan untuk mengisi kotak donasi untuk membantu biaya perawatan benteng ini.  Dianty yang masukin uangnya, irma yang nulis nama-nama kita dalam buku tamu.  Ketika irma menulis, bapak penjaga benteng mengajak irma ngobrol.  Agak susah mengikuti pembicaraannya, entah karena cepet banget dia bicara, entah karena logatnya, atau karena bahasanya.   Tapi yang irma tangkap, ia senang kami datang ke sana dan berharap kami akan berkunjung lagi.  Kalau nggak salah dia bilang, sekali ke sana maka kita akan selalu terpanggil kembali ke sana.  Semoga aja ada kesempatan – dan rezeki – tuk kita ke Banda lagi ya J

 

 

 

Benteng Nassau, dan Pembantaian 44 Orang Kaya Banda

 

Inilah bangunan saksi bisu kekejaman Jan Pieterszoon Coen.  Benteng Nassau ini didirikan oleh Laksamana Pieterszoon Verhoeven.  Ia tiba di Banda Naira pada tanggal 8 April 1609 bersama tiga belas kapal ekspedisi yang diperintahkan de Heeren XVII (dibacanya Heeren Zeventien, yaitu para direktur VOC di Amsterdam) untuk memenangkan pulau-pulau penghasil cengkeh dan pala bagi VOC baik secara perundingan maupun kekerasan.  Sebenarnya ada empat belas kapal yang bertolak meninggalkan Belanda.  Namun satu kapalnya hilang di lautan dalam perjalanan menuju Maluku.

 

Ketika Verhoeven tiba di Banda, Inggris di bawah pimpinan Kapten William Keeling telah lebih dulu berada di sana, berdagang dengan rakyat Banda juga pedagang Belanda di Banda Naira.  Verhoeven tidak senang akan hal ini.  Kapten Keeling kemudian mundur ke Pulau Run dan Pulau Ai.  Di sana ia tawarkan perlindungan kepada para pedagang Belanda di kedua pulau tersebut.

 

Verhoeven berang akan keberadaan Inggris di Kepulauan Banda.  Keberangannya bertambah dengan sikap rakyat Banda yang mengelak berunding dengannya.  Pada tanggal 25 April 1608 Verhoeven turun ke Pulau Naira beserta sekitar 300 orang prajurit untuk membangun Benteng Nassau.  Benteng tersebut didirikan di lokasi Portugis pernah membangun benteng batu yang kokoh sekitar seratus tahun sebelumnya.  Portugis berkuasa di Kepulauan Banda pada tahun 1512 – 1580.

 

Melihat pembangunan benteng berjalan pesat, para Orang Kaya Banda mengusulkan perundingan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 1609.  Mereka meminta jaminan sandera untuk perundingan.  Orang Kaya ialah gelar untuk pemuka adat atau orang yang disegani di antara rakyat Banda. 

 

Verhoeven menyambut baik usulan para Orang Kaya ini.  Ia menunjuk dua orang pedagang bernama Jan de Molre dan Nicolaas de Visscher sebagai sandera.  Verhoeven berangkat ke tempat perundingan bersama dewan kapten, para pedagang, pasukan tentara bersenjata lengkap, dan tawanan-tawanan Inggris untuk dihadiahkan.  Sesampainya mereka tempat perundingan mereka tidak menemukan para Orang Kaya.  Tempat perundingan itu terletak di bawah sebatang pohon di dekat pantai bagian Timur Pulau Naira,

 

Verhoeven kemudian mengutus penerjemah bernama Adriaan Ilsevier mencari para Orang Kaya.  Di hutan kecil yang sekarang menjadi mesjid Kampung Baru, Ilsevier menemukan para Orang Kaya.  Mereka ketakutan melihat pasukan bersenjata yang dibawa Verhoeven.  Mereka meminta Verhoeven untuk datang menemui mereka hanya ditemani beberapa orang.

