Wednesday, February 14, 2007

Biarkan dia pergi

Waktu irma masih SMA kelas 1, Mama punya warung jualan keperluan sehari-hari.  Satu ketika irma ke sana untuk gantiin Mama jaga warung.  Mama sedang ngobrol dengan seorang pembeli yang biasa belanja ke warung Mama. 


 


‘Kasihan ibu itu,’ kata Mama sewaktu pelanggan itu pergi.


‘Kenapa ?’ tanya irma.


‘Anaknya yang paling besar baru aja abis operasi.  Ada kelainan di indung telurnya.  Rahimnya harus diangkat.  Jadi anaknya yang itu nggak bisa punya anak.  Dokter tanya apa dia masih punya anak perempuan lagi.  Karena kalau ada, harus diperiksa apakah ada kelainan juga.’


 


Irma kira anak yang dioperasi itu udah besar.  Ternyata dia masih duduk di bangku SMP !  Mungkin dia sendiri belum paham akibat dari pengangkatan satu set organ reproduksinya itu.


 


Irma tercenung dengar cerita Mama.  Besok-besoknya irma cari tahu tentang organ reproduksi perempuan dan penyakit-penyakit yang bisa dialaminya.  Baca buku dan membolak-balik majalah Mama, cari artikel tentang kesehatan reproduksi perempuan.  Dari Teteh irma tau bahwa kalau satu indung telur diangkat, kemungkinan perempuan untuk hamil berkurang jadi sekitar 50%.  Sebagai mahasiswi Farmasi Teteh juga belajar anatomi tubuh manusia.


 


Apa rasanya kalau seorang perempuan dikasih tau bahwa dia mungkin tidak bisa mempunyai anak yang dikandungnya sendiri ?  Itu tanya irma dalam hati setelah mendengar penjelasan Teteh.  Ketika itu sama sekali tidak terbayang dalam benak irma bahwa kelak irma sendiri akan merasakannya.


 


Setelah hari Rabu kemarin menjalani USG di Divisi Fetomaternal RSCM, tadi pagi irma kembali konsultasi lagi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.  Berdasarkan hasil USG itu dokter bilang ovarium kanan irma harus diangkat.  Kista itu begitu besar, jauh lebih besar dari ovariumnya.  Jadi tidak dapat diketahui lagi sel jaringan mana yang masih sehat.  Dokter juga bilang jika ternyata nanti dari hasil analisa jaringan diketahui kista itu jenis yang ganas dan menyebar, maka seluruh organ reproduksi – rahim beserta ovarium – juga kelenjar getah bening dan limfa harus diangkat.  Mendengar penjelasan dokter itu, irma masih merasa datar dan biasa aja.  Dalam hati irma cuma bilang, ya udah kalau memang harus begitu ya jalani aja.  Tapi Teteh yang duduk di sebelah irma nyaris berurai air mata. 


 


Keluar dari ruang periksa irma telpon Bu Isna untuk kasih tau Senin nanti irma operasi dan irma ketawa-ketawa becanda dengannya, Teteh malah jadi stress dan berjalan hilir mudik depan irma.  Irma bilang ke Bu Isna kalau Teteh lagi jadi setrikaan, dari tadi bolak-balik mulu.  Lalu irma sampaikan ke Teteh komentarnya Bu Isna, ‘… Teh kalau mau nyetrika mending di sini aja (maksudnya di rumah Mama di Bandung), banyak jemuran yang belum disetrika …’  Teteh jadi sebel dan merengut.  Abis gitu irma kasihin handphone ke Teteh lalu dia ngomel-ngomel sama Bu Isna, ‘Gimana sih ?  Orang mau operasi (besar) kalian malah ketawa-ketawa ?!  Aku yang stress, tau !’  Teteh sebel gitu irma sama Bu Isna malah makin menjadi cekikikannya.