 

Tanpa curiga Verhoeven menemui para Orang Kaya di tempat yang sekarang disebut Kampung Verhoeven.  Ternyata ia dijebak.  Verhoeven beserta Opperkoopman atau pedagang senior Jacob van Groenwegen dan 26 orang Belanda lainnya dibunuh.  Kejadian ini dikenal dengan nama ‘Pembantaian Banda tahun 1609’.  Jan Pieterszoon Coen – juru tulis Verhoeven yang nyaris mengalami nasib sial turut dibantai – menyaksikan kejadian tersebut. 

 

Sepeninggal Verhoeven, Laksamana Simon Janszoon Coen ditunjuk dewan perwira sebagai pemimpin yang baru.  Ia lah yang menyelesaikan pembangunan Benteng Nassau.

 

Di kemudian hari setelah menjadi Gubernur Jenderal, Jan Pieterszoon Coen kembali ke Banda.  Ia tiba dari Batavia di Benteng Nassau pada tanggal 27 Februari 1621 dengan tujuan menciptakan monopoli perdagangan pala.  Selain pasukan tentara-tentara VOC, JP Coen membawa  vrijburger (tentara VOC yang telah habis masa kontrak), orang-orang mardijkers (orang-orang Portugis di Batavia yang dibebaskan setelah mereka menganut Kristen Protestan seperti orang-orang Belanda), dan musketiers (para relawan).  Ia juga membawa orang-orang hukuman dari Pulau Jawa untuk bekerja sebagai pendayung perahu dan tentara bayaran Jepang yang disebut Ronin (samurai yang tidak mempunyai pimpinan lagi).

 

Operasi penaklukan Banda dimulai 3 Maret 1621.  JP Coen dan pasukannya mulai menyerang Banda Besar di pagi hari tanggal 11 Maret 1621.  Hanya dalam sehari semalam mereka berhasil menguasai seluruh pulau itu.  Desa Selamon – tempat awal Islam masuk ke Banda - dijadikan markas besar mereka di sana.  Selain menguasai desa mereka juga menyita balai desa untuk digunakan sebagai kantor Gubernur Banda yang baru yaitu Kapten Martin ‘t Sionck, dan mesjid di sebelah balai untuk penginapan pasukan.  Orang Kaya Jareng dari Selamon menolak mesjid digunakan untuk para pasukan Belanda.  Ia tidak berkeberatan jika mesjid digunakan oleh Gubernur Sionck.  Namun Sionck tidak peduli dengan tanggapan Orang Kaya Jareng tersebut.  Ia juga tidak mengizinkan Orang Kaya Jareng dan penduduk desa menggunakan mesjid untuk ibadah yang akan dilaksanakan dua hari kemudian.

 

Pada malam tanggal 21 April 1621, lampu gantung dalam mesjid terlepas dan jatuh ke lantai.  Sionck menimbulkan kepanikan saat membangunkan perwira, pengawal dan para penjaga untuk mencari penyebab jatuhnya lampu.  Seorang anak kecil keponakan dari istri Orang Kaya Kalabaha mengatakan bahwa jatuhnya lampu merupakan tanda untuk bersiap-siap menyerang pasukan Belanda.  Belanda kemudian menyiksa beberapa Orang Kaya agar mereka mengaku terlibat dalam persekongkolan tersebut.  Padahal sebenarnya anak kecil itu cuma asal ngomong doang, aduhh …

 

JP Coen menangkap para Orang Kaya Banda.  Mereka dipaksa mengaku sebagai pemicu kerusuhan.  Satu kurungan bambu berbentuk bulat dibangun di luar Benteng Nassau.  Delapan Orang Kaya paling berpengaruh digiring masuk ke dalam kurungan.  Mereka dituduh bersekongkol untuk membunuh Gubernur Jenderal JP Coen.  Enam orang serdadu algojo Jepang kemudian diperintahkan masuk ke dalam kurungan.  Dengan pedangnya yang tajam mereka memotong kedelapan Orang Kaya ini menjadi empat bagian.  Berikutnya ke-36 Orang Kaya lainnya dipenggal kepala, lalu dipotong-potong badannya.  Potongan kepala dan badan ditancapkan pada ujung bambu untuk dipertontonkan kepada masyarakat.  Iyyyaakkkkkssssss !!!!!!!!!!!!

 

Pembantaian 44 Orang Kaya Banda ini terjadi pada tanggal 8 Mei 1621.   Peristiwa tersebut sangatlah mengerikan.  Seorang saksi mata Letnan Laut Nicolas van Waert menyaksikan penuh kecemasan dan ketakutan.  Ke-44 Orang Kaya tersebut tidak mengucapkan apa-apa sebelum eksekusi kecuali satu orang yang bertanya, ‘Apakah Tuan-tuan tidak merasa berdosa ?’  Dosa.  Barangkali kata itu sama sekali tidak pernah terlintas di benak JP Coen.  Yang ia pikirkan adalah kekuasaan.  Tidak peduli untuk mencapai itu harus terjadi pertumpahan darah.

 

Nama-nama Orang Kaya yang dibantai atas perintah JP Coen itu ditulis dalam dokumen sejarah atas laporan JP Coen dalam buku ‘Coen Op Banda’ (Coen di Banda).  Selain itu tercatat pula 6.000 orang Banda dibunuh, 789 orang Banda diasingkan secara paksa ke Batavia, 1.700 orang Banda melarikan diri ke Banda Eli, Banda Elat Kepulauan Kei, Seram dan tempat-tempat lain, dan 5 Orang Kaya lolos bersama 300 orang lainnya bertolak dari Pantai Dender dijemput 20 kora-kora dari Seram Timur.  Dari 14.000 orang rakyat Banda, setelah peristiwa pembantaian di tahun 1621 ini jumlah penduduk asli kepulauan Banda tinggal 480 orang.  Dengan demikian bisa dikatakan rakyat asli Banda telah ‘habis’.  Konon pemusnahan rakyat Banda ini atas perintah tidak resmi dari Heeren XVII pada tahun 1615 yang mengatakan bahwa keberhasilan untuk menjajah Kepulauan Banda dan menguasai rempah di sana adalah dengan menghabiskan atau menghilangkan pimpinan yang dituakan rakyat secara besar-besaran sehingga rakyat yang tertinggal tidak mempunyai pemimpin perlawanan.

 

 

Referensi :

Des Alwi, “Sejarah Maluku – Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon” , Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 2005

 

 

 

Pulau Run

 

Ada sekitar sepuluh pulau di gugusan Kepulauan Banda.  Salah satu di antaranya adalah Pulau Run.  Pulau ini kecil.  Luasnya cuma beberapa hektar.  Jauh lebih kecil dari luas satu kelurahan di Jakarta.  Tapi siapa sangka pulau ini yang menimbulkan perseteruan antara Inggris dengan Belanda di abad ke 17.

 

Pulau Run merupakan koloni Inggris yang pertama.  Pada tahun tanggal 31 Desember 1601 Ratu Elizabeth I merestui pembentukan Honourable East India Company (Gentlemen Adventurers Company Limited) untuk melakukan pelayaran pertama ke Maluku.  Inggris tiba di kepulauan Banda pada tahun 1602.  Mereka menyatakan diri sebagai pemilik Pulau Run.  Kemudian Ratu Elizabeth I menyatakan bahwa Kerajaan Inggris terdiri dari England, Wales, Skotlandia, Irlandia, dan Pulau Run.

Kedatangan Inggris di Kepulauan Banda disambut baik masyarakat setempat.  Pada tahun 1610 masyarakat Pulau Run dan Pulau Ai yang dipimpin Orang Kaya Datuk Putih secara sukarela mengakui kekuasaan Inggris dengan cara membayar upeti berupa pohon pala yang ditanam dalam gumpalan tanah dan mengangkat sumpah persekutuan dengan Inggris.  Di kemudian hari ketika Belanda berhasil menguasai Pulau Ai, mereka tidak dapat menguasai Pulau Run karena pulau tersebut telah diberikan oleh Orang Kaya Datuk Putih kepada Kerajaan Inggris.  Meskipun Belanda menganggap bahwa Pulau Run merupakan warisan dari Pulau Ai, mereka tetap tidak mendapat pengakuan atas kepemilikan Pulau Run.