 


‘Turut berduka ya ir.. smoga dkau tabah, sabar & bs mengikhlaskan smuanya,’ gitu sms Bu Isna yang irma terima waktu balik ke tempat kost.  Ketika itu baru irma merasa sedih.  Begitu sedihnya sampai menangis.  Tapi sedih pun nggak bisa menyelesaikan masalah ya.  irma sedih, sakit itu tetap ada.  Jadi irma berusaha berpikiran positif dan menghibur diri.  irma hapus air mata lalu berkata pada diri sendiri,


“… ada satu dari bagian tubuhku yang (akan) diambil.  Tapi aku masih punya yang lainnya.  Mataku masih bisa melihat.  Aku bisa membaca dan memandang.  Tanganku masih bisa menulis.  Aku bisa mengingat.  Telingaku bisa mendengar.  Hidungku pun masih bisa membedakan aroma, meski seringkali tersumbat pilek.  Aku masih bisa berjalan.  Pulih pasca operasi nanti aku akan pergi jalan-jalan.  Elaaaaaaaaaaaa ………., jadi kan kita ngelencer ke Solo ?  Juga Padang dan Sawahlunto.   Pulangnya aku bikin catatan perjalanan lagi.  Dan ketika tubuhku telah benar-benar kuat, aku akan kembali bersepeda …”   


 


Let it go


I have to let it go


hope something good come to me afterwards


but if it’s not coming at all,


I know God still with me, loving me


and that’s the best blessing God give me


 


 


 


Pancoran Mas Depok, 2 Februari 2007


Setelah seharian wira-wiri ngurusin persiapan bedah laparatomi – salfingo oovarektomi dextra : telpon asuransi, daftar kamar operasi, tes laboratorium, janji konsultasi dokter anestesi, dan administrasi pendaftaran rawat inap


 


 

11 comments:

  1. yang tabah ya neng. diikhlasin ya, semuanya pasti ada hikmahnya. ga semua perempuan yg diambil ovariumnya ga bisa melahirkan anak kok. contohnya shahnaz haque, dia udah punya anak 3.

    ReplyDelete
  2. Kakak irma pasti kuaaat!! :D
    Maaf ya ma, ga bs ikutan nengokin kmaren :)

    ReplyDelete
  3. sing tabah, ya bu..... :)
    sorry ga bisa nengok kmrn....

    ReplyDelete
  4. i know. ada juga yang sehat, lengkap alat reproduksinya, tapi nggak punya anak (kandung). semuanya yang nentukan kan Allah SWT. aku yakin dan percaya itu.

    tapi yang susah ngasih pengertian sama orang lain. apalagi yang mudah terpengaruh issue dan berita-berita nggak bener. ... as they re-consider me being their (future) in-law, as now i only have one ovarium. hah !

    ReplyDelete
  5. Patience and perseverance have a magical effect before which difficulties disappear and obstacles vanish (John Quincy Adams). Be strong always ya Ir :)

    ReplyDelete
  6. Nani percaya Irma pasti kuat menerima semuanya.
    Begitu kan saudarakoe :-)

    ReplyDelete
  7. yang tabah ya irma ... semua sudah ditentukan sama allah swt dibalik ini semua pasti ada hikmahnya, amin

    ReplyDelete
  8. ma oen percaya, kamu seorang yang 'strong' .... tetap berharap dan berserah padaNYA ya...

    ReplyDelete
  9. ketika Dia mengambil sesuatu dari kita, Dia pasti juga memberikan penggantinya, karena Dia Maha Adil.

    ReplyDelete
  10. yak tul ! jadi ingat kata-kata calon biarawati Maria dalam film the Sound of Music, ketika dia diperintahkan meninggalkan biara untuk menjadi pengasuh keluarga Von Trapp, "Jika Tuhan menutup pintu, Ia akan membuka jendela."

    jadi nggak salah kalau akhir-akhir ini irma suka ngejogrog di pinggir jendela. abisnya emang asik sih ngeliatin hujan. tapi kalau ada petir dan kilat menyambar, irma langsung nyungsep sembunyi di kolong meja :D

    ReplyDelete