 

Orang Kaya Datuk Putih menyerahkan Pulau Run kepada Inggris di bulan Desember 1616.  Inggris kemudian membangun pertahanan di Pulau Nailaka, pulau kecil yang terletak hanya 1 km dari Pulau Run di sebelah Timur Laut.  Jika air sedang surut, antara Pulau Run dengan Pulau Nailaka dapat dilalui dengan berjalan kaki.

 

Di bulan April 1621 Gubernur Jenderal JP Coen berhasil menguasai Pulau Run.  Belanda kemudian membangun sebuah benteng bernama ‘Lochem’ dan sebuah loji di Pulau Run sebelah Barat.  Penduduk dipaksa bermukim di sekitar benteng.  Terbentuklah pemukiman yang disebut ‘Negeri Lochem’, atau penduduk setempat kerap menyebutnya ‘Kampung Loji’.  Sekarang benteng tersebut sudah tidak ada lagi.  Sedangkan loji yang disebut oleh penduduk setempat sebagai ‘Rumah Kompani’ masih ada sisa-sisa pondasinya.   Daerah itu sekarang disebut Kampung Run.

 

Meskipun di tahun 1624 Gubernur Jenderal Inggris menyatakan tidak akan lagi berusaha merebut Pulau Run, nyatanya mereka tetap berusaha.  Berkali-kali mereka berusaha hingga akhirnya pada tanggal 2 Juli 1665 Pulau Run berhasil mereka kuasai.  Namun di hari 16 Desember 1665 Inggris harus menyerahkan Pulau Run kembali kepada Belanda karena peperangan di Eropa yang terjadi antara Inggris dengan Belanda.  Di bulan Juli 1667 dilakukan perjanjian damai di Breda.  Disepakati Inggris akan menyerahkan Pulau Run kepada Belanda, beserta satu-satunya benteng milik Inggris di Pulau Nailaka.  Sebagai tukarannya, Inggris memperoleh Nieuw Amsterdam yang sekarang dikenal sebagai Manhattan di kota New York.

 

 

Referensi : 

Des Alwi, “Sejarah Maluku – Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon” , penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 2005

 

 

 

Monumen di Ambon (3) : Martha Christina Tiahahu

 

Di depan rumah dinas Wakil Gubernur Maluku di Karang Panjang tegak berdiri patung Martha Christina Tiahahu, gadis yang dikenal dengan Mutiara dari Nusalaut.  Martha Christina yang lahir di sekitar tahun 1800, sejak usia belia turut ayahnya – Kapitan Paulus Tiahahu – berjuang melawan Belanda.  Dengan rambut panjang tergerai dan ikat kepala kain berang (merah), gigih ia mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran di Pulau Nusalaut dan Pulau Saparua.  Konon katanya ia tidak akan mengikat rambutnya sebelum dicuci dengan darah musuh. 

 

Pada pertempuran sengit di Desa Ouw – Ullath jazirah Tenggara Pulau Saparua, Pasukan Kapitan Paulus Tiahahu berhasil ditaklukkan Belanda.  Sang Kapitan dijatuhi hukuman gantung.  Sia-sia usaha Martha Christina untuk menyelamatkan ayahnya.  Ia malah tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.  Dalam perjalanan ke Pulau Jawa menggunakan kapal perang Eversten inilah Martha Christina meninggal dunia.  Usianya masih sangat muda.  Baru 17 tahun.  Kalau remaja sekarang, umur segitu lagi senang-senangnya bergaul mencari identitas diri.  Tak jarang malah ada yang terperosok salah pergaulan.  Di usia segitu, Martha Christina telah memberikan banyak sumbangsih bagi bangsa.  Layaklah ia dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. 

 

Tidak pernah ditemukan di mana jasad Martha Christina dimakamkan.  Ada yang mengatakan ia menceburkan diri ke laut karena tidak sudi dibuang ke Pulau Jawa.  Ada pula yang bilang ia mogok makan hingga wafat, lalu jenazahnya dilarungkan dengan prosesi militer ke Laut Banda menjelang 2 Januari 1818.  Versi manapun yang benar, yang jelas perairan Maluku lah yang membawa ia kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.  Sebagaimana layaknya mutiara, di dasar laut ia berada.

 

 

Referensi  :  http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/marta_ct.html

 

 

 

Monumen di Ambon (2) : Ambon War Cemetery

 

Tahun lalu ke Ambon irma berkesempatan masuk ke dalam komplek Ambon War Cemetery.  Ini adalah pemakaman untuk para serdadu Australia yang gugur dalam melawan Jepang selama Perang Dunia II.  Berlokasi di Tantui, tepat di pinggir jalan raya tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Indonesia tempat dimakamkan pahlawan Indonesia yang gugur dalam pemberontakan di Maluku pada tahun 1950 – 1960.  Ada 2137 makam di Ambon War Cemetery.  Terdiri dari 1092 orang Australia, 810 Inggris, 30 India, 2 Kanada, 1 Selandia Baru, 1 Afrika Selatan, 186 Belanda, dan 15 warga Sekutu lainnya.  Mereka berasar dari Angkatan Laut 210, Angkatan Darat 1229, Angkatan Udara 694, dan Awak Kapal Dagang 1.  Makam ini berada di tempat bekas perkampungan tawanan perang Australia yang tewas sewaktu penyerbuan Jepang ke Ambon dan Timor, dan untuk tawanan perang dari kepulauan Maluku dan Kuruku.  Banyak dari mereka yang berasal dari Batalyon 2/21 Australia “Gull Force”.

Setiap tanggal 25 April banyak wisatawan Australia mengunjungi pemakaman ini untuk memperingati ANZAC Day.  ANZAC singkatan dari Australian and New Zealand Army Corps, nama pasukan gabungan Australia dan Selandia Baru yang berperang di Gallipoli melawan Turki pada Perang Dunia I.  Tanggal 25 April ditetapkan sebagai ANZAC Day berdasarkan tanggal pendaratan ANZAC di Gallipoli.  ANZAC Day diperingati untuk mengenang jasa-jasa pasukan yang gugur dalam perang.  Perang yang dimaksud bukan cuma Perang Dunia I saja.  Jadi ANZAC Day itu seperti Hari Veteran di negara kita.

Di tengah-tengah komplek pemakaman terdapat tugu salib yang sudah patah.  Tinggal sisa landasannya saja.  Di kiri kanan tugu ada area pemakaman untuk warga Inggris dan Sekutu.  Lalu di depan sendiri ada 30 makam warga India beragama Islam.  Ketahuan dari nama-nama mereka yang mengandung kata ‘Muhammad’ dan juga aksara Arab di nisannya.  Ada juga nisan para serdadu Australia tak dikenal.  Di nisannya hanya tertulis ‘An Australian Soldier of the war 1939 – 1945 war.  Known unto God.’

 

Berjalan ke arah depan, kita akan menemui bangunan dengan sejumlah prasasti bertuliskan nama-nama prajurit, penerbang dan awak kapal dagang Australia yang gugur selama perang tapi tidak diketahui di mana mereka dimakamkan.  Di salah satu sudutnya ada prasasti yang menceritakan perang tersebut, lengkap dengan peta Indonesia.  Prasasti inilah yang jadi referensi irma dalam menulis ini.  Selain beberapa informasi yang irma peroleh via internet.

 

Pemakaman ini dipelihara dan terawat rapi dengan dana dari Australia.  Kita boleh masuk ke sana dan melihat-lihat tapi kita nggak boleh memotret.  Hal ini baru kita ketahui waktu kita lagi asik berpencar dan foto-foto, kita didatangi oleh bapak penjaga di sana.  Dengan ramah dia menyapa.  Nanya kita dari mana, mau ngapain dan tujuan nya apa.  Lalu dia kasih tau bahwa kita nggak boleh bikin foto di areal pemakaman ini.  ‘Karena mereka nggak suka,’ bapak itu berkata.  Hal ini mengingatkan irma akan kejadian di pemakaman Belanda di kawasan Candi, Semarang.  Waktu itu juga kita dilarang penjaganya untuk mengambil foto.  Katanya harus minta izin ke kedutaan Belanda di Jakarta.  Untuk memotret di Ambon War Cemetery ini, apakah kita juga harus meminta izin ke Kedutaan Australia di Jakarta ??

 

Satu lagi monumen Australia di Ambon adalah Tugu Doolan di Kuda Mati.  Doolan adalah nama serdadu Australia yang berhasil menembak sejumlah tentara Jepang di Ambon saat Perang Dunia II.  Pasukan Jepang berhasil menemukan tempat persembunyiannya kemudian membunuhnya.  Masyarakat desa dilarang untuk menguburkan jenazah Doolan.  Tapi pada malam hari seorang penduduk memberanikan diri untuk menguburkan Doolan di bawah pohon Gandaria.  Di tempat pemakaman Doolan ini kemudian dibangun Tugu Doolan beserta plakat perunggu dan replika badge RSL dari asosiasi Gull Force, Australia untuk mengenang Perang Australia di Ambon.  Sayang, lokasinya di jalan yang sempit, ramai, dan menanjak menyulitkan kami untuk singgah dan melihatnya dari dekat.

 

Referensi :

-          http://en.wikipedia.org/wiki/ANZAC

-          booklet ‘Ambon Island’ dari Kantor Pariwisata Propinsi Maluku

 

Monumen di Ambon (1) : Tugu Pattimura

 

Sebagaimana layaknya kota-kota besar di Indonesia, di Ambon juga terdapat monumen.  Salah satu di antaranya adalah Tugu Pattimura di sudut lapangan Merdeka, depan kantor Gubernur Maluku.

 

Kapiten Pattimura atau Thomas Matulessy, adalah seorang pahlawan pejuang kemerdekaan kelahiran Desa Haria, Pulau Saparua, tanggal 8 Juni 1783.  Ia seorang Sersan Mayor di ketentaraan Inggris saat Inggris menguasai Ambon dan Banda.  Inggris mengambil alih kekuasaan Belanda di sana sejak 17 Februari 1796.  Di tahun 1803 Belanda kembali mengambil alih Ambon dan Banda.  Verplichte leverantie (kewajiban memberikan hasil panen cengkeh kepada penguasa) dan kerja rodi yang sudah dihapus Inggris diberlakukan kembali. Berkuasanya kembali Belanda menimbulkan perang melawan penjajah Belanda di tahun 1817.  Raja-raja Patih, para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkat Pattimura sebagai pemimpin dan panglima perang karena pengalamannya di ketentaraan.

 

Pattimura memiliki sifat-sifat ksatria yang dalam bahasa setempat disebut kabaressi.  Ia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan, dan membangun benteng-benteng pertahanan.  Dalam melawan Belanda, Pattimura menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa.  Belanda mengirimkan pasukan yang kuat di bawah pimpinan Laksamana Buykes, seorang Komisaris Jendral, untuk menghadapi perang Pattimura yang berskala nasional.  Dengan dibantu para panglimanya – Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina, dan Ulupaha – Pattimura mengkoordinir pertempuran-pertempuran hebat melawan Belanda baik di darat maupun laut.  Pada perebutan Benteng Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jazirah Hatawano, Ouw-Ullath, jazirah Hitu di Pulau Ambon, dan Seram Selatan, Pattimura berhasil menghancurkan pasukan Belanda.  Belanda menghentikan perang Pattimura dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus sehingga para tokoh pejuang berhasil ditangkapnya dan dihukum gantung pada tanggal 16 Desember 1817 di Kota Ambon.  Jenazahnya kemudian dilarungkan di Teluk Ambon tidak jauh dari Pantai Batu Capeo.  Pada lokasi tiang gantungan di Kota Ambon dibangun monumen Pattimura yang diresmikan oleh Pangdam XV / Pattimura pada bulan Mei 1972 (deeuuh, tuaan monumen ini daripada irma ! )

 

Sayang, saat terakhir irma ke Ambon di bulan Oktober lalu, tugu ini terkurung pagar seng proyek Merdeka Square.  Entah apa yang akan dibangun di sana.  Mudah-mudahan kelak tugu ini tidak berdiri kikuk tanpa arti di antara bangunan-bangunan baru.

 

 

Referensi  :  http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/thomas_matulesy.